Renungan sebelum bermaksiat
Ada seorang laki-laki mendatangi Ibrahim bin Adham, ia berkata, “ wahai imam, saya ingin bertobat dan meninggalkan seluruh dosa yang saya miliki. Jika suatu saat saya kembali melakukannya, tunjukanlah padaku terapi yang dapat menghindarkan aku bermaksiat kepada Allah.”
Apakah anda ingin seperti itu? Siapakah diantara kita yang tidak menginginkan bertaubat kepada Allah dan membuang seluruh dosa sejauh-jauhnya? Perhatikanlah dan camkanlah nasihat ibrahim bin adham secara sungguh-sungguh!
Ibrahim bin Adham berkata, “ jika anda ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah melakukannya diatas bumi-Nya!” maka laki-laki itu bertanya, “ dimanakah saya dapat bermaksiat terhadap-Nya?” “Di luar bumi-Nya.” Jawab ibrahim bin adham. “Bagaimana hal itu dapat terjadi, sedangkan bola bumi ini dalam genggaman-Nya?” Tanya lelaki tersebut. “ Tidakkah engkau malu bahwa bola bumi ini dalam genggaman-Nya namun engkau bermaksiat dia atas bumi-Nya? “ jawab Ibnu Adham
Kemudian ibrahim bin adham berkata, “ jika anda ingin bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah engkau memakan rezeki-Nya!”
Lalu laki-laki itu bertanya, “Maka, bagaimanakah saya dapat hidup?” ibrahim berkata, “ tidakkah anda malu memakan rezeki-Nya sedangkan anda bermaksiat kepada Allah?” kemudian Ibrahim melanjutkan perkataannya, “ jika anda bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka bermaksiatlah di suatu tempat yang Ia tidak melihatmu!”
Laki-laki itu bertanya, “ bagaimana bisa seperti, sedangkan Ia selalu bersama kita, dimanapun kita berada?” Ibrahim bin Adham menjawab,” Tidakkkah anda malu bermaksiat kepada-Nya sedangkan dia lebih dekat denganmu?”
“ Jika anda tetap bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka jika malaikat maut dating unruk mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya, “ Tunggulah sebentar sampai aku bertaubat!” kata Ibrahim bin Adham, “ Lantas, siapa yang memiliki kekuasaan menunda kematian seperti itu?” Tanya laki-laki itu.
Ibrahim berkata,”Tidakkah engkau malu, saat datang malaikat maut sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat?”
Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Jika anda enggan menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah, tiba-tiba datang malaikat zabaniah Jahannam menyeret anda masuk neraka, maka katakana kepada mereka, bahwa Anda tidak ingin pergi bersama mereka, maka Anda tidak ingin pergi bersama mereka!”
“ Bagaimana mungkin, saya bisa seperti itu?” Tanya laki-laki tersebut.
Akhirnya Ibrahim bin Adham mengkhiri wejangannya dengan mengatakan, “ Tidakkah Anda malu kepada Allah setelah mengetahui seluruh penjelasan ini?”
************
Sekarang, bacalah sekali lagi dan gantilah laki-laki tersebut dengan orang lain, yaitu anda sendiri. Setelah anda selesai membacanya, lontarkanlah satu soal kepada diri Anda, “Tidakkah anda malu kepada Allah?”
Lihatlah pada kasih sayang Allah dan malulah kepada-Nya! Tidakkah anda malu setelah penjelasan ini, jika anda tetap bersikeras bermaksiat lepada Allah maka masih ada satu lagi, lihatlah pada rahmat Allah yang diberikan untuk Anda agar mempunyai rasa malu dan lihat pula akan curahan kasih sayang-Nya dan suka cita-Nya kepada diri Anda.
Dikutip dari : Semulia akhlak nabi, oleh Amru Khalid, Terbitan : Aqwam
Selasa, Maret 04, 2008
Mengenal Tauhid
(Mengenal Tauhid : bag.4)
Tauhid Asma' dan Sifat
Tauhid jenis yang ketiga adalah tauhid asma' dan sifat. Tauhid ini mengandung pengertian beriman dengan setiap nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shohih yang Allah sendiri sifatkan dan yang disifatkan oleh Rosul-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam, secara hakiki tanpa ta'wil, takyiif (memvisualkan), ta'thil (menolak), tamtsil (menyerupakan), tafwiidh (menyerahkan maknanya kepada Allah). Seperti bersemayam, turun, tangan, datang dan sifat-sifat yang lain, yang penafsirannya sebagaimana para salaf telah sebutkan; Istiwa (bersemayam) penafsiranya disebutkan dari Abi Aliyah dan Mujahid dari kalangan tabi'in, dalam shohih bukhori bahwasanya istiwa itu maknanya Al-'Uluu wal Irtifa' (tinggi dan diatas) yang keduanya sesuai dengan keagungan-Nya. Firman Allah :
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS Asy-Syuura : 11)
Oleh karena itu tatkala Imam Malik ditanya tentang Istiwa maka beliau menjawab :" Istiwa itu maknanya sudah diketahui, caranya tidak diketahui dan iman kepadanya wajib sedang bertanya tentang ini hukumnya bid'ah." Yang maknanya : bahwa istiwa itu sudah diketahui yaitu tinggi dan diatas sesuai dengan keagunggan Allah, tidak ada yang mengetahui caranya kecuali Allah, yang pasti tidak menyerupai mahluk-mahluknya.
Ta'wil : Memalingkan ayat-ayat dan hadits shohih dari dzohirny ke makna lain yang bathil.Seperti istawa ke makna istaula (menguasai).
Ta'thil : Mengingkari sifat-sifat Allah dan meniadakannya, seperti sifat Al-'Uluu bagi allah diatas langit. Kelompok-kelompok yang sesat berkeyakinan bahwa Allah berada di setiap tempat.
Takyiif : Menanyakan tata cara sifat-sifat Allah. Tata cara sifat-sifat Allah begini dan begitu. Maka sifat Al-'Uluw Allah diatas langit dan Arsy-Nya tidak menyerupai mahluk-Nya dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
Tamtsil : Yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat mahluk-Nya, maka jangan mengatakan turun-Nya Allah ke langit dunia seperti turunnya kita. Tidak diketahui tempat dan dan cara turun-Nya kecuali Allah,
Tafwidh : Yaitu peniadaan penafsiran sifat Allah dan menganggapnya termasuk ayat-ayat mutsyabihat yang diserahkan penafsirannya kepada Allah, tidak ditafsirkannya sifat istiwa ini adalah bentuk peniadaan sifat Allah.
Makna Ar-rohman 'alal 'Arsy Istawa
Sesungguhnya Rosulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda pada haji wada' :
"dan kalian akan ditanya tentangku, maka apa yang akan kalian katakan : "Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan, menunaikan dan engkau telah menasihati." Maka Rosulullah menjawab sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada manusia, dan beliau bersabda "Allahumasyhad"
(ya Allah saksikanlah !) tiga kali"
Diriwayatkan Imam Muslim. Abu Hanifah -radliyallaahu 'anhu- ditanya tentang siapa yang berkata "saya tidak tahu Rabb-ku di langit atau di bumi ?" maka beliau menjawab dia telah kafir karena Allah berfirman
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy"
(QS Thohaa : 5)
Saya berkata :"jika dia mengatakan bahwasanya Allah diatas Arsy akan tetapi dia berkata: "saya tidak tahu Arsy itu di langit atau di bumi ?" maka beliau menjawab "dia kafir karena dia telah mengingkari" bahwasanya Allah di langit. Siapa yang mengingkari bahwasanya Allah di langit maka dia kafir ( Syarah Thohawiyah Hal.322).
Imam Bukhori dalam kitabnya At-tauhid menukil dari Abi Aliyah dan Mujahid tentang makna Firman Allah "tsumas tawa ilas samaa" yakni Al-'Uluu wal Irtifa' (diatas dan tinggi; maksudnya kemudian Allah bersemayam berada di langit).
Berkata ahli tafsir Imam Thobari tentang firman Allah Ar-Rahman 'alaa Arsy Istawa" yaitu Al-'uluu wal Irtifa', dan ditanya Abdullah Ibnu Mubarak "Bagaimana kita mengetahui Rabb kita ?" maka Abdullah menjawab sesungguhnya Allah diatas langit ketujuh diatas Arsy. Sesungguhnya telah diulang dalam Al-Qur'an tentang bersemayam diatas Arsy sebanyak tujuh kali yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam diatas Arsy-Nya, sifat yang sempurna bagi Allah, sifat tersebut memiliki kedudukan yang agung. Ketika Imam Malik ditanya tentang istawa beliau menjawab istawa itu maknanya sudah diketahui, caranya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib. Makna istawa itu sudah diketahui maksudnya secara bahasa, yaitu Al-'Uluu wal irtifa' di atas dan tinggi) tidak ada yang mengetahui caranya kecuali Allah dan tidak sama dengan mahluk-mahluk-Nya.
Tidak Boleh menafsirkan Istawa dengan arti istawla (menguasai), karena arti ini tidak didapatkan dalam bahasa arab.
Tauhid Asma' dan Sifat
Tauhid jenis yang ketiga adalah tauhid asma' dan sifat. Tauhid ini mengandung pengertian beriman dengan setiap nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shohih yang Allah sendiri sifatkan dan yang disifatkan oleh Rosul-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam, secara hakiki tanpa ta'wil, takyiif (memvisualkan), ta'thil (menolak), tamtsil (menyerupakan), tafwiidh (menyerahkan maknanya kepada Allah). Seperti bersemayam, turun, tangan, datang dan sifat-sifat yang lain, yang penafsirannya sebagaimana para salaf telah sebutkan; Istiwa (bersemayam) penafsiranya disebutkan dari Abi Aliyah dan Mujahid dari kalangan tabi'in, dalam shohih bukhori bahwasanya istiwa itu maknanya Al-'Uluu wal Irtifa' (tinggi dan diatas) yang keduanya sesuai dengan keagungan-Nya. Firman Allah :
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS Asy-Syuura : 11)
Oleh karena itu tatkala Imam Malik ditanya tentang Istiwa maka beliau menjawab :" Istiwa itu maknanya sudah diketahui, caranya tidak diketahui dan iman kepadanya wajib sedang bertanya tentang ini hukumnya bid'ah." Yang maknanya : bahwa istiwa itu sudah diketahui yaitu tinggi dan diatas sesuai dengan keagunggan Allah, tidak ada yang mengetahui caranya kecuali Allah, yang pasti tidak menyerupai mahluk-mahluknya.
Ta'wil : Memalingkan ayat-ayat dan hadits shohih dari dzohirny ke makna lain yang bathil.Seperti istawa ke makna istaula (menguasai).
Ta'thil : Mengingkari sifat-sifat Allah dan meniadakannya, seperti sifat Al-'Uluu bagi allah diatas langit. Kelompok-kelompok yang sesat berkeyakinan bahwa Allah berada di setiap tempat.
Takyiif : Menanyakan tata cara sifat-sifat Allah. Tata cara sifat-sifat Allah begini dan begitu. Maka sifat Al-'Uluw Allah diatas langit dan Arsy-Nya tidak menyerupai mahluk-Nya dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
Tamtsil : Yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat mahluk-Nya, maka jangan mengatakan turun-Nya Allah ke langit dunia seperti turunnya kita. Tidak diketahui tempat dan dan cara turun-Nya kecuali Allah,
Tafwidh : Yaitu peniadaan penafsiran sifat Allah dan menganggapnya termasuk ayat-ayat mutsyabihat yang diserahkan penafsirannya kepada Allah, tidak ditafsirkannya sifat istiwa ini adalah bentuk peniadaan sifat Allah.
Makna Ar-rohman 'alal 'Arsy Istawa
Sesungguhnya Rosulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda pada haji wada' :
"dan kalian akan ditanya tentangku, maka apa yang akan kalian katakan : "Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan, menunaikan dan engkau telah menasihati." Maka Rosulullah menjawab sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada manusia, dan beliau bersabda "Allahumasyhad"
(ya Allah saksikanlah !) tiga kali"
Diriwayatkan Imam Muslim. Abu Hanifah -radliyallaahu 'anhu- ditanya tentang siapa yang berkata "saya tidak tahu Rabb-ku di langit atau di bumi ?" maka beliau menjawab dia telah kafir karena Allah berfirman
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy"
(QS Thohaa : 5)
Saya berkata :"jika dia mengatakan bahwasanya Allah diatas Arsy akan tetapi dia berkata: "saya tidak tahu Arsy itu di langit atau di bumi ?" maka beliau menjawab "dia kafir karena dia telah mengingkari" bahwasanya Allah di langit. Siapa yang mengingkari bahwasanya Allah di langit maka dia kafir ( Syarah Thohawiyah Hal.322).
Imam Bukhori dalam kitabnya At-tauhid menukil dari Abi Aliyah dan Mujahid tentang makna Firman Allah "tsumas tawa ilas samaa" yakni Al-'Uluu wal Irtifa' (diatas dan tinggi; maksudnya kemudian Allah bersemayam berada di langit).
Berkata ahli tafsir Imam Thobari tentang firman Allah Ar-Rahman 'alaa Arsy Istawa" yaitu Al-'uluu wal Irtifa', dan ditanya Abdullah Ibnu Mubarak "Bagaimana kita mengetahui Rabb kita ?" maka Abdullah menjawab sesungguhnya Allah diatas langit ketujuh diatas Arsy. Sesungguhnya telah diulang dalam Al-Qur'an tentang bersemayam diatas Arsy sebanyak tujuh kali yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam diatas Arsy-Nya, sifat yang sempurna bagi Allah, sifat tersebut memiliki kedudukan yang agung. Ketika Imam Malik ditanya tentang istawa beliau menjawab istawa itu maknanya sudah diketahui, caranya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib. Makna istawa itu sudah diketahui maksudnya secara bahasa, yaitu Al-'Uluu wal irtifa' di atas dan tinggi) tidak ada yang mengetahui caranya kecuali Allah dan tidak sama dengan mahluk-mahluk-Nya.
Tidak Boleh menafsirkan Istawa dengan arti istawla (menguasai), karena arti ini tidak didapatkan dalam bahasa arab.
Mengenal Tauhid
(Mengenal Tauhid : bag.3)
Tauhid Uluhiyah
Masih dalam pembahasan tauhid uluhiyah, beberapa contoh jenis ibadah yang lain adalah:
• Istighotsah (minta pertolongan setelah ditimpa kesulitan)
Firman Allah Surat :
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".
(QS Al-Anfal : 9)
• Do'a
Firman Allah :
" Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat
(yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang
yang zalim". (QS Yunus : 106)
• Khauf (takut)
Firman Allah :
" Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran : 175)
• Roja' (berharap)
Firman Allah :
" Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS AS-Sajdah : 16)
• Rohbah (takut)
Firman Allah :
"Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". (QS AN-Nahl : 51)
• Khosyyah (takut)
Firman Allah :
" Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. " (QS Al-Maidah : 44)
• Roghbah (berharap) dan Rohbah (cemas)
Firman Allah :
" Maka Kami memperkenankan do`anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami." (QS Al-Anbiya : 90)
• Khusyu'
Firman Allah :
"Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. " (QS ALi Imron : 199)
• Mahabbah (cinta)
Firman Allah :
" Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al-Baqarah : 165)
Tauhid Uluhiyah
Masih dalam pembahasan tauhid uluhiyah, beberapa contoh jenis ibadah yang lain adalah:
• Istighotsah (minta pertolongan setelah ditimpa kesulitan)
Firman Allah Surat :
"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".
(QS Al-Anfal : 9)
• Do'a
Firman Allah :
" Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat
(yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang
yang zalim". (QS Yunus : 106)
• Khauf (takut)
Firman Allah :
" Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran : 175)
• Roja' (berharap)
Firman Allah :
" Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS AS-Sajdah : 16)
• Rohbah (takut)
Firman Allah :
"Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut". (QS AN-Nahl : 51)
• Khosyyah (takut)
Firman Allah :
" Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. " (QS Al-Maidah : 44)
• Roghbah (berharap) dan Rohbah (cemas)
Firman Allah :
" Maka Kami memperkenankan do`anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami." (QS Al-Anbiya : 90)
• Khusyu'
Firman Allah :
"Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. " (QS ALi Imron : 199)
• Mahabbah (cinta)
Firman Allah :
" Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al-Baqarah : 165)
Mengenal Tauhid
(Mengenal Tauhid : bag.2)
2. Tauhid Uluhiyah
Jenis Tauhid kedua adalah tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah sendiri mengandung arti mengesakan Allah dengan semua peribadatan yang disyariatkan. Segala peribadatan tersebut tidaklah boleh dipalingkan kepada siapapun, apakah nabi yang diutus atau malaikat yang mempunyai kedudukan dekat disisi Allah, terlebih lagi kepada yang lain.
Contoh dari ibadah antara lain thowaf, sholat, haji, puasa, nadzar, i'tikaf, menyembelih, sujud, ruku', khauf (rasa takut), raja` (rasa harap), senang, takut, khusu', istighosah (memohon pertolongan dikala kesempitan) atau jenis ibadah yang lainnya yang telah Allah syariatkan didalam Al-Qur'an dan telah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam syariatkan dalam sunnahnya yang shohih, baik perbuatan maupun ucapan.
Barang siapa memalingkan satu bentuk ibadah kepada selain Allah maka dia telah musyrik berdasarkan firman Allah
"Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah padahal tidak ada satu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung"
(QS. Al-Mu'minun :117)
Ibadah apabila didefinisikan secara bahasa maka ia bermakna merendahkan diri dan tunduk. Seperti ungkapan di dalam bahasa Arab "thoriq mu'abad" yaitu jalan yang sudah permanen (sudah diratakan dll).
Secara syar'i makna ibadah adalah sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu:
• Ketaatan kepada Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan Allah melalui lisan rosul-Nya.
• Beliau juga berkata ibadah adalah kata yang mencakup semua jenis perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun bathin, yang dicintai dan diridloi Allah.
Ada beragam ibadah yang disyariatkan oleh Islam diantaranya :
• Ruku' dan sujud. Firman Allah :
"Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan"
(QS Al-Hajj : 77)
• Sholat dan menyembelih. Firman Allah Surat :
"Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam " (QS Al-An'am : 162-163)
• Nazar dan thowaf. Firman Allah :
Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah) "
(QS Al-Hajj : 29)
• Sumpah Sabda Rosulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shohih:
"Barang siapa bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah musyrik" Diriwayatkan oleh Imam Ahmad
• Isti'anah (minta pertolongan) Firman Allah :
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan" (QS Al-Fatihah : 5)
Sabda Rosulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam:
"Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah dan apabila engkau beristi'anah (minta pertolongan) maka mintalah kepada Allah."
Mengenal Tauhid
Mengenal Tauhid (1)
Di dalam Al Quran, Allah menyebutkan tentang kata Al hanifiyah. Al hanifiyah sendiri sebenarnya adalah millah( agama) dari Bapak Tauhid yaitu Nabi Ibrahim. Bila didefinisikan al hanifiyah berarti beribadah (menyembah) Allah dengan segenap keikhlasan. Dan peribadatan kepada Allah ini merupakan perintah Allah kepada seluruh umat manusia. Firman Allah:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku".
(QS Adz-dzariat : 56)
Ayat ini pun menunjukkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun peribadatan sendiri menjadi bermakna, apabila tidak disertai dengan tauhid (mengesakan Allah). Dahulu umat-umat para nabi dan rasul beribadah, namun ibadah mereka tanpa makna karena mereka tidak mentauhidkan Allah. Dan ini pula sebab terjadinya konflik(permusuhan) antara para nabi dan umatnya. Allah pun menegaskan bahwa dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid ini.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyeru beribadahlah kepada Allah dan jauhi Thaghut( sesembahan selain Allah)"
Begitu urgennya masalah ini sehingga tidak wajar apabila kita bodoh terhadapnya. Untuk memudahkan pemahaman, para ulama mengklasifikasikan tauhid menjadi 3 yaitu:
• Tauhid Rububiyyah
• Tauhid Uluhiyyah
• Tauhid Asma' wa sifat
1. Tauhid Rububiyah. Yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan Nya, maksudnya adalah menyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'ala adalah Pencipta seluruh makhluk, Pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan. Jika seseorang meyakini tauhid jenis ini tidak otomatis menyebabkan seseorang keluar dari keadaan syirik ke dalam Islam dan tidak menjadikan haram darahnya serta tidak menjadikannya selamat dari neraka. Jenis tauhid ini telah diakui oleh kaum musyrikin zaman dahulu dan diakui pula oleh seluruh agama seperti Yahudi, Nasrani, al-shobiin atau orang-orang penyembah bintang atau dewa dan majusi, tidak ada yang mengingkari macam tauhid ini kecuali kelompok ad-dahriyah pada waktu dulu dan komunis pada zaman kita sekarang.
Dalil yang menunjukan pengakuan orang-orang musyrikin terhadap tauhid Rububiyah adalah firman Allah :
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi tentu mereka akan menjawab Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya" (QS Luqman : 25)
"Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, dan siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan, maka mereka akan menjawab Allah, maka katakanlah mengapa kamu tidak bertaqwa(kepada-Nya). Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah tuhan kamu yang sebenarnya maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan(dari kebenaran)" (QS Yunus : 31-32)
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui" (QS Az-Zuhruf : 9)
Di dalam Al Quran, Allah menyebutkan tentang kata Al hanifiyah. Al hanifiyah sendiri sebenarnya adalah millah( agama) dari Bapak Tauhid yaitu Nabi Ibrahim. Bila didefinisikan al hanifiyah berarti beribadah (menyembah) Allah dengan segenap keikhlasan. Dan peribadatan kepada Allah ini merupakan perintah Allah kepada seluruh umat manusia. Firman Allah:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku".
(QS Adz-dzariat : 56)
Ayat ini pun menunjukkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun peribadatan sendiri menjadi bermakna, apabila tidak disertai dengan tauhid (mengesakan Allah). Dahulu umat-umat para nabi dan rasul beribadah, namun ibadah mereka tanpa makna karena mereka tidak mentauhidkan Allah. Dan ini pula sebab terjadinya konflik(permusuhan) antara para nabi dan umatnya. Allah pun menegaskan bahwa dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid ini.
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul yang menyeru beribadahlah kepada Allah dan jauhi Thaghut( sesembahan selain Allah)"
Begitu urgennya masalah ini sehingga tidak wajar apabila kita bodoh terhadapnya. Untuk memudahkan pemahaman, para ulama mengklasifikasikan tauhid menjadi 3 yaitu:
• Tauhid Rububiyyah
• Tauhid Uluhiyyah
• Tauhid Asma' wa sifat
1. Tauhid Rububiyah. Yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan Nya, maksudnya adalah menyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta'ala adalah Pencipta seluruh makhluk, Pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan. Jika seseorang meyakini tauhid jenis ini tidak otomatis menyebabkan seseorang keluar dari keadaan syirik ke dalam Islam dan tidak menjadikan haram darahnya serta tidak menjadikannya selamat dari neraka. Jenis tauhid ini telah diakui oleh kaum musyrikin zaman dahulu dan diakui pula oleh seluruh agama seperti Yahudi, Nasrani, al-shobiin atau orang-orang penyembah bintang atau dewa dan majusi, tidak ada yang mengingkari macam tauhid ini kecuali kelompok ad-dahriyah pada waktu dulu dan komunis pada zaman kita sekarang.
Dalil yang menunjukan pengakuan orang-orang musyrikin terhadap tauhid Rububiyah adalah firman Allah :
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi tentu mereka akan menjawab Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya" (QS Luqman : 25)
"Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, dan siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan, maka mereka akan menjawab Allah, maka katakanlah mengapa kamu tidak bertaqwa(kepada-Nya). Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah tuhan kamu yang sebenarnya maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan(dari kebenaran)" (QS Yunus : 31-32)
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui" (QS Az-Zuhruf : 9)
AL-HASAN AL-BASHRI
AL-HASAN AL-BASHRI
"Bagaimana mungkin suatu kaum bisa tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!" (Maslamah bin Abdul Malik)
Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya "Khairah" telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu'minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, "Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?"
Khairah menjawab, "Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai."
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, "Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah 'al-Hasan.'"
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan.
Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena "Yasar" ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.
Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.
Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.
Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.
Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu'minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu'minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.
Saking cintanya Ummul mu'minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan diam karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu'minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.
Hubungan Ummahat mu'minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.
Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.
Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu'minin dengan kedua tangannya sambil melompat.
Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu'minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah SAW.
Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.
Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu'minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.
Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.
Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.
Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang 'Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.
Sehingga dia menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.
Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal.
Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.
Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, "Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain."
Maka aku berkata, "Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya."
Maka dia berkata, "Coba ceritakanlah apa yang anda miliki."
Lalu aku berkata,
"Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma'ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki."
Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!"
Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.
Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo'akan keberkahan untuknya.
Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir'aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir'aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu.
Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya."
Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa'id! cukup.!"
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, "Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!"
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti."
Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.
Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh 'izzah seorang mu'min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da'i yang menyeru kepada Allah."
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, "Kemari wahai Abu Sa'id! Kemarilah!", Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!." Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.
Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, "Engkau adalah tuannya para ulama' wahai Abu Sa'id.!"
Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?"
Maka al-Hasan menjawab, "Aku telah membaca (artinya) 'Wahai Pembelaku ni'matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.'"
Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.
Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya.
Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.
Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.
Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya'bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya.
Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?"
Maka asy-Sya'bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur.
Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa'id?"
Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta'ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.
Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."
Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya'bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.
Maka asy-Sya'bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
"Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."
Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.
Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.
Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.
Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya,
"Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
"Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'"
Pada hari Jum'at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya.
Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum'at di masjid Jami' yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang 'alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami' Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.
Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.
Catatan:
Sebagai bahan tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:
1- Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa'd: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
2- Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
3- Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
4-Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
5- Wafayat Al-A'yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
6- Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
7- Mizan Al-I'tidal: 1/254 dan setelahnya.
8- Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
9- Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
10- Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
11- Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
12- Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas.
"Bagaimana mungkin suatu kaum bisa tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!" (Maslamah bin Abdul Malik)
Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya "Khairah" telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu'minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, "Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?"
Khairah menjawab, "Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai."
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, "Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah 'al-Hasan.'"
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan.
Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena "Yasar" ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.
Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.
Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.
Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.
Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu'minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu'minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.
Saking cintanya Ummul mu'minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan diam karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu'minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.
Hubungan Ummahat mu'minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.
Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.
Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu'minin dengan kedua tangannya sambil melompat.
Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu'minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah SAW.
Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.
Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu'minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.
Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.
Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.
Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang 'Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.
Sehingga dia menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.
Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal.
Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.
Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, "Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain."
Maka aku berkata, "Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya."
Maka dia berkata, "Coba ceritakanlah apa yang anda miliki."
Lalu aku berkata,
"Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma'ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki."
Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!"
Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.
Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo'akan keberkahan untuknya.
Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir'aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir'aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu.
Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya."
Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa'id! cukup.!"
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, "Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!"
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti."
Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.
Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh 'izzah seorang mu'min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da'i yang menyeru kepada Allah."
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, "Kemari wahai Abu Sa'id! Kemarilah!", Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!." Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.
Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, "Engkau adalah tuannya para ulama' wahai Abu Sa'id.!"
Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?"
Maka al-Hasan menjawab, "Aku telah membaca (artinya) 'Wahai Pembelaku ni'matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.'"
Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.
Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya.
Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.
Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.
Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya'bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya.
Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?"
Maka asy-Sya'bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur.
Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa'id?"
Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta'ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.
Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."
Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya'bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.
Maka asy-Sya'bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
"Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."
Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.
Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.
Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.
Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya,
"Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
"Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'"
Pada hari Jum'at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya.
Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum'at di masjid Jami' yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang 'alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami' Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.
Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.
Catatan:
Sebagai bahan tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:
1- Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa'd: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
2- Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
3- Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
4-Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
5- Wafayat Al-A'yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
6- Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
7- Mizan Al-I'tidal: 1/254 dan setelahnya.
8- Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
9- Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
10- Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
11- Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
12- Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas.
ABU AIYUB AL-ANSHARI
"PEJUANG DI WAKTU SENANG ATAU PUN SUSAH"
Rasulullah memasuki kota Madinah, dan dengan demikian berarti beliau telah mengakhiri perjalanan hijrahnya dengan gemilang, dan memulai hari-harinya yang penuh berkah di kampung hijrah, untuk mendapatkan apa yang telah disediakan qadar nahi baginya, yakni sesuatu yang tidak disediakannya bagi manusia-manusia lainnya....
Dengan mengendauai untanya Rasulullah berjalan di tengah-tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan semangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu ...,berdesak-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya.
Rombongan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf; mereka mencegat jalan unta sembari berkata:
"Wahai Rasul Allah tinggallah anda pada kami, bilangan kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin ... !"
Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah: "Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanahan perintah ... !"
Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, lain ke kampung Bani Sa'idah, teuus ke kampung Bani Harits ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani 'Adi bin Najjar .... Setiap suku atau kabilah itu mencoba mencegat jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi shallallahu alaihi wasalam sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur di bibirnya ujarnya: "Lapangkan jalannya, harena ia terperintah ... !"
Nabi sebenamya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya .... Di atas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan nur-Nya ke seantero dunia .... Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan bata kasar ...,tidak terdapat di sana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya ... !
Tempat ini akan dihuni oleh seorang Mahaguru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan keselamatan bagi mereka yang berkata: -
"Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap di atas pendirian ... bagi mereka yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan itu dengan keaniayaan ...,bagi mereka yang mengikhlaskan Agama mereka semata-mata untuk Allah ...dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa....
Benarlah .... Rasul telah menyerahkan sepenuhnya pemilihan ini kepada qadar Ilahi yang akan memimpin langkah perjuangannya kelak .... Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya ... hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdo'a: -
"Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihhanlah untukhu... !"
Di muka rumah Bani Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, lain pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan ....
Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya ... ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk .... Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmat dan berkat.
Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan sama merasa iri atas nasib mujurnya
Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini ..., Abu Aiyub al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.
Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah .... Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai'at, yaitu bai'at yang diberkati dan terkenal dengan nama "Bai'at Aqabah kedua", maka Abu Aiyub ai-Anshari termasuk di antara tujuh puluh orang Mu'min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.
Dan sekarang ketika Rasululah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besamya telah melimpah kepada Abu Aiyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.
Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama ....Tetapi begitu Abu Aiyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa membayangkan dirinya akan tidur atau berdiri di suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah itu.
Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenankannya pengharapannya itu ....
Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya .... Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi semenjak itulah Abu Aiyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untukAllah Rabul 'alamin .... Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertempuran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi ... !
Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang ... dengan suara keras ataupun perlahan ... adalah firman Allah Ta'ala:
"Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit ... !" (Q·S.At-Taubat: 41)
Satu kali saja ... ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih... ! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu, katanya: -
"Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku ... !" Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam peperangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang di bawah benderanya dan membela kehormatannya... !
Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai'at oleh Kaum Muslimin .... Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Mu'awiyah,(Q.S.: At-Taubat: 41)
Abi Aiyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan para pejuang ....
Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya ... !
Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah .... Maka bertanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu'awiyah:
"Apa keinginan anda, wahai Abu Aiyub?"
Aneh, adakah di antara kita yang dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa keinginan Abu Aiyub itu...? Tidak sama sekali! Keinginannya sewaktu nyawa hendak berpindah dari tubuhnya ialah sesuatu yang sukar atau hampir tak kuasa manusia membayangkan atau mengkhayalkannya ... !
Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke arab musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya dan diketahuinyalab bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan yang mereka cari ... !
Apakah anda kira ini hanya lamunan belaka... ?Tidak;dan ini bukan khayalan, tetapi kejadian nyata, kebenaran yang akan disaksikan dunia di suatu hari kelak, di mana ia menajamkan pandangan dan memasang telinganya, hampir-hampir tak percaya terhadap apa yang didengar dan dilihatnya ... !
Dan sungguh, wasiat Abu Aiyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pandam pekuburan laki-laki besar, sungguh besar itu ... !
Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci ....Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata: "Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan... "
Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi kehidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran bayu di kala fajar datang menjelma ....
Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam yang terpateri dalam hatinya:
"Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah .... Jangan sehali-hali mengucaphan kata-kata yang menyebabhan engkau harus meminta ma'af ... ! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada di tangan orang lain... !"
Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah ... dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan .... Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah dan ketahanan orang yang hendak berpisah. Maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melambangkan kepahlawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: "Bawalah jasadku jauh-jauh ... jauh masuk ke tanah Romawi, kemudian kuburkan aku di sana ... !"
Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan, dan dengan mata hatinya dilihatnya bahwa wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya…...
Karena itulah ia menginginkannya sebagai tempat istirahatnya yang terakhir, yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan, dan dari bawah tanahnya yang subur, ia akan dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya, dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedang-pedangnya Sekarang ini ia masih terkubur di sana .... Tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang, atau ringkikan kuda! Keadaan telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju, sejak waktu yang lama .... Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan yang berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang di angkasa, bunyinya: -
"Allah Maha Besar....Allah Maha Besar.... "
Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut: -
"Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya ....Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya…!"
Rasulullah memasuki kota Madinah, dan dengan demikian berarti beliau telah mengakhiri perjalanan hijrahnya dengan gemilang, dan memulai hari-harinya yang penuh berkah di kampung hijrah, untuk mendapatkan apa yang telah disediakan qadar nahi baginya, yakni sesuatu yang tidak disediakannya bagi manusia-manusia lainnya....
Dengan mengendauai untanya Rasulullah berjalan di tengah-tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan semangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu ...,berdesak-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya.
Rombongan Nabi itu mula-mula sampai ke perkampungan Bani Salim bin Auf; mereka mencegat jalan unta sembari berkata:
"Wahai Rasul Allah tinggallah anda pada kami, bilangan kami banyak, persediaan cukup, serta keamanan terjamin ... !"
Tawaran mereka yang telah mencegat dan memegang tali kekang unta itu, dijawab oleh Rasulullah: "Biarkanlah, jangan halangi jalannya, karena ia hanyalah melaksanahan perintah ... !"
Kendaraan Nabi terus melewati perumahan Bani Bayadhah, lain ke kampung Bani Sa'idah, teuus ke kampung Bani Harits ibnul Khazraj, kemudian sampai di kampung Bani 'Adi bin Najjar .... Setiap suku atau kabilah itu mencoba mencegat jalan unta Nabi, dan tak henti-hentinya meminta dengan gigih agar Nabi shallallahu alaihi wasalam sudi membahagiakan mereka dengan menetap di kampung mereka. Sedang Nabi menjawab tawaran mereka sambil tersenyum syukur di bibirnya ujarnya: "Lapangkan jalannya, harena ia terperintah ... !"
Nabi sebenamya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya .... Di atas tanahnya bakal muncul suatu masjid yang akan memancarkan kalimat-kalimat Allah dan nur-Nya ke seantero dunia .... Dan di sampingnya akan berdiri satu atau beberapa bilik dari tanah dan bata kasar ...,tidak terdapat di sana harta kemewahan dunia selain barang-barang bersahaja dan seadanya ... !
Tempat ini akan dihuni oleh seorang Mahaguru dan Rasul yang akan meniupkan ruh kebangkitan pada kehidupan yang sudah padam, dan yang akan memberikan kemuliaan dan keselamatan bagi mereka yang berkata: -
"Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap di atas pendirian ... bagi mereka yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan itu dengan keaniayaan ...,bagi mereka yang mengikhlaskan Agama mereka semata-mata untuk Allah ...dan bagi mereka yang berbuat kebaikan di muka bumi dan tidak berbuat binasa....
Benarlah .... Rasul telah menyerahkan sepenuhnya pemilihan ini kepada qadar Ilahi yang akan memimpin langkah perjuangannya kelak .... Oleh karena inilah ia membiarkan saja tali kekang untanya terlepas bebas, tidak ditepuknya kuduk unta itu tidak pula dihentikan langkahnya ... hanya dihadapkan hatinya kepada Allah, serta diserahkan dirinya kepada-Nya dengan berdo'a: -
"Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihhanlah untukhu... !"
Di muka rumah Bani Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, lain pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tidak beranjak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan ....
Salah seorang Muslimin tampil dengan wajah berseri-seri karena sukacitanya ... ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya ke rumahnya kemudian mempersilakan Rasul masuk .... Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmat dan berkat.
Maka tahukah anda sekalian siapa orang yang berbahagia ini, yang telah dipilih taqdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan sama merasa iri atas nasib mujurnya
Nah, ia adalah pahlawan yang jadi pembicaraan kita sekarang ini ..., Abu Aiyub al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.
Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang pertamanya dengan Rasulullah .... Sebelum ini, yakni sewaktu perutusan Madinah pergi ke Mekah untuk mengangkat sumpah setia atau bai'at, yaitu bai'at yang diberkati dan terkenal dengan nama "Bai'at Aqabah kedua", maka Abu Aiyub ai-Anshari termasuk di antara tujuh puluh orang Mu'min yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.
Dan sekarang ketika Rasululah sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat bagi Agama Allah, maka nasib mujur yang sebesar-besamya telah melimpah kepada Abu Aiyub, karena rumahnya telah dijadikan rumah pertama yang didiami muhajir agung, Rasul yang mulia.
Rasul telah memilih untuk menempati ruangan rumahnya tingkat pertama ....Tetapi begitu Abu Aiyub naik ke kamarnya di tingkat atas ia pun jadi menggigil, dan ia tak kuasa membayangkan dirinya akan tidur atau berdiri di suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat berdiri dan tidurnya Rasulullah itu.
Ia lalu mendesak Nabi dengan gigih dan mengharapkan beliau agar pindah ke tingkat atas, hingga Nabi pun memperkenankannya pengharapannya itu ....
Nabi akan berdiam di sana sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya .... Dan semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serta mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi semenjak itulah Abu Aiyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untukAllah Rabul 'alamin .... Bahkan sesudah Rasul wafat pun, tak pernah ia ketinggalan menyertai pertempuran yang diwajibkan atas Muslimin sekalipun jauh jaraknya yang akan ditempuh dan berat beban yang akan dihadapi ... !
Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang ... dengan suara keras ataupun perlahan ... adalah firman Allah Ta'ala:
"Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun di waktu sempit ... !" (Q·S.At-Taubat: 41)
Satu kali saja ... ia absen tidak menyertai balatentara Islam, karena sebagai komandannya khalifah mengangkat salah seorang dari pemuda Muslimin, sedang Abu Aiyub tidak puas dengan kepemimpinannya. Hanya sekali saja, tidak lebih... ! Sekalipun demikian, bukan main menyesalnya atas sikapnya yang selalu menggoncangkan jiwanya itu, katanya: -
"Tak jadi soal lagi bagiku, siapa orang yang akan jadi atasanku ... !" Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam peperangan. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai prajurit dalam tentara Islam, berperang di bawah benderanya dan membela kehormatannya... !
Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, ia berdiri di pihak Ali tanpa ragu-ragu, karena ialah Imam yang telah dibai'at oleh Kaum Muslimin .... Dan tatkala Ali syahid karena dibunuh, dan khilafat berpindah kepada Mu'awiyah,(Q.S.: At-Taubat: 41)
Abi Aiyub menyendiri dalam kezuhudan, bertawakkal lagi bertaqwa. Tak ada yang diharapkannya dari dunia hanyalah tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan para pejuang ....
Demikianlah, sewaktu diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan dan dirindukannya ... !
Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya sedang berlomba dengan keinginannya hendak menemui Allah .... Maka bertanyalah panglima pasukan yang waktu itu Yazid bin Mu'awiyah:
"Apa keinginan anda, wahai Abu Aiyub?"
Aneh, adakah di antara kita yang dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa keinginan Abu Aiyub itu...? Tidak sama sekali! Keinginannya sewaktu nyawa hendak berpindah dari tubuhnya ialah sesuatu yang sukar atau hampir tak kuasa manusia membayangkan atau mengkhayalkannya ... !
Sungguh, ia telah meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh-jauh jarak yang dapat ditempuh ke arab musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, hingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya dan diketahuinyalab bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan dan keuntungan yang mereka cari ... !
Apakah anda kira ini hanya lamunan belaka... ?Tidak;dan ini bukan khayalan, tetapi kejadian nyata, kebenaran yang akan disaksikan dunia di suatu hari kelak, di mana ia menajamkan pandangan dan memasang telinganya, hampir-hampir tak percaya terhadap apa yang didengar dan dilihatnya ... !
Dan sungguh, wasiat Abu Aiyub itu telah dilaksanakan oleh Yazid! Di jantung kota Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul, di sanalah terdapat pandam pekuburan laki-laki besar, sungguh besar itu ... !
Hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang-orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci ....Dan anda akan tercengang jika mendapati semua ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata: "Orang-orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan... "
Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi kehidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tenteram laksana desiran bayu di kala fajar datang menjelma ....
Sebabnya ia pernah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam yang terpateri dalam hatinya:
"Bila engkau shalat, maka shalatlah seolah-olah yang terakhir atau hendak berpisah .... Jangan sehali-hali mengucaphan kata-kata yang menyebabhan engkau harus meminta ma'af ... ! Lenyapkan harapan terhadap apa yang berada di tangan orang lain... !"
Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah ... dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan .... Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah dan ketahanan orang yang hendak berpisah. Maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melambangkan kepahlawanan dan kebesarannya selagi hidupnya: "Bawalah jasadku jauh-jauh ... jauh masuk ke tanah Romawi, kemudian kuburkan aku di sana ... !"
Ia yakin sepenuhnya akan kemenangan, dan dengan mata hatinya dilihatnya bahwa wilayah ini telah termasuk dalam taman impian Islam, dalam lingkungan cahaya dan sinarnya…...
Karena itulah ia menginginkannya sebagai tempat istirahatnya yang terakhir, yakni di ibukota negara itu, di mana akan terjadi pertempuran yang menentukan, dan dari bawah tanahnya yang subur, ia akan dapat mengikuti gerakan tentara Islam, mendengar kepakan benderanya, dan bunyi telapak kudanya serta gemerincing pedang-pedangnya Sekarang ini ia masih terkubur di sana .... Tetapi tidak lagi mendengar gemerincing pedang, atau ringkikan kuda! Keadaan telah berlalu, dan kapal telah berlabuh di tempat yang dituju, sejak waktu yang lama .... Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang didengarnya suara adzan yang berkumandang dari menara-menaranya yang menjulang di angkasa, bunyinya: -
"Allah Maha Besar....Allah Maha Besar.... "
Dan dengan rasa bangga, di dalam kampungnya yang kekal dan di mahligai kejayaannya ia menyahut: -
"Inilah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya ....Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya…!"
Langganan:
Postingan (Atom)

