web 2.0
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2008

Buta Islam, Bagaimana Mengobatinya?


Islam adalah agama ilmu dan pengajaran, agama yang nyata dan jelas. Setiap Muslim memiliki ilmu yang pasti dan benar yang tidak dimiliki oleh pakar-pakar dan budayawan-budayawan non-Muslim.

Dia mengetahui bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dia juga mengetahui; bagaimana awal mula penciptaan manusia, untuk apa diciptakan, dan kemana akan kembali.

Seorang Muslim juga beriman (percaya dan membenarkan) adanya kebangkitan setelah kematian. Adanya surga dan neraka. Ini adalah sebagian ilmu yaqini (pasti kebenarannya) yang tidak seorang pun memilikinya selain Muslim.

Karenanya, bukan sesuatu keanehan jika ayat pertama dari Al-Quran yang diturunkan berkaitan dengan perintah untuk membaca, di mana ia merupakan alat untuk mendapatkan ilmu:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-Alaq: 1).

Dan juga bukan suatu yang mengherankan jika Allah Ta’ala mengokohkan manusia dengan mengajarinya tentang Al-Qur’an, sebelum dikuatkan penciptaan dan pengadaannya

"(Tuhan) Yang Mahapemurah. Yang mengajarkan Al-Quran. Dialah yang menciptakan manusia." (QS. Ar-Rahman: 1-3).

Dengan membaca nash-nash (baik ayat maupun hadits) yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan dorongan untuk memperolehnya, seorang Muslim akan sampai kepada arti pentingnya ilmu, bahwa ilmu yang sangat perlu untuk dicari adalah ilmu tentang Allah, ayat-ayat, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Dia merupakan santapan bagi jiwa, menggembirakan hati, dan sebab yang mengantarkan kepada keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nilai Sebuah Ilmu
Manakala ilmu menjadi landasan maka ukuran-ukuran pun tepat dan timbangan-timbangan pun lurus. Ilmu (ilmu agama) merupakan barometer dan pondasi di mana ilmu-ilmu yang lain dibangun di atasnya dari tempat keluarnya. Allah Ta’ala berfirman, artinya:

“Katakan, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 9).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, artinya:

"Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujaadalah: 11).

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui haditsnya bersabda, artinya,

“Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)

Dalam sabdanya yang lain beliau juga bersabda,

“Keutamaan orang berilmu dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan dengan bintang-bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sabda beliau yang lain,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Sebuah Ironi
Kita sama sekali tidak mengecilkan arti pentingnya ilmu-ilmu dunia. Ia tetap mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kaum Muslimin. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Seperti halnya keterbelakangan kaum Muslimin dalam ilmu-ilmu ini, mempunyai andil bagi lemahnya kaum Muslimin. Ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh umum. Akan tetapi kita tidak setuju dengan orang yang menjadikan ilmu dunia sebagai pondasi bagi kemajuan dan ukuran keutamaan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, serta lebih mengedepankannya dari ilmu-ilmu syariah yang beraneka-ragam.

Mengapa kita tidak saling bertanya apa yang menyebabkan kaum Muslimin buta terhadap urusan-urusan agama mereka? Dan ketidaktahuan mereka terhadap kaedah-kaedah agama Islam yang paling sederhana sekalipun? Ini merupakan suatu keadaan aneh yang perlu segera dihentikan, serta disembuhkan dari pengaruhnya yang buruk.

Merupakan suatu hal yang menyakitkan, pada hari ini kita mendapati di kalangan umat Islam, orang yang mampu menulis dan berbicara tentang segala sesuatu secara mendalam serta bebas, dalam masalah ekonomi, politik, sastra, dan kebudayaan. Akan tetapi ia tidak mampu untuk menjabarkan (bukan sekadar hapal) pengertian Islam dan rukun-rukunnya, rukun iman dan dasar-dasarnya, tauhid dan macam-macamnya, pembatal-pembatal keislaman, demikian juga shalat beserta rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Di antara kaum Muslimin sekarang ada orang yang mempunyai ijazah bertumpuk-tumpuk dan gelar berderet-deret, telah mencapai usia separuh baya akan tetapi hampir tidak mampu untuk mengucapkan satu huruf Al-Quran, apalagi untuk membaca satu surat dari Al-Quran dengan tartil (sesuai kaedah-kaedah tajwid). Suatu pemandangan yang menyedihkan memang.

Obat yang Tepat
Sesungguhnya berterus terang tentang penyakit yang diidap merupakan pintu pertama pengobatan. Dan mengakui kekurangan kita dalam mempelajari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya merupakan jalan pertama untuk memperbaiki dan meluruskannya.

Allah Ta’ala tidaklah membebani kita dengan beban yang berat. Kita tidak harus mengetahui semua permasalahan dalam agama Islam hingga masalah yang sekecil-kecilnya, tidak demikian. Cukuplah bagi kita seperti yang ditunjukkan firman Allah berikut ini, artinya:

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122).

Perlu ditekankan di sini, hal ini tidak berarti seorang Muslim itu berpaling dan membiarkan dirinya tidak mempelajari pokok-pokok dan akidah-akidah agama Islam.

Tanyakan kepada diri kita sendiri, berapa jam dalam satu pekan kita mengkhususkan untuk membaca Al-Quran serta mempelajarinya? Berapa waktu yang kita luangkan dalam satu pekan untuk mengkhususkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, atau ceramah-ceramah agama? Apakah kita mengambil manfaat dari perkembangan teknologi komunikasi untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat, melalui kaset, buku, dan situs-situs informasi dunia? Atau memfokuskan diri kita untuk belajar pada institusi pendidikan Islam yang mengkaji Islam secara komprehensif?

Kesibukan para as-salaf as-shaleh (pendahulu-pendahulu kita dari sahabat, tabi’in, dan yang mengikutinya—semoga Allah meridhai mereka semua—dengan pekerjaan-pekerjaan hariannya, tidak melalaikan mereka untuk menyisihkan sebagian dari waktunya untuk menuntut ilmu syar’i. Urusan itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Ia membutuhkan keikhlasan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman, artinya:

"Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu." (QS. Al-Baqarah: 282).


Perkara ini juga membutuhkan langkah awal untuk memulainya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga..” (HR. Muslim)

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, Dia akan membuat orang itu paham terhadap agama Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, semoga keselamatan dan kesejahteraan Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad salallahu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Oleh : DR. ‘Aadil ibn ‘Ali As-Syuddie(Pengajar Pada Fakultas Kebudayaan Islam Universitas Malik Su’ud Riyadh- Kerajaan Saudi Arabia)
Sumber : “Yayasan Al-Sofwa” (Al Fikrah)



Sabtu, Mei 24, 2008

Hakikat Yang Terlupakan Dari Imam Asy-Syafi'i Dan Kesamaan Aqidah Imam Empat

HAKIKAT YANG TERLUPAKAN DARI IMAM ASY-SYAFI’I

Oleh
Syaikh Dr Muhammad bin Musa Al-Nashr



Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar dan salah satu dari empat imam besar, yang ilmunya telah tersebar di penjuru dunia, serta jutaan kaum muslimin di negara-negara Islam, seperti Iraq, Hijaz, Negeri Syam, Mesir, Yaman dan Indonesia bermadzhab dengan madzhabnya.

Faktor yang menyebabkan saya memilih pembahasan ini, karena mayoritas kaum muslimin di negeri ini atau di negara ini berada di atas madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah furu’, dan hanya sedikit dari mereka yang berada di atas madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah ushul. Ironisnya ini menjadi fenomena.

Kita mendapati sejumlah orang mengaku bermadzhab Imam Malik dalam masalah furu’, namun tidak memahami dari madzhab beliau kecuali tidak bersedekap dalam shalat. Mereka menyelisihi aqidah Imam Malik yang Sunni dan Salafi.

Juga kita mendapati selain mereka mengaku berada di atas madzhab Imam Asy-Syafi’i dalam masalah furu’, dan tidak memahami dari madzhabnya kecuali masalah menyentuh wanita membatalkan wudhu. Dan, seandainya isterinya menyentuh walaupun tidak sengaja, maka ia sangat marah sembari berteriak : “Sungguh kamu telah membatalkan wudhu’ ku, wahai perempuan !”. Apabila ditanya, tentang siapakah Imam Asy-Syafi’i tersebut, siapa namanya dan nama bapaknya, niscaya sebagian mereka tidak dapat memberikan jawaban kepadamu, dan ia tidak mengenal tokoh tersebut ; dalam masalah aqidah, ia menyelisihi aqidah Imam Asy-Syafi’i, dan dalam masalah furu’ ia tidak mengerti dari madzhab beliau kecuali sangat sedikit.

Demikian juga, jika engkau mendatangi banyak dari pengikut madzhab Hanabilah kecuali yang tinggal di menetyap di Jazirah Arab dan sekitarnya dari orang yang terpengaruh oleh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang mujaddid (pembaharu) abad ke -12 Hijriyah. Kita mendapati, kebanyakan dari pengikut madzhab Ahmad di negeri Syam dan yang lainnya, mereka tidak mengetahui Aqidah Ahmad bin Hambal, sehingga engkau mendapati mereka dalam aqidahnya berada di atas madzhab Asy’ariyah atau Mufawwidhah. Padahal Imam Ahmad bin Hambal adalah seorang Salafi dan imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau menetapkan nama dan sifat bagi Allah tanpa takyif, tamtsil dn tasybih.

Demikian juga pengikut madzhab Hanafiyah yang tinggal di wilayah India, negara-negara a’jam, Turki, Asia Timur, dan negara-negara Kaukasus serta lainnya. Kita mendapati mereka berada di atas madzhab Imam Abu Hanifah dalam masalah furu’, namun mereka tidak berada di atas madzhab Imam Abu Hanifah dalam masalah ushul. Mereka tidak beragama dengan aqidah imam besar ini dalam permasalahan tauhid, nama dan sifat Allah.

Empat Imam besar ini (aimmat al-arba’ah) tidak berbeda dalam masalah aqidah, tauhid dan ushul kecuali sedikit yang Abu Hanifah tergelincir padanya. Yaitu dalam masalah iman, tetapi kemudian beliau rujuk dan kembali kepada ajaran yang difahami para imam lainnya, seperti Asy-Syafi’i, Malik dan Ahmad bin Hanbal

[Diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Al-Nashr, dalam pengantar pelajaran Aqidah Imam Syafi’i, yang disampaikan dalam “Daurah Syar’iyah Lil Masa’il Al-Aqdiyah wal Manhajiyah”, pada hari Kamis 7 Februari 2008M yang diadakan oleh Ma’had Aaliy Ali bin Abi Thalib bekerja sama dengan Markaz Al-Albani, Yordania]


KESAMAAN AQIDAH IMAM EMPAT


Oleh
Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais



Aqidah imam empat, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Adalah yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para sahabat dan tabi’in. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah ushuluddin. Mereka justru sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Allah, bahwa Al-Qur’an itu dalam Kalam Allah, bukan makhluk dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.

Mereka juga mengingkari para ahli kalam, seperti kelompok Jahmiyyah dan lain-lain yang terpengaruh dengan filsafat Yunani dan aliran-aliran kalam. Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah menuturkan, “… Namun rahmat Allah kepada hamba-Nya menghendaki, bahwa para imam yang menjadi panutan umat, seperti imam madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiyyah dalam masalah Al-Qur’an, dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.

Mereka sepakat seperti keyakinan para ulama Salaf, di mana antara lain, bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat, Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.[1]

Imam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan, para imam yang masyhur itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk. Dan bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat. Inilah madzhab para Sahabat dan Tabi’in, baik yang termasuk Ahlul Bait dan yang lain. Dan ini juga madzhab para imam yang banyak penganutnya, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Laits bin Sa’ad, Imam Al-Auza’i, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Ahmad.[2]

Imam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafi’i. Jawab beliau, “Aqidah Imam Syafi’i dan aqidah para ulama Salaf seperti Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Auza’i, Imam Ibnu Al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam Al-Fudhal bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdullah At-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam Ushuluddin (masalah aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qadar dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para imam tersebut di atas. Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan tabi’in, yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. [3]

Aqidah inilah yang dipilih oleh Al-Allamah Shidiq Hasan Khan, dimana beliau berkata : “ Madzhab kami adalaha mazhab ulama Salaf, yaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk dan menjadikan Allah dari sifat-sifat kekurangan, tanpa ta’thil (meniadakannya makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah). Mazdhab tersebut adalah madzhab imam-imam dalam Islam, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Imam Ats-Tsauri, Imam Ibnu Al Mubarak, Imam Ahmad dan, lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai ushuludin. Begitu pula Imam Abu Hanifah, beliau sama aqidahnya dengan para imam diatas, yaitu aqidah yang sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.”[4]

[Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad) oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
__________
Footnotes
[1]. Kitab Al-Iman, hal. 350-351, Dar ath-Thiba’ah al-Muhammadiyyah, Ta’liq Muhammad
[2]. Manhaj As-Sunah, II/106
[3]. Majmu’al-Fatawa, V/256
[4]. Qathf Ats-tsamar, hal. 47-48
almanhaj.or.id


Sabtu, April 26, 2008

Maka Bertanyalah...

Diantara hal yang sejalan dengan akal sehat kita adalah bahwa ucapan seseorang atau kelompok manapun dalam suatu masalah tidak akan begitu saja kita terima kecuali bila yang mengucapkannya adalah orang-orang yang menguasainya atau ahlnyai. Hal ini sangat jelas. Oleh karena itu, anda tidak akan pernah melihat orang yang sedang sakit gigi mau menerima resep obat selain dari dokter gigi, itupun kalau mungkin yang di datanginya adalah dokter yang berpengalaman.

Salah seorang di antara kita pasti enggan untuk menyerahkan barang berharga sebutlah misalnya mobil mewahnya yang rusak kepada tukang-tukang servis dan bengkel pemula, dia tidak akan rela menyerahkannya kecuali kepada dealer resmi yang profesional. Demikian pula seorang investor atau pemilik modal akan sangat berhati-hati dalam menginvestasikan atau menanam sahamnya dalam suatu usaha bersama.

Maka adalah aneh dan sesuatu yang patut untuk dipertanyakan, bagaimana mungkin ada orang yang mau saja menerima ajaran agama yang mereka yakini sebagai pedoman untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhiratnya dari orang-orang yang tidak jelas, tanpa proses pengecekan dan penelitian terlebih dahulu.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan di minta pertanggung jawabannya”. (QS. Al Israa: 36).

Kita juga melihat manusia secara umum akan segan berbicara tentang suatu urusan dunia ketika di depannya ada orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam suatu masalah. Sebagaimana orang segan berbicara masalah obat suatu penyakit ketika di depannya ada dokter. Mereka segan berbicara masalah arsitektur suatu bangunan ketika ada arsitek di depannya. Tetapi sangat disayangkan ada banyak orang yang tidak segan berbicara masalah agama, padahal dia bukan ahlinya, seperti para artis, pelawak, dukun, paranormal, musisi dan lainnya yang berbicara tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain. Padahal ketika ia berbicara, sadar ataupun tidak bahwa dia selalu di awasi oleh pencipta agama yang haq ini, yang Maha Melihat, Maha Mengetahui lintasan dan bisikan hati dan benak manusia. Tak sesuatupun luput dari pengawasanNya dan yang mempunyai perhitungan yang sangat cepat dan rinci.

Telah banyak bencana yang terjadi dewasa ini diakibatkan suburnya kebiasaan ucapan tanpa merujuk kepada sumber pengambilan dalil hukum yang sah dan adil seputar masalah-masalah agama yang penting dan selayaknya ummat Islam mengetahuinya, Demikianlah, jika terhimpun pada kebanyakan orang tiga hal, yakni lemahnya kemauan dalam mengkaji ilmu agama dan ketika manusia lebih cenderung untuk memperturutkan hawa nafsu. Ditambah lagi dengan tindakan terlalu berani dikalangan orang-orang yang tidak mempunyai kapasitas ilmu yang di akui dalam Islam, maka manusia akan ditimpa oleh bencana besar dan terjadilah kerusakan-kerusakan sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Muhammad Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa kelak manusia akan menjadikan orang-orang yang jahil sebagai pemimpin, mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa landasan ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Semestinya, setiap pribadi Muslim mengetahui dan menyadari kapasitas dirinya dan lebih berkonsentrasi memikirkan bagaimana ia dapat melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba dalam beribadah kepada Rabbnya dengan maksimal sambil menjaga kualitasnya dengan terus menuntut ilmu.

Berapa banyak terjadi praktek kesyirikan oleh karena lisan-lisan yang tidak bertanggung jawab? Berapa banyak praktek dan model-model peribadatan namun tidak ada dasarnya, tanpa contoh dan perintah dari pembawa risalah agama ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam! Dan berapa banyak terjadi perpecahan dan hati-hati yang menjadi tercerai-berai karenanya?

Dalam hal ini betapa syariat Islam sangat menghargai dan menekankan pentingnya berilmu sebelum berkata dan beramal. Seorang Muslim yang baik adalah yang berkata dan berbuat atau bertindak berdasarkan pengetahuan, bukan latah, ikut-ikutan dan asal dalam melangkah. Dalam bahasa modernnya, pribadi Muslim adalah pribadi yang profesional, berbuat berdasarkan ilmu (Bashirah) yang profesional dan matang.

Seseorang yang ditanya siapapun Dia seharusnya menjawab pertanyaan yang tidak ia ketahui dengan jujur dan sportif mengakui bahwa ia memang tidak tahu (”saya tidak tahu”. “Wallahu A’lam” atau yang semakna dengannya). Karena hal itu lebih baik akibatnya, lebih selamat dan merupakan tanda kebaikan agama seseorang.

Jika orang-orang awam yang bukan Ulama bertindak mengambil alih wewenang Ulama, maka hal tersebut menunjukkan kekurangan akal dan adab bagi pelakunya, meskipun ia memiliki banyak kelebihan dari sisi dunia yang menonjol yang mungkin hal tersebutlah yang membuatnya berani berbicara pada hal-hal diluar kapasitasnya seperti pada masalah Agama.

Sementara itu, kenyataan yang terjadi di masyarakat kita umumnya, tidak bisa membedakan mana fatwa yang benar dan mana fatwa yang menyimpang. Kondisi kebodohan ummat tersebut menjadi lahan yang subur dan menggairahkan bagi mereka yang senang mengail di air yang keruh. Maka semakin banyak orang yang baru belajar Islam serta merta menjadi penceramah. Apalagi jika pandai memberi bumbu ceramahnya dengan lelucon, ia akan cepat mengorbit.

Sungguh jika kita mengabaikan permasalahan fatwa tanpa kaidah, aturan dan batasan, maka setiap orang akan mengharamkan dan menghalalkan apa saja sesuka hatinya.

Adalah kewajiban pemimpin dikalangan kaum Muslimin untuk mengingatkan dan menindak tegas orang-orang yang sok tahu padahal sebenarnya jahil tersebut untuk menjaga kemurnian Islam dari kerancuan, keragu-raguan, kebodohan dan perpecahan. Sebagaimana demi memelihara kesehatan tubuh masyarakat luas, maka orang-orang yang sok tahu tentang masalah pengobatan harus di cekal, tidak boleh membuka praktek dan dikenakan sanksi tegas sebagai pelajaran bagi orang-orang dibelakangnya.

-Ajaran Islam yang haq ini diambil dari mata air yang jernih dan murni yaitu Al Qur’an dan petunjuk (baca: sunnah) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melalui lisan dan karya pewaris Nabi (baca: Ulama) yang mengambilnya dengan adab-adab yang mulia dan tangan yang suci dari kotoran

Sumber : wahdah.or.id