web 2.0
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 24, 2008

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Saat ini, keberadaan maksiat dipandang sebagai sebuah tradisi yang wajar. Bahkan dianggap kebutuhan pokok oleh sekelompok orang. Walhasil, pancaindera kita pun akrab dengan pelbagai bentuk kemaksiatan. Mulai dari yang kecil hingga yang serius. Padahal Islam mengajarkan, maksiat betapa pun kecil dan remeh bentuknya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan pribadi pelakunya dan masyarakat. Tak hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia.


Mungkin seorang yang bermaksiat mendapatkan kesenangan saat melakukan kemaksiatan itu. Mungkin juga ia mendapatkan kenikmatan yang dirasakan ketika tengah berkubang dalam kemaksiatan tersebut. Namun, kesenangan yang dirasakannya itu hanyalah kesenangan yang menipu.

Kenikmatan yang dirasakan itu tak lain adalah kenikmatan palsu. Semua itu karena pelaku maksiat tersebut hanya akan membuat murka Allah, Dzat yang telah menciptakan dirinya. Sekaligus menantang permusuhan kepada-Nya. Pelaku maksiat juga telah menyerobot sesuatu yang bukan menjadi hak dia untuk dikerjakan. Sehingga, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan damai? Dan bagaimana jiwanya bisa tenang? Sedangkan Allah سبحانه وتعلى berfirman di dalam Al-Qur’an, artinya:

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa: 14).

PENYEBAB UTAMA KEMAKSIATAN
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang besar maupun yang kecil ada tiga, yaitu:

Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah. Kedua, menuruti dorongan amarah. Ketiga, menuruti dorongan syahwat. Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan keji.

Bentuk keterkaitan hati kepada selain Allah cabang-cabangnya begitu banyak dan tingkatan tertinggi di cabang tersebut ialah syirik serta mengakuai keberadaan ilah selain Allah. Sedangkan bentuk menuruti dorongan amarah juga memiliki cabang-cabang di ataranya membunuh jiwa yang diharamkan Allah, inilah cabang tertinggi. Dan bentuk menuruti dorongan syahwat yang tertinggi dalam cabang-cabangnya ialah melakukan perbuatan zina. Oleh karena itulah Allah mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,…" (QS. Al-Furqan: 68).

Ketiga perbuatan di atas saling tarik menarik. Syirk menarik seseorang kepada kezhaliman dan perbuatan keji, sebagaimana ikhlas dan tauhid akan menjauhkan seseorang dari kezhaliman dan kekejian itu. Demikian juga kezhaliman, ia menarik seseorang pada syirik dan pebuatan keji, sebab syirik adalah puncak dari segala kezhaliman seperti yang difirmankan oleh Allah:

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Dan perbuatan keji itu sendiri juga dapat menyeret pelakunya kepada perbuatan syirik dan kezhaliman. Ketiganya saling berkaitan, yang satu mengajak kepada yang lain. Jika perbuatan ketiga di atas ada di dalam diri seseorang maka itu adalah akar dari kemaksiatan yang akan menjadi besar ketika seseorang itu tidak mengetahuinya.

AKIBAT MAKSIAT
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberitahukan kepada kita, bahwa perbuatan dosa dan maksiat bisa membahayakan hati seseorang. Efek ini akan semakin parah jika pelaku kemaksiatan itu makin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, serta enggan beristighfar dan bertaubat. Sebaliknya, efek negatif ini akan semakin menyusut seiring dengan berkurangnya maksiat, disertai dengan istghfar dan taubatan nashuha.

Di hari kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dahsyatnya hari tersebut, kecuali orang yang menghadap Rabb-nya dengan hati yang bersih dari syubhat yang menyesatkan, dan syahwat yang mencelakakan. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,

"Di hari harta dan anak-anak laki-laki tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-syu’ra : 88-89).

Dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga menggambarkan hati seseorang ketika melakukan kemaksiatan dan seseorang yang sering beristghfar, beliau bersabbda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُه
ُ


"Sesungguhanya seorang mukmin jika melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya noktah hitam. Maka jika ia tidak mengulanginya lagi dan beristighfar dan bertaubat, hatinya akan kembali putih bersih." (HR. Ahmad).

Begitulah gambaran orang-orang yang melakukan kemaksiatan, apabila seorang pelaku maksiat terus-menerus mengerjakan dosa, maka perbuatannya itu akan menutup hatinya sehigga ia tidak dapat menerima kebenaran kecuali dengan izin-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ran (tutup) seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, artinya,

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Jadi orang-orang yang sering melakukan maksiat maka hatinya akan sulit menerima kebenaran, walaupun seluruh manusia dan jin dikumpulkan di permukaan bumi ini untuk memberikan ketenangan pada hatinya atau kebenaran maka mereka takkan sanggup. Karena hanya Allahlah yang dapat memberikan ketenangan hati kepada hamba-hamba-Nya.

Allah سبحانه وتعلى juga mengancam dengan neraka Jahannam-Nya bagi orang-orang yang tidak mempergunakan hatinya, matanya dan telinganya dengan baik. Seperti di dalam firman-Nya, artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan menusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raf: 179).

MAKSIAT BESELUBUNG TAKDIR
Pelaku maksiat ketika ditanyakan kepadanya, mengapa Anda terus-menerus melakukan kemaksiatan? Maka mereka pun berdalih, “Kalau memamang Allah telah menakdirkanku untuk berbuat maksiat sebelum aku diciptakan bahkan sebelum langit dan bumi diciptakan bagaimana mungkin aku menghindari sesuatu yang telah ditakdirkan-Nya terjadi padaku?" Maka apa jawaban kita kepada mereka yang berdalih seperti itu?

Dengan tegas kita katakan kepadanya bahwa Al Qur’an telah menjelaskan kebatilan dalih mereka. Juga telah mematahkan anggapan dan pemahaman keliru mereka, serta menerangkan bahwa semua itu tidak ada gunanya bagi mereka pada hari kiamat kelak. Masalah takdir adalah masalah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah. Masalah takdir baru akan diketahui oleh selain-Nya setelah takdir tersebut terjadi. Lalu dari mana seorang pelaku maksiat mengetahui kalau Allah telah menakdirkannya melakukan maksiat, sehingga ia dengan sesuka hati melakukan kemaksiatan?

Allah سبحانه وتعلى telah memuliakan manusia dengan memberikan mereka akal dan pemahaman. Dia juga telah menurunkan kitap suci dan mengutus para rasul untuk memberikan penjelasan kepada kaumnya agar mereka mudah memahami dengan benar antara yang haq dan yang batil. Tidak hanya sampai di situ, Allah سبحانه وتعلى juga menganugerahkan kepada hamba-Nya rasa iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan), di mana keduanya bisa ia pergunakan untuk menempuh salah satu jalan dari dua jalan yang ada.


Misalnya, ketika seseorang diperhadapkan dengan suatu masalah. Yaitu ketika seseorang ingin mengadakan suatu perjalanan ke suatu negeri, dan dia memiliki dua alternatif jalan yang bisa dilewatinya. Yang pertama, jalan yang sangat mudah lagi aman. Sedangkan jalan yang kedua, jalan yang sulit dan penuh bahaya, maka secara akal sehat pasti orang itu lebih memilih jalan yang pertama dan tidak memilih melewati jalan yang kedua. Bukankah seandainya jika dia memilih jalan yang kedua dan berdalih bahwa yang demikian sudah ditakdirkan oleh Allah terjadi padanya, tentulah orang-orang akan mengatakan kepadanya sebagai orang yang tidak memiliki “akal sehat”? Mengapa? Karena ia sudah tahu masalah tersebut sebelum ia mengerjakanya. Jadi ketika suatu kemaksiatan yang sudah diketahui dampak keburukannya bagi seseorang, mengapa masih dikerjakan?


Sebenarnya persoalan ini sudah jelas titik terangnya. Namun hawa nafsu pelaku maksiat itulah yang membutakan dan menulikan jiwanya. Dan dalih yang dipakai oleh si pelaku maksiat untuk membenarkan maksiatnya kepada Allah itu tidak bisa dibenarkan, karena ia melakukan kemaksiatan itu dengan sengaja. Ia sebenarnya tidak tahu apakah hal tersebut telah ditakdirkan oleh Allah terjadi pada dirinya. Sebab memang tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hal itu kecuali Allah, atau hal itu benar-benar telah terjadi. Sebagai mana firman-Nya,


"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok…" (QS. Luqman: 34).


Jika demikian halnya, maka bagaimana mungkin bisa dibenarkan seseorang yang berdalih dengan hal-hal yang tidak diketahuinya ketika ia telah melakukan maksiat, kemudian menginginkan dispensasi untuk maksiatnya tersebut?


TAUBAT SEBELUM AJAL

Iblis telah dilaknat dan diturunkan dari tempat kediamannya yang penuh kemulian hanya karena dia tidak mengerjakan satu sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam Alaihissalam telah dikeluarkan dari surga hanya disebabkan oleh sesuap makanan. Maka janganlah seseorang merasa aman bila kelak Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka hanya karena satu maksiat yang telah kita lakukannya. Sebagaimana firman-Nya, artinya,


"Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu." (QS. Asy-Syams: 15).


Kehidupan seseorang memang tergantung kepada amalan akhirnya yang diperbuatnya. Siapa saja yang shalat kemudian berhadats sesaat sebelum salam, maka shalatnya secara keseluruhan manjadi batal. Begitu juga orang yang di akhir kehidupannya dia melakukan dosa sesaat sebelum matinya, maka dia akan bertemu dengan Allah dengan keseluruhan usianya yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Maka adakah orang yang mengetahui akhir kehidupannya? Jika memang tidak ada, maka apalagi yang kita tunggu? Marilah kita segera bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada-Nya.Abdul Rasyid Yusuf .(Al Fikrah)


Selasa, Mei 13, 2008

MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.

Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ

Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah

Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:

إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى اْلأَعْجَمِيِّ وَ الشَابِ إِذَا نَسَكَ أَنْ يُوَافِيَ صَاحِبَ سُنَّةٍ فَيَحْمِلَهُ عَلَيْهَا

Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya

Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’aala.

Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.

Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (Nashrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.

Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan keistiqomahan- menceritakan:

Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.

Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.

Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka.

Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke ad-dir (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman. – pent.) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.

Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu ad-dir ke ad-dir yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan ad-dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu ad-dir tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya.

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi Syi’ah, keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali z, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.

Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.

Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.

Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. Alhamdulillah.

Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke ad-dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah ad-dir di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan ad-dir tersebut.

Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari ad-dir, setelah itu saya menuju al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan al-Quds, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.

Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.

Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.

Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari Taurat dan Injil.

Kemudian saya putuskan untuk kembali ke al-Quds, karena saya yakin bahwa al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju al-Quds. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan al-Qur’an, Injil dan Taurat. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan al-Qur’an dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘alaihimassalaam yang asli.

Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para da’i.

Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi z, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.

Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya fadhilatusy Syaikh Hisyam al-‘Arif –hafidhohulloh-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.

Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.

Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan :

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya

Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi ([1] Sebagaimana hadits Qoish bin ‘Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa’ (128).)) dan berangkat ke al-Masjid al-Aqsho untuk menunaikan shalat dhuhur,

Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jamaah shalat dengan syahadat, yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim q yang melakukan khitan pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah n bersabda : Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “al-Qoduum” (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).

Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah Ta’aala dan sunnah Rasulullah n sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para sahabat g beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan as-Sunnah.

Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub
Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Da’wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.
sumber :Ummusalma.wordpress.com


Selasa, Februari 12, 2008

BERITA DUKA WAFATNYA FADHILATUSY SYAIKH SHALIH ASH-SHALIH

BERITA DUKA
WAFATNYA FADHILATUSY SYAIKH SHALIH ASH-SHALIH

Telah mengabarkan kepada saya, al-Akh Abu Utsman al-Birithoni, beliau mengatakan bahwa asy-Syaikh Shalih ash-Shalih telah meninggal dunia pada tanggal 8 Februari 2008 sebelum sholat Ashar di Masjid Nabawi. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh sahabat Syaikh Shalih ash-Shalih rahimahullahu, Syaikh DR. Muhammad al-Jibali rahimahullahu. Dr. Al-Jibali mengatakan :

“Pertama kali saya tidak mempercayai berita ini, namun setelah menelepon beliau dan isteri beliau mengonfirmasikan kepada saya mengatakan bahwa suaminya tampak begitu kelelahan, dan hal inilah yang menjadi penyebab utama wafatnya beliau (pada usia muda sekitar umur 50-an). Isteri beliau mengatakan bahwa beliau sekarang terbaring di RS al-Anshar dan akan dimakamkam besok pagi di pekuburan al-Baqi’.

Wafatnya beliau pada hari Jum’at di Masjid Nabawi ketika sedang melaksanakan ibadah sungguh merupakan tanda-tanda husnul khatimah. Semoga Alloh merahmati dan menerima seluruh amal shalihnya, dan menempatkan beliau di surga bersama para anbiya’ dan shalihin.”

Sungguh, berita ini menyebabkan kita semua shock. Setelah berita wafatnya al-‘Allamah Bakr Abu Zaid, Ibnul Qoyyim kedua zaman ini, kita sekarang juga dikejutkan oleh wafatnya seorang ulama muda yang cerdas, seorang da’i yang senantiasa menyeru kepada Islam dan Sunnah.

Syaikh Shalih ash-Shalih adalah seorang da’i yang cukup terkenal di Eropa. Beliau memiliki website yang sangat bermanfaat, www.understand-islam.net. Di dalam situs beliau ini, banyak sekali artikel-artikel dan rekaman ceramah ilmiah yang bermanfaat dalam bahasa Inggris. Beliau termasuk jajaran murid-murid Imam Ibnu Utsaimin rahimahullahu yang terdepan dan terkemuka. Bahkan rumah tinggal beliau hanya berjarak 500 yard dari rumah Imam Ibnu Utsaimin.

Semoga Alloh mengampuni segala dosa beliau dan menaungi beliau dalam rahmat-Nya.

Sumber : http://www.abusalma.wordpress.com

Rabu, Februari 06, 2008

BERITA DUKA WAFATNYA AL-‘ALLAMAH BAKR ABU ZAID

BERITA DUKA
WAFATNYA AL-‘ALLAMAH BAKR ABU ZAID



إنّا لله وإنّا إليه راجعون

Telah meninggal dunia pada hari Selasa kemarin, 5 Februari 2007, al-Allamah asy-Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu. Beliau disholati di Masjid Bakr Abu Zaid, di samping kediaman beliau, Riyadh, pada hari Selasa ba’dal isya.

رحم الله شيخنا رحمة واسعة وجعل ماأصابه تكفيرا لذنوبه ورفعا في درجاته . وعوض الأمة خيرا .

إنا لله و إنا إليه راجعون
لله ما أخذ و له ما أعطى و كل شيء عنده بأجل مسمى
الله اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه و ارفع درجته في عليين
اللهم أجرنا في مصيبتنا و اخلف لنا خيرا منها
و الله إن العين لتدمع و إن القلب ليحزن و إنا على فراقك يا شيخنا لمحزونون

http://www.islamway.com/?iw_s=Article&iw_a=view&article_id=2785

Selasa, Januari 15, 2008

Puasa Asyura dan Bulan Muharram

Sesungguhnya bulan Allah Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah, Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى yang artinya :

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah :36)

Adapun maksud dari firman Allah سبحانه وتعلى :Janganlah kamu menganiaya diri kamu yakni, pada bulan-bulan haram karena kesalahan atau dosa yang dikerjakan waktu itu lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau dosa yang dikerjakan
pada bulan-bulan selainnya. Berkata Qatadah رحمه الله : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezholiman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah سبحانه وتعلى senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).

Diriwayatkan dari Abu Bakrah , Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

...السَّــنَةُ اثْــنَا عَشَرَ شَـهْرًا مِنْـهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَــاتٌ ذُو الْـقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَـيْنَ جُمَادَى وَشَعْـبَانَ رواه البخاري

“…Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari)

Dinamakan Muharram karena tergolong bulan haram dan sebagai penekanan akan keharamannya.

Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah Pada Bulan Muharram :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia telah berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ رواه مسلم

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).

Lafadz "شهر الله" (Bulan Allah), penyandaran “Bulan” kepada “Allah” dimaksudkan sebagai bentuk pengagungan-Nya kepada bulan tersebut. Imam Alqari رحمه الله berkata: Nampaknya maksud dari hadits tersebut adalah berpuasa pada seluruh bulan Muharram”.

Akan tetapi telah diriwayatkan, bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم tidaklah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan saja, jadi hadits ini hanya menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa dengan sebulan penuh.

Dan telah diriwayatkan juga bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, hal ini mungkin dikarenakan belum turunnya wahyu kepada beliau yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Muharram kecuali pada akhir hayatnya sebelum beliau sempat berpuasa pada bulan tersebut. (Lihat Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi)

Sejarah ‘Asyura :
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قَالُوا : "هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى" قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْـكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ رواه البخاري

“Setelah Nabi صلى الله عليه وسلم tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bekata: “apakah ini?”, mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”, selanjutnya beliau berkata: “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu (HR. Bukhari).

Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah, dari Aisyah رضي الله عنها ia telah berkata:

أَنَّ قُرَيــْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ( رواه البخاري

“Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga berpuasa pada hari itu…”. (HR. Bukhari)

Imam Qurthubi رحمه الله berkata: “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk me-nyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa Radhiyallahu Anhu :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَ تَـتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صُومُوهُ أَنْـتُمْ , رواه مسلم

“‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura :
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَـتَحَرَّى صِيَامَ يـَوْمٍ فَضَّــلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيـَـوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّـهْرَ يَعْنِي شَـهْرَ رَمَضَانَ رواه البخاري

“Saya tidak melihat Nabi صلى الله عليه وسلم memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Dari Abu Qadah Radhiyallahu Anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
صِيَامُ يـَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّــنَةَ الَّتِي قَــبْلَهُ رواه الترمذي

“Puasa hari ‘Asyura, Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Tirmidzi)

Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.

Apakah Hari ‘Asyura Itu?
Imam Nawawi رحمه الله berkata: ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab), ‘ulama mazhab kami berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama.Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa".

Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al Musayyab dan Al Hasan, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya ia telah berkata:
أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ, رواه الترمذي

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)”.(HHR. Tirmidzi).

Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura :
Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما telah berkata:
حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا :"يـَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالـنَّصَارَى" فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ) فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ( قَالَ "فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم " رواه مسلم

“Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan” dia (Ibnu Abbas) berkata: “akan tetapi beliau صلى الله عليه وسلم telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).
Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata : Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi صلى الله عليه وسلم berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan.

Maka dari itu puasa ‘Asyura bertingkat-tingkat : (pertama): hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja, (kedua): berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dan (ketiga) dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.

Hikmah Disunnahkannya Puasa Tasu’a :
Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Sebagian ‘ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.

Dosa Apakah Yang Dihapus Pada Puasa ‘Asyura :
Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 6 tentang puasa hari Arafah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al Fatawa Al Kubra juz 5).

Bid’ah – Bid’ah ‘Asyura
Syaikhul Islam رحمه الله pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh sebagian orang pada hari ‘Asyura, seperti memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan perasaan gembira, dan lain sebagainya, apakah kebiasaan-kebiasaan ini memiliki dasar di dalam agama atau tidak?

Beliau menjawab : ”Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shohih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin termasuk Imam yang empat tidak mengangapnya sebagai sesuatu yang baik, dan tidak ada satu hadits pun baik yang shohih atau yang lemah berbicara mengenai hal itu, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayatkan di dalam hadits maudhu (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja dsb) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”.Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم

Kemudian beliau رحمه الله menyebutkan secara ringkas apa yang terjadi pada umat terdahulu berupa fitnah, peristiwa-peristiwa dan kisah tentang pembunuhan Husain Radhiyallahu Anhu serta apa yang dilakukan oleh sebagian firqah setelah kejadian-kejadian itu, kemudian selanjutnya beliau berkata: “Maka firqah tersebut menjadi sesat dan zholim, di antara mereka ada yang kufur, munafik dan ada yang termasuk orang yang disesatkan.

Di antara penyimpangannya antara lain mereka mencintai beliau (Husain) dan Ahlul Bait secara berlebihan, menjadikan hari ‘As-yura adalah hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan, padahal berita-berita tersebut kebanyakan dusta sehingga apa yang mereka perbuat hanya menambah dan melahirkan kesedihan, sikap fanatik, menyulut api peperangan dan menyebarnya fitnah diantara kaum muslimin serta merendahkan generasi terdahulu, sehingga keburukan dan bahaya mereka sampai-sampai tidak lagi dapat dihitung dan disebutkan oleh orang yang fasih.

Karena itu muncullah beberapa kaum yang menyimpang yang sebagian mereka adalah orang-orang fanatik terhadap Husein رضي الله عنه dan keluarganya sedangkan lainnya ada-lah orang-orang jahil yang membalas keru-sakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, kejelekan dengan kejelekan, bid’ah dengan bid’ah. Mereka banyak memalsukan riwayat-riwayat sebagai dalil disyariatkannya bergembira pada hari ‘Asyura seperti mema-kai celak dan mencat kuku, pemberian nafkah kepada keluarganya, memasak makanan yang istimewa dan lainnya sebagaimana yang dilakukan pada hari raya. Mereka menjadikan Hari ‘Asyura sebagai suatu musim seperti layaknya hari raya dan waktu bersedih dan bergembira. Kedua kelompok tersebut menyimpang dan keluar dari sunnah.(Lihat Al Fatawa Al Kubra).

Ibnu Al Hajjaj رحمه الله menyebutkan bahwa diantara bid’ah ‘Asyura adalah menyengaja untuk mengeluarkan zakat, sama saja jika mengeluarkannya di awal atau di akhir waktu, mengkhususkam memotong ayam ketika itu dan memakai daun pacar bagi wanita. (Lihat Al Madkhal juz 1 tentang hari ‘Asyura).
-Abu Muhammad-

Maraji’ : Nasyrah “Fadhlu ‘Asyura wa Syahrullahi Al Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid (Al Fikrah)
Sumber : www.wahdah.or.id

Sabtu, Desember 22, 2007

Fenomena Natal

Tidak di ketahui secara pasti kapan Nabi Isa Dilahirkan, walaupun para penganut Kristiani mengklaim bahwa kelahiran Al Masih adalah tanggal 25 Desember namun keyakinan itu sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara pasti. Yang jelas Nabi Isa dilahirkan pada musim panas, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur'an bahwa setelah melahirkan putranya, sang ibu Maryam bersandar di sebuah pohon kurma lalu di wahyukan kepadanya agar menggoyang batang kurma itu,maka berjatuhanlah rutob dari atas pohon tersebut. Rutob adalah buah korma yang telah masak (empuk), dan buah kurma tidak akan bisa matang jika tidak ada angin panas yang bertiup. Jika ada yang berkeya-kinan bahwa Nabi Isa lahir pada musim salju (dingin) maka itu adalah salah

.
Jangankan sampai sedetil tanggal lahirnya, tahun kelahirannya saja antara Biebel dan pencetus kalender Masehi yang dipakai saat ini ada perbedaan. Dalam Matius sebutkan bahwa Isa dilahirkan pada masa raja Herodas dari Roma. Sementara itu para pakar sejarah mereka mengatakan bahwa raja Herodas mati pada tahun 4 sebelum Masehi, artinya 4 tahun sebelum kelahiran nabi Isa. Jika Biebel memang benar maka seharusnya tahun Masehi (yang sekarang 2001) seharusnya sudah 2005. dan jika yang benar adalah pencipta kalender maka Bibel (kitab suci) mereka yang salah. Ada kemung-kinan juga kedua-duanya salah, dan tidak mungkin keduanya benar.

Sitem Kerahiban dan Taklid Buta

Sungguh kacaunya sebuah agama desebabkan karena sumber asli (kitab suci) dari agama tersebut telah diacak-acak dan diputar balikan oleh orang-orang yang menamakan dirinya atau dinamai ahli ilmu dan ahli ibadah. Dengan seenaknya orang-orang semacam ini membuat fatwa dan hukum yang menyelisihi sumber otentik dari agama itu sendiri. Mereka dianggap sebagai wakil Tuhan dan orang suci yang tidak punya salah atau ma'shum. Sehingga ucapan mereka ibarat wahyu yang harus ditaati meskipun itu mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.
Jika demikian maka ini berarti telah menjadikan orang alim (baik itu ulama, pendeta, rahib dan sebagainya) sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mungkin mereka beralasan dengan mengatakan: "Kami kan tidak menyembah mereka!" Alasan serupa juga pernah disampaikan oleh seorang Ahlu Kitab yang masuk Islam, Adiy bin Hatim, tatkala ia mendengar Nabi Shallallaahu alaihi wa salam membaca firman Allah, yang artinya: "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. 9:31)
Mendengar pembelaan diri dari Adiy, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam lalu bertanya: "Tidaklah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah lalu kamu pun mengharamkannya? Dan tidaklah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah lalu kamupun (ikut) menghalalkannya?"
Semua pertanyaan Nabi Shallallaahu alaihi wa salam dibenar-kan oleh Adiy, maka beliaupun bersabda: "Itulah ibadah (penyembahan) kepada meraka." (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan mengatakan hasan)
Fenomena seperti ini ternyata juga merebak di kalangan kaum muslimin dimana masih banyak diantara mereka terjebak dalam kultus Individu, menganggap wali ma'shum terhadap seseorang yang segala tingkah laku dan ucapannya tidak boleh disalahkan, dengan alasan takut kuwalat (tertimpa bencana), atau beranggapan mereka memiliki maqom (kedudukan) yang tidak bisa dimengerti dan dicapai orang awam.
Demikianlah sistem kerahiban dalam agama Nashara telah menjadikan penganutnya dicap Allah sebagai orang dloollin (sesat). Sistem ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surat Al Hadid ayat 27 merupakan perkara yang diada-adakan dan sama sekali tidak pernah diperintahkan oleh Allah. Artinya: "Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik." (QS. 57:27)
Dengan kata lain mereka telah membuat bid'ah dalam tata cara agama mereka,sehingga mereka menjadi sesat. Oleh karena itu Rasulullah, jauh-jauh sudah mengingatkan, agar Islam terjaga kemurniannya maka beliau bersabda, yang artinya: "Setiap hal yang baru (dalam urusan agama adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).
www.alsofwah.or.id dengan sedkit perubahan redaksi

TAHUN BARU HIJRIYAH

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. 10:5)

Penanggalan atau kelender yang dalam bahasa arabnya disebut tarikh, yang berarti sejarah, merupakan penentuan bagi suatu zaman yang di dalamnya telah terjadi peristiwa penting yang sangat berpengaruh bagi kehidupan individu atau umat. Orang-orang Yahudi sangat mengagungkan zaman nabi Musa Alaihi salam
, maka mereka memulai sejarah penanggalannya sejak zaman kenabiannya. Orang-orang Nasrani sangat mengagungkan kelahiran Al Masih Isa AS, maka mereka memulai tarikh mereka dari kelahirannya. Begitu pula kaum muslimin sangat mengagungkan hijrah nabi Muhammad ShallAllahu 'alaihi wa sallam maka mereka menandai peristiwa-peristiwa bersejarah mereka dimulai dari hijrah beliau yang penuh berkah.

Penanggalan yang dimulai dengan Hijrahnya Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam terkenal dengan sebutan "Tarikh Hijri" atau Kelender Hijriyah yang sekarang ini akan memasuki tahun 1423 H. Tarikh Hijri sangat patut dan merupakan kewajiban untuk kita pertahankan karena dua hal :

Pertama: menjaga kepribadian sejarah umat Islam. Semua peristiwa-peristiwa keislaman, mulai yang terkecil sampai yang terbesar telah ditulis dan dikodifikasikan sesuai dengan Tarikh Hijri. Kehidupan Rasulullah SAW, perjalanan, jihad, peperangan, dakwah, dan penurunan wahyu telah ditulis sesuai dengan Tarikh Hijri. Kepemimpinan Khulafaurrasyidin, pertempuran-pertempuran penting di dalam Islam, seperti Badar Kubra, fath Makkah, Qadisiyah dan Yarmuk bahkan kitab-kitab biografi dan sejarah, semuanya tertulis dengan Tarikh Hijri.

Kedua : keterkaitan yang kuat dengan berbagai masalah diniyah dan Ahkam Syar'iyah. Keterkaitan tidak hanya sementara dan terbatas pada zaman tertentu, tetapi keterkaitan abadi dan menyeluruh, mulai dari bulan-bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, bulan-bulan haji (Syawal, Dzulqa'dah dan Dzulhijjah), bulan puasa, masa 'iddah, sumpah, nadzar, kaffarat, haulnya, dua hari raya, puasa Asyura, puasa hari-hari purnama, dst.

Dari sini tampaklah betapa bahayanya peminggiran Tarikh Hijri dan pengantiannya dengan Tarikh Milady (Masehi). Lebih bahaya lagi kalau generasi penerus tidak mengenal Tarikh Hijri, kecuali hanya namanya saja. Karena itu Tarikh Hijri bisa disebut sebagai bagian dari bangunan sejarah dalam kehidupan umat Islam yang tidak terpisahkan, sekalipun berbagai kalender telah ada seperti Tarikh Parsi dan Tarikh Romawi. Tarikh Hijri tidak lepas dari kehidupan umat Islam hingga akhirnya pada abad 12 para penyembah salib (kaum Nasrani) menjajah negara-negara Arab dan negeri-negeri Islam dan menghapus kebudayaan Islam serta mengganti Tarikh Hijri dengan Tarikh Milady atau Masehi. Ditambah pola dengan propaganda-propaganda untuk menenggelamkan Tarikh Hijri dan memancangkan Tarikh Milady. Mereka mempengaruhi orang-orang Islam dengan berbagai hasutan, umpamanya dalam hal perekonomian Tarikh Milady lebih bermanpaat daripada Hijri, sebab jumlah harinya lebih banyak. Dari segi kepastian dan kemantapan, Tarikh milady lebih unggul karena jumlah harinya tidak berubah-ubah dan lain sebagainya. Dalam waktu bersamaan umat Islam dalam keadaan terpuruk karena penjajah kaum salib tersebut. Maka tak ayal lagi banyak umat Islam yang menjadi korban pembodohan tersebut.

Permulaan Tarikh Hijri

Tarikh seperti yang kita kemukakan adalah simbol titik awal dalam kehidupan sebuah umat atau suatu bangsa. Para ahli sejarah telah menyebutkan bahwa khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu anhu adalah orang yang memerintahkan untuk mencanangkan Tarikh Hijri. Sebabnya adalah sebagaimana yang dituturkan oleh berbagai riwayat berikut ini:

Imam Al-Sya'bi berkata: Abu Musa Al-Asy'ari radhiallahu anhu menulis kepada Umar radhiallahu anhu yang isinya," Telah datang kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin yang tidak bertanggal." Maka Umar r.a. mengumpulkan orang-orang untuk bermusyawarah. Sebagian berkata:"Berilah tanggal berdasarkan kenabian Nabi kita Muhammad ShallAllahu 'alaihi wa sallam". Yang lain berkata," Kita beri tanggal dari hijrahnya Nabi ShallAllahu 'alaihi wa sallam. Maka Umar radhiallahu anhu berkata: Benar, kita beri tanggal berdasarkan hijrahnya Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam ke Madinah, karena hijrah beliau adalah garis pemisah antara yang hak dan yang batil.

Sa'id Ibnul Musayyab berkata : "Mulai dari hijrahnya Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam adalah perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu ketika Umar radhiallahu anhu bertanya kepada mereka."Dari mana harus kita mulai?"

Maimun bin Mihran berkata: Telah disampaikan kepada Amirul Mu'minin Umar r.a. sepucuk surat (sertifikat) yang tertulis "Sya'ban". Maka Umar radhiallahu anhu bertanya,"Sya'ban yang mana? Sya'ban sekarang atau yang akan datang?" Kemudian beliau mengumpulkan beberapa pemuka dari para sahabat radhiallahu anhu. Beliau berkata:"Sesungguhnya harta (kas negara) telah melimpah dan yang sudah kita bagi tidak ditentukan dengan tanggal, maka bagaimana caranya agar kita sampai kepada penentuan tanggal tersebut? Mereka berkata,"Hal itu harus kita pelajari dari tulisan penanggalan orang-orang Parsi. Maka ketika itu Umar mendatangkan Hurmuzan untuk dimintai keterangan. Lalu Hurmuzan berkata:"Sesungguhnya kami memiliki hitungan waktu yang kami sebut Maah Ruuz artinya hitungan bulan dan harizzz". Maka mereka menggabung kata tersebut menjadi Muarrikh". Kemudian mereka memberi nama Tarikh. Setelah itu, mereka berembuk tentang permulaan tanggal untuk negara Islam. Akhirnya mereka sepakat untuk memulai dari tahun Hijrah, dan setelah mereka tetapkan bulan pertama adalah Muharram. Pernah mereka menghitung sampai akhir hayat Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam, ternyata dari satu Muharram tahun pertama Hijrah sampai wafatnya adalah sepuluh tahun dua bulan. Dan kalau dihitung benar-benar dari Hijrahnya Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam adalah sembilan tahun, sebelas bulan dan dua puluh satu hari.

Kesalahan-kesalahan pada awal tahun baru Hijriyah

1. Menjadikan tanggal satu Muharram sebagai saat bagi ibadah tertentu yang tidak ada ketentuannya dari syari'at dan meyakini fadhilah-fadhilah tertentu yang juga tidak ada tuntunannya seperti:

a. Doa awal tahun dan fadhilatnya, begitu pula dengan doa akhir tahun dan fadhilatnya. Doa tersebut bid'ah, tidak ada asalnya baik dari Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam maupun dari para sahabatnya dan para tabi'in, serta tidak disebutkan baik dalam kitab-kitab musnad maupun dalam kumpulan hadits-hadits maudhu' (palsu) sekalipun. Ia hanyalah dari sebagian orang-orang yang memperlihatkan diri sebagai orang-orang yang ahli ibadah namun tidak mengerti sunnah. Yang lebih hebat lagi adalah kedustaan pembuatan dusta tersebut atas nama Allah dan RasulNya. Mereka telah menentukan fadhilah (keutamaan) bagi pembaca do'a tersebut, tanpa ada dasar dari wahyu. Ia berkata:"Siapa yang membacanya maka syaithan akan berkata sedih, "Kita sudah susah payah menggodanya selama setahun, ternyata ia merusak usaha kita hanya dalam sesaat." Dan yang sangat mengherankan sikap kaum muslimin yang menerima dan mengamalkan doa tersebut tanpa mau belajar dan bertanya kepada ulama-ulama Ahlus Sunnah. Mereka lupa atau mungkin tidak tahu apa yang telah dipesankan para ulama termasuk Al-Izz bin Abdussalam Al-Syafi'i, sebagaimana dinukil oleh imam Abu Syamah bahwa melaksanakan kebaikan itu harus mengikuti syari'at Rasulullah SAW. Jika sudah mengetahui bahwa doa awal dan akhir tahun serta fadhilahnya tidak masyru' maka mengamalkannya adalah bid'ah makruhah munkarah.

b. Puasa awal dan akhir tahun beserta fadhilahnya. Imam Al Fathani dalam kitab Tazkiratul Maudhu'at menyatakan dalam hadits yang artinya,"Barangsiapa yang berpuasa pada hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan pada hari pertama dari bulan Muharram maka ia telah menutup tahun yang telah berlalu dengan ibadah puasa dan membuka tahun yang baru dengan berpuasa. Maka Allah akan menjadikan baginya sebagai kaffarat (penebus dosa) selama lima puluh tahun, " terdapat dua perawi yang pendusta. Dan di dalam hadits, "Pada awal malam dari bulan Dzulhijjah Ibrahim u dilahirkan, maka barangsiapa yang berpuasa pada hari itu maka puasanya itu bisa menebus dosanya selama enam puluh tahun," Terdapat Muhammad bin Sahl. Ia adalah pemalsu hadits.

2. Menjadikan awal tahun baru sebagai hari perayaan, hari besar atau hari raya. Kita tahu bahwa yang mempunyai adat merayakan tahun baru adalah orang-orang kafir. Orang-orang Persia merayakan hari raya Nairuz yaitu hari pertama musim semi, sedangkan orang Nasrani merayakan satu Januari sebagai hari raya tahun baru Masehi.

Merayakan awal tahun baru Hijriyah dengan berpesta makan dan minum, berkumpul, dan menyalakan lampu lebih dari biasanya adalah sama dengan yang dilakukan orang- orang Nasrani pada tahun baru Masehi. Mereka menyalakan api, membeli lilin, membuat makanan, bernyanyi ria dan lain sebagainya.
Imam Suyuti berkata: "Tasyabuh (menyerupai orang kafir) adalah haram, sekalipun tidak bermaksud seperti maksud mereka. Berdasarkan riwayat Ibnu Umar r.a., Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. (HR: Abu Daud dan yang lainnya ).

Ketahuilah bahwa pada periode salafus saleh tidak terdapat perayaan awal tahun Hijrah. Maka Mukmin sejati adalah orang yang meniti jalannya para salafus saleh , yang berteladan kepada apa yang ditinggalkan oleh sayyidul mursalin SAW , dan berteladan kepada orang yang diberi ni'mat oleh Allah I, yaitu pada Nabi-Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin.

Membelanjakan harta untuk membiayai acara yang tidak disyari'atkan atau merayakan hari yang tidak diperintahkan untuk dirayakan adalah perbuatan sia-sia Begitu pula memeriahkan hari yang mengandung keutamaan dengan cara yang tidak disyari'atkan juga adalah perbuatan sia-sia. Ibnul hajj dalam Al Madkhal menyebutkan: Sebab larisnya adat-adat semacam tadi adalah diamnya sebagian ulama, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa hal tersebut adalah menghidupkan syi'ar Islam. Innalillahi Wainna ilaihi Raji'un.

Imam Suyuti mengingatkan: Hendaknya orang Islam tidak memandang pelaku dan penggemar kesesatan, sekalipun ada ulama yang bersama mereka." Imam besar Fudhail bin Iyadh berkata: "Ikutilah jalan kebenaran, sekalipun banyak orang yang binasa."

Jadi menghidupkan Tarikh Hijri bukan dengan memperingati awal tahun barunya, melainkan dengan mencintai, membela dan menggunakannya dalam segala tulisan dan aktifitas kita.

sumber : Buletin Al-risalah

TIADA KEMULIAAN TANPA ISLAM

Umar bin Khaththab semoga Allah meridloinya mengatakan: "Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan."

Kapan Umar mengatakan ungkapan ini ? Kapan Umar menyusun perkataan ini ?

Umar mengatakan ini pada moment yang agung dan pada satu periode yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis
, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan karena kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang namanya telah menguncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pingsan mendengarnya, karena takut.

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan.

Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya.

Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain.

Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan gang.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka kaluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis ?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang mengira beliau akan datang dengan para pembesar shahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya, tetapi beliau datang hanya dengan mengendarai satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya: "Siapa itu ? Mungkin salah saeorang tentara yang memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu mendekat, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khaththab ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: "Wahai Amirul Mukminin, orang-orang mennati kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?"

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: "Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita."

Kita membangun peradaban kita dari nol dengan satu modal; Laa ilaaha illallaah.

Pasukan Umar bin Khaththab keluar dengan 30.000 orang yang bertauhid. Setiap orang yang bertauhid sama dengan 3 juta tentara dunia sekarang. Mereka keluar untuk berperang melawan Persia, berperang untuk melawan Kisra yang kafir dan sesat. Ketika mereka tiba di Qadisiyah, Kisra ingin melakukan perundingan dengan Umar karena takut mati. Maka ia mengutus Hurmuzan -salah seorang mentrinya- untuk mendatangi Madinah Nabawiyah kota Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk duduk bersama Umar Al Faruq di meja perundingan.

Utusan tersebut keluar dengan rombongan yang besar untuk menemui Umar, dengan hati yang hampir robek karena takut…Mengapa? Karena dia ragu-ragu. Bagaimana ia akan bicara dengan Umar bin Khaththab ? Apakah ia akan berbicara secara langsung atau melalui perantara ?Apakah ia akan duduk bersama di atas tanah ? Apakah ia dapat melihat Umar secara langsung tanpa alat dan pengeras suara ?

Maka ia memakai perhiasan, sutra, emas dan perak. Ia menembus jalan dari Iraq menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, ia bertanya: "Dimana istana Khalifah Umar ?"
Para shahabat mengatakan: "Umar tidak punya istana."

Ia bertanya: "Bagaimana ia memimpin kalian ?"
Mereka berkata: "Beliau memimpin kami di atas tanah."

Ia bertanya: "Di mana rumahnya ? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan ?"
Mereka menjawab: " Rumahnya seperti rumah kita."

Ia berkata: "Tolong tunjukkan pada saya rumahnya."
Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, sampai mereka sampai di sebuah rumah yang kecil miskin yang hanya dibangun dari tanah biasa.

Ia bertanya: "Apakah ini rumahnya ?"
Mereka mengatakan: "Ya"
Ia bertambah takut dan gemetar, ia bertanya: "Apakah ini rumahnya ?"
Mereka mengatakan: "Kita akan tanya keluarganya"

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: "Apakah Amirul Mukminin ada di rumah ?"
Beliau menjawab: "Beliau sedang tidak di rumah, silahkan anda cari di masjid "

Kantor, istana dan tempat duduknya di masjid.
Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan dibelakang utusan Beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.

Utusan tersebut mencari Umar. Mereka pergi dan memasuki masjid, mengamati orang-orang yang tidur -karena beliau tidur di masjid- maka mereka tidak menemukan. Mereka mengatakan: "Kita cari di tempat lain. Maka mereka mencari lagi.

Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di di bawah pohon.

Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut.
Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: "Siapa ini ?"
Mereka mengatakan: "Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin."

Orang Persia tersebut berkata: "Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur."

Jadi kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka jika kita mencari kejayaan dengan selain Islam, Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita mencari kejayaan dengan pakaian dan penampilan, bukan dengan agama, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan rumah dan istana, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan berbagai kendaraan, kakayaan dam makanan dan merasa bangga dengan Islam maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita. Karena kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Mengapa kita tidak merasa bangga, wahai para pemuda dan orang tua, mengapa kita tidak merasa bangga dengan Islam ?

Ya… ada ditengah-tengah kita, orang yang tidak ingin masuk lebih dalam pada agama. Dia ingin Islam yang biasa-biasa saja, shalat dan puasa saja.

Sedankan dakwah dan istiqamah adalah sesuatu yang dia tidak inginkan.
Mengapa ?

Karena zionisme internasional telah menamakan para da'i dengan istilah fundamentalis dan berbagai istilah menakutkan lainnya…maka orang-orang yang kurang wawasan, sedikit pengetahuan dan lemah mental (imannya) merasa berat jika dikatakan seperti itu.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa membagi manusia menjadi dua bagian, Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman, yang artinya :

"Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan" (QS Al Qalam: 35-36)

Pilihannya hanya satu dari dua, muslim atau mujrim (orang yang berbuat dosa)… orang yang baik atau jelek… sesat atau dapat petunjuk… shaleh atau merusak… taat atau ma'siyat. Tidak ada pilihan ketiga.

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat ?" (QS Shaad ayat 28)

Saran kita bagi setiap orang biasa yang ingin hidup biasa dalam Islam agar bergabung dengan para wali Allah, orang-orang pilihan, orang-orang yang istiqamah, karena agamawan dalam Islam tidak sama dengan agamawan dalam Nashrani.. tidak..pilihan kita hanya satu, menjadi orang yang istiqamah sukses bahagian atau sesat bodoh dan gagal dalam hidup.

Dalam agama kita hanya ada satu pilihan, menjadi orang yang baik , bertaqwa, wara' dan menghadapkan diri kepada Allah atau menjadi orang yang celaka, lalai, sesat yang akan dikembalikan ke neraka yang menyala-nyala.

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman:

"Demikianlah Kami (Allah) jadikan kalian umat wasath (pertengahan). Betapa indah ungkapan wasath (pertengahan). Apa yang dimaksud dengan wasath ? Banyak dari para ahli tafsir yang mengatakan bahwa maksudnya adalah umat pilihan. Sebagian yang lain mengatakan maksudnya: pertengahan dalam segala sesuatu." (QS Al Baqarah 143)

Kedua makna ini benar. Alhamdulillah kita ini umat Islam memiliki aqidah pertengahan. Kita tidak hidup tanpa aqidah seperti orang-orang yang tidak punya pegangan. Kita tidak hidup dengan hati kosong, jiwa kosong, tetapi kita punya aqidah. Namun kita juga bukan yang berlebihan dalam beribadah sampai-sampai menyembah segala sesuatu, menyembah batu, pohon, bintang, bulan, sapi, harta, pakaian…tidak… tetapi kita beribadah kepada Dzat yang memang berhak dijadikan tujuan ibadah.

"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu"
(QS Muhammad 19)

Sumber : Buletin Al-madina

Senin, Desember 17, 2007

PENJELASAN TENTANG MASALAH TAKBIRAN HARI RAYA IDUL ADHA

Dalam hadits Imam Ahmad dalam periwayatan Ibnu Umar disebutkan diantaranya amalan yang dianjurkan dalam bulan dzulhijah ini yaitu memperbanyak ucapan tahlil, takbir dan tahmid. Karena itu kita juga perlu untuk mengingatkan persoalan takbiran ini, belum banyak dipahami oleh kaum muslimin tentang takbiran di hari raya idul adha ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menjelaskan bahwa idul adha lebih afdal dari idul fitri diantara sebabnya adalah
karena idul adha lebih banyak takbirannya dari idul fitri, idul fitri sangat singkat, yaitu Cuma antara malam lebarannya sampai sholatnya, sesudah sholatnya tidak ada lagi takbiran, bahkan kalau kita mengambil pendapatnya Ibnu Umar hanya sejak shubuh 1 syawal sampai shalat Ied nya, setelah itu tidak ada lagi takbirannya, jadi sangat singkat. Adapun idul adha ini takbirannya lima hari.

Dari sini juga perlu untuk ditegaskan bahwa takbiran dalam idul adha ada dua macam : at-takbiru al mutlak wa takbiru al mukayyat. Takbir secara mutlak maksudnya dihari-hari yang mulia ini kita perbanyak dzikir dan terutama takbir firman Allah : “Hendaknya mereka-mereka yang berhaji melihat manfat-manfaat yang didapatkan dalam haji tersebut dan mereka berdzikir kepada Allah dihari-hari yang ditentukan”. Kapan itu?, pendapat Ibnu Abbas dan yang lainnya mengatakan bahwa itu adalah sepuluh hari pertama bulan dzulhijah. Karena itu sejak 1 dzulhijah kita sudah dianjurkan untuk memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil. Dan telah dipraktekkan oleh Umar bin Khattab radiaallahu anhu bahwa dimana saja dia berada memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil, tidak terkhusus dimesjid, abu hurairah serta Abdullah bin umar keluar masuk pasar untuk mengingatkan perlunya memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil di hari-hari tersebut.

Jadi ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAILAHAILALLAH WALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD, salah satu jenis takbir ini, salah satu contoh yang diajarkan oleh sahabat ini dikerjakan sejak tanggal 1 dzulhijah walaupun tidak terkhusus dimesjid, dimana saja kita berada.

Kemudian Takbir mukayyat, takbir mukayyat ini merupakan takbir yang dilakukan setiap selesai shalat berjamaah, ini juga merupakan salah satu sunnah, karena itu kita tidak perlu ragu-ragu untuk melakukannya, bukan perlakuan orang awwam tapi ini adalah sunnah dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan yang dilakukan oleh para sahabat. cuma kesalahan dari sebagian kaum muslimin kebanyak mereka mulai malam lebarannya. Dan ini meripakan satu hal yang keliru. Dan pendapat yang raji’ dalam masalah ini, ia dimulai pada tanggal 9 dzulhijah pada waktu shubuhnya sampai tanggal 13 dzulhijah selesai shalat ashar, kita takbir setiap selesai shalat. Kata syekh Al Utsaimin ia dilakukan bersamaan dengan dzikir-dzikir sesudah shalat sebaiknya di ucapkan setelah astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah, allahumma anta salam wa mingka salam tabarakta ya dzaljalali wal ikram, lalu bisa kita mulai takbir.

Imam Ahmad pernah ditanya dari mana kamu mengatakan bahwa takbiran itu nanti dimulai sejak arafahnya yaitu tanggal 9 dzulhijah, imam Ahmad ketika ditanya pertanyaan yang seperti ini mengatakan ijmanya sahabat-sahabat yang mulia, yaitu Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas dan Abdullah ibnu Mas’ud. Empat shabat yang mulia ini semuanya sepakat bahwa takbiran itu dimulai pada tanggal 9 zulhijah pada waktu shubuh, karena itu ini merupakan sunnah yang goiban, yang mahjurah ditengah-tengah kaum muslimln perlu kita hidupkan dengan tidak menunggu orang lain dimana tanggal 9 dzulhijah kita sudah memulai takbiran pada waktu subuhnya.

Ini pendapat imam ahmad, imam syafi’I dan perlu juga kita ingatkan kepada para syafi’iyah, dan orang-orang yang mengaku penganut fanatic mazhab syafi’I untuk jangan sampai tidak melakukannya, apalagi ini adalah pendapat yang benar dari khilaf yang ada dikalangan ulama kita, dan Syaikhul Islam menyatakan bahwa ini adalah pendapat imam-imam kaum muslimin.wallahu a'lam

BERGEMBIRALAH DENGAN HARI RAYA IED BAGI ANDA YANG MEMANFAATKAN BULAN DZULHIJAH

Bulan dzulhijah ini merupakan bulan yang terakhir dari bulan-bulan islam, dan bulan terakhir dari bulan-bulan haram, penutup dari tahun hijriah dan bulan yang terafdol dari bulan-bulan hijriah setelah bulan ramadhan. Keafdolan suatu tempat dan keafdolan suatu waktu tidaklah akan memberikan pengaruh kepada seseorang kecuali
jika dia beramal shaleh pada waktu-waktu tersebut, oleh karenanya ketika Abu Darda pernah disurati oleh Salman untuk pergi ke arbul mukaddas (tanah-tanah yang suci) beliau mengatakan bahwa tanah ataupun suatu negeri, tidak bisa mensucikan siapa-siapa, yang mensucikan seseorang itu adalah amal-amal shaleh mereka, artinya keberadaan seseorang ditempat-tempat yang mulia itu tidak memberikan manfaat yang banyak jika seseorang itu justru bermaksiat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala.

Kita semua tahu bahwa abu jahal dan abu lahab pernah menginjakkan kakinya bahkan bermukim, hidup dan mati ditanah yang paling mulia yaitu tanah Mekkah dan sering juga bepergian ke kota Medinah namun tidak memberikan manfaat sedikitpun kepada orang-orang seperti itu. Ini juga yang kita perlu ingatkan kepada jamaah-jamaah haji kita bahwa ini merupakan kesempatan yang besar berada ditanah suci, namun jika justru tidak memanfaatkan kesempatan dan justru berlaku maksiat pada tempat-tempat yang suci itu maka dosanya dilipat gandakan.

Sama dengan waktu datangnya bulan ramadhan tidak mensucikan siapa-siapa kecuali orang yang memanfaatkannya dengan beramal shaleh, bukankah kita tahu hadits yang mengatakan “kemudian ramadhan pergi lalu dia tidak mendapat ampunan maka kata Jibril maka Allah Subhaanahu Wa Ta'ala akan menjauhkannya dari rahmatnya yaitu dari syurganya”.
Orang kadang didatangi ramadhan justru untuk mencelakakannya, ketika dia tidak pernah berbuat shaleh. Maka kita katakan juga demikian dibulan yang suci ini, dibulan yang mulia ini bukan dimuliakan sekedar dengan merayakannya, membesar-besarkannya tapi tentu saja dengan beramal shaleh, inilah keutamaan hari raya Ied kita ini.

Hari raya dalam islam tidak sama dengan hari-hari raya umat-umat lain yang sekedar berfoya-foya, bersukaria, tapi hari raya bagi umat islam adalah yaumul jawaiz, hari untuk dibagi-bagikannya hadiah, pahala untuk orang yang bertambah ketakwaannya. Dalam syair yang terkenal “ bukanlah Ied bagi yang berpakaian baru tapi Ied itu sebenarnya diperuntukkan bagi orang yang bertambah ketakwaannya.

Idul fitri merupakan hari bergembira bagi orang yang memanfaatkan bulan Ramadhan dan idul adha adalah hari yang begembira bagi orang yang memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan dzulhijah. Dalam hadits Imam Bukhari yang kita kenal “ Tidak ada hari yang lebih dicintai untuk beramal shaleh melebihi hari ini yaitu sepuluh hari pertama bulan dzulhijah, Kata para sahabat : apakah jihad juga pahalanya dikalahkan oleh orang-orang yang beramal pada hari-hari tersebut. Kata Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, jihad pun dikalahkan pahalanya oleh orang yang beramal shaleh pada hari-hari tersebut walaupun amalan-amalannya, amalan yang ringan”.

Sahabat bertanya seperti ini karena mereka tahu bahwa jihad merupakan amalan yang sangat afdal, amalan yang sangat utama dan amalan yang sangat besar pahalanya, lalu Nabi shalallahu 'alaihi wasallam pun menegaskan bahwa jihadpun dikalahkan pahalanya oleh orang yang mungkin sekedar mengaji, berdzikir atau amalan-amalan shaleh apa saja dihari-hari yang mulia ini. Kecuali kata beliau seorang yang bejihad dengan jiwa dan hartanya lalu mendapatkan syahidnya, maka tentu daja itu orang yang tidak mungkin dikalahkan pahalanya. Namun kalau dia pergi jihad dan masih kembali lagi maka terkalahkan pahalanya oleh orang-orang yang beramal shaleh dihari-hari yang mulia ini.
Oleh karena itu mari kita beramal shaleh dengan amal-amalan apa saja yang kita ketahui sebagai amal shaleh.

Jumat, Desember 07, 2007

Di Sepanjang Usia Muda Kita

Inilah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengisahkan sepenggal suasana dari suasana-suasana Mahsyar. Hari itu, jarak matahari tidak lagi dihitung puluhan kilometer dari bumi, tapi bahkan lebih dekat lagi. Siapapun bisa menerka betapa dahsyatnya terik panas itu.

Hingga kucuran keringat mampu menenggelamkan pemiliknya. Sampai ada yang berharap, jika memang dirinya penghuni neraka, minta untuk segera dimasukkan saja ke sana, karena sudah tidak tahan merasakan bara panas daratan Mahsyar. Sebuah persangkaan keliru memang. Namun ini cukup menggambarkan kedahsyatan suasana di padang luas itu, pada hari itu.

Tapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dalam suasana semacam itu, ’menghembuskan’ kabar menyejukkan ke dalam dada setiap sahabat, yang telah merasakan manisnya keimanan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkisah akan hari itu, bahwa ternyata ada hamba, yang justru menikmati keteduhan dan sejuknya bernaung di bawah ’arsy Allah سبحانه وتعلى. Tentu mereka yang merasakan itu, bukan orang sembarangan. Tapi mereka adalah hamba pilihan, yang memang dikenal kedekatan mereka dengan Rabbnya.

Tujuh kriteria hamba yang disebutkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang akan mendapatkan keutamaan zhilâl (naungan) itu, sebelum mereka bernikmat-nikmat di dalam jannah-Nya. Satu diantaranya, ”Pemuda yang tumbuh dengan senantiasa beribadah kepada Allah.” Inilah berita langit yang menggembirakan itu, yang disambut begitu antusias oleh para pemuda, pemilik iman dan ketakwaan saat itu.

Lalu, di sepanjang usia muda kita.........
Telahkah kita turut bergembira dengan kabar wahyu ini? Adakah jiwa kita terbawa ke suasana Mahsyar, ’mencoba’ merasakan kengeriannya, lalu kita pun menyibukkan diri dengan persiapan menuju ke sana, agar nantinya kita termasuk satu dari tujuh kelompok yang diistimewakan itu?

Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Rabbnya

Semoga saja, pemuda itu adalah kita. Pemuda yang bernikmat-nikmat dalam ibadah. Yang memuaskan batinnya dengan ibadah. Ibadah apapun, sepanjang itu dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعلى. Atau setidaknya, ada cita-cita yang dibarengi usaha menuju ke sana. Sedikit demi sedikit.

Ini, teramatlah penting untuk kita perhatikan. Karena masa muda yang tidak dipuaskan dalam ibadah, tentu kelemahan fisik di masa tua, semakin menghalangi kita dari ibadah tersebut. Berpuas-puas dengan ibadah, di sanalah keimanan menemukan manisnya. Letih memang di awalnya, tapi di ujungnya, manis dan sejuk yang terasa memenuhi relung jiwa. Jika sudah begini, bukankah di sini letaknya kebahagiaan?

Ketika hari ini, pikiran kita dicemari, diajarkan bahwa kebahagiaan hanya didapatkan dengan memuaskan hawa nafsu. Ketika hari ini, kita dibiasakan mencari kebahagiaan di jalan-jalan dosa dan kemaksiatan. Tibalah masanya, untuk menyadari bahwa kita ternyata ditipu. Sekaranglah waktunya, memahami bahwa hakikat kebahagiaan hanya kita dapatkan di atas jalan ketakwaan.

Di atas jalan ini, kita diingatkan, jelmaan kebahagiaan bukan pada menumpuknya simpanan harta, atau di atasnya kedudukan sosial kita, atau ketika dikelilingi wanita-wanita cantik nan menarik. Bukan di sana letaknya kebahagiaan. Dan bukan ke sana kita mencarinya.

Di atas jalan ini, kita diajari, semakin kita mendekat kepada Allah سبحانه وتعلى, semakin ia begitu terasa kehadirannya. Demikianlah, ketetapan Allah سبحانه وتعلى yang berlaku bagi hamba-Nya.

Memang, tidak mudah meraihnya, sebab ia barang termahal kehidupan. Dan ia, sepenuhnya milik hamba yang dipenuhi dadanya dengan keimanan, yang selalu menghamba kepada Allah Rabbul ’Izzah. Karenanya, ia tidak berujung seiring berhentinya menghirup nafas kehidupan. Bahkan terus, hingga kaki menapak masuk ke dalam jannah-Nya.

Berbeda orang yang kufur kepada Rabbnya, atau yang menyia-nyiakan hidupnya di jalan panjang kemaksiatan. Mungkin juga sempat merasakan kebahagiaan itu. Tapi tidak berapa lama. Sedang di akhirat, siksaan dan azab yang keras, hanya itu yang diterima.
Padahal, akhirat itulah yang kekal. Dan perjalanan ke sana lebih membutuhkan perbekalan.

Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya,
"Dan berbekallah, sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa." ) QS. Al-Baqarah: 197(.
Karenanya, ketika Allah سبحانه وتعلى menunjukkan kita jalan untuk merasakan manisnya keimanan, jangan pernah menyia-nyiakannya. Meskipun berhadapan dulu dengan berlapis-lapis ujian.

Firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ’kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-’Ankabut: 2-4).

Ketika keimanan kita diuji, dengan bertebarannya aurat wanita yang bebas dinikmati kapan saja.

Ketika bara syahwat mendidih-didih, lalu peluang melampiaskannya terbentang luas di depan mata.

Ketika ukhti kita telah memahami akan wajibnya hijab syar’i, lalu larangan justru datang dari orang yang paling dicintainya; orang tua mereka.

Ketika istiqamah semakin terasa sulit di saat-saat sendirian, sedangkan keimanan bisa saja tergadaikan dengan kesenangan dunia yang menggiurkan.

Ingatkan hati kita akan indahnya kesabaran.

"Fashbir shabran jamîlan", maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang baik. Dan pahamilah, kita tak sendirian dalam ujian. Hanya saja tingkatan ujian itu tak sama untuk setiap hamba. Ia bergantung setinggi mana takwa dan keimanan kita kepada Allah سبحانه وتعلى. Karenanya, ucapkanlah apa yang diucapkan Nabiyyullah Ya’qub, "fashabrun jamîl", maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).

Memang, ujian itu berat bagi hati. Bahkan kadang terlampau berat, di sela-sela kita menapaki jalan kehidupan. Jika sudah begini, bisikkan ke hati dan telinga kita; beginilah cara Allah menunjukkan cinta-Nya kepada sang hamba.

Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45,46).
Di ayat yang lain Allah سبحانه وتعلى mengabarkan, artinya,

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 35).

Rasululullah صلى الله عليه وسلم bersabda,yang artinya:

"Dan siapa yang menyabarkan dirinya, Allah pun akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih lapang, yang diberikan kepada seseorang, melebihi kesabaran." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita punya banyak teladan dalam sejarah. Petiklah hikmah dari mereka, yang kesabaran menjadi penolongnya dalam mempertahankan keimanan. Bacalah kisah-kisah para nabi, orang-orang shiddîq, para syuhadâ dan shalihîn, yang memiliki kesabaran berlipat-lipat. "Ridhwânullâh ’alaihim jamî’an". Ridha Allah atas semua mereka.

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, pasti kamu beruntung." ( QS. Ali ’Imran : 200).

Yasir sekeluarga, رضي الله عنه , satu teladan tentang kesabaran yang hidup subur dalam dada sahabat Rasulullah. Tekanan mental dan siksaan raga, bahkan semakin menambah keyakinannya; kesabaran ternyata ’jalan pintas’ menuju surga. ”Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Balasan bagimu adalah surga,” begitu Rasulullah صلى الله عليه وسلم meyakinkan sahabat beliau yang mulia ini.

Karenanya, jika ujian semakin berat terasa, semoga kitalah pemilik keimanan yang tengah diuji oleh Rabb kita; Allah سبحانه وتعلى. Semoga juga, cerita kepemudaan kita, tidak lain ia tumbuh di atas jalan-jalan kebaikan, dengan hanya mengharap ridha, ampunan dan pahala di sisi Allah سبحانه وتعلى. Âmîn.
Wallâhu al-Muwaffiq.-Ali el-Makassary-

Inilah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengisahkan sepenggal suasana dari suasana-suasana Mahsyar. Hari itu, jarak matahari tidak lagi dihitung puluhan kilometer dari bumi, tapi bahkan lebih dekat lagi. Siapapun bisa menerka betapa dahsyatnya terik panas itu.

Hingga kucuran keringat mampu menenggelamkan pemiliknya. Sampai ada yang berharap, jika memang dirinya penghuni neraka, minta untuk segera dimasukkan saja ke sana, karena sudah tidak tahan merasakan bara panas daratan Mahsyar. Sebuah persangkaan keliru memang. Namun ini cukup menggambarkan kedahsyatan suasana di padang luas itu, pada hari itu.

Tapi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dalam suasana semacam itu, ’menghembuskan’ kabar menyejukkan ke dalam dada setiap sahabat, yang telah merasakan manisnya keimanan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkisah akan hari itu, bahwa ternyata ada hamba, yang justru menikmati keteduhan dan sejuknya bernaung di bawah ’arsy Allah سبحانه وتعلى. Tentu mereka yang merasakan itu, bukan orang sembarangan. Tapi mereka adalah hamba pilihan, yang memang dikenal kedekatan mereka dengan Rabbnya.

Tujuh kriteria hamba yang disebutkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang akan mendapatkan keutamaan zhilâl (naungan) itu, sebelum mereka bernikmat-nikmat di dalam jannah-Nya. Satu diantaranya, ”Pemuda yang tumbuh dengan senantiasa beribadah kepada Allah.” Inilah berita langit yang menggembirakan itu, yang disambut begitu antusias oleh para pemuda, pemilik iman dan ketakwaan saat itu.

Lalu, di sepanjang usia muda kita.........
Telahkah kita turut bergembira dengan kabar wahyu ini? Adakah jiwa kita terbawa ke suasana Mahsyar, ’mencoba’ merasakan kengeriannya, lalu kita pun menyibukkan diri dengan persiapan menuju ke sana, agar nantinya kita termasuk satu dari tujuh kelompok yang diistimewakan itu?

Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Rabbnya

Semoga saja, pemuda itu adalah kita. Pemuda yang bernikmat-nikmat dalam ibadah. Yang memuaskan batinnya dengan ibadah. Ibadah apapun, sepanjang itu dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعلى. Atau setidaknya, ada cita-cita yang dibarengi usaha menuju ke sana. Sedikit demi sedikit.

Ini, teramatlah penting untuk kita perhatikan. Karena masa muda yang tidak dipuaskan dalam ibadah, tentu kelemahan fisik di masa tua, semakin menghalangi kita dari ibadah tersebut. Berpuas-puas dengan ibadah, di sanalah keimanan menemukan manisnya. Letih memang di awalnya, tapi di ujungnya, manis dan sejuk yang terasa memenuhi relung jiwa. Jika sudah begini, bukankah di sini letaknya kebahagiaan?

Ketika hari ini, pikiran kita dicemari, diajarkan bahwa kebahagiaan hanya didapatkan dengan memuaskan hawa nafsu. Ketika hari ini, kita dibiasakan mencari kebahagiaan di jalan-jalan dosa dan kemaksiatan. Tibalah masanya, untuk menyadari bahwa kita ternyata ditipu. Sekaranglah waktunya, memahami bahwa hakikat kebahagiaan hanya kita dapatkan di atas jalan ketakwaan.

Di atas jalan ini, kita diingatkan, jelmaan kebahagiaan bukan pada menumpuknya simpanan harta, atau di atasnya kedudukan sosial kita, atau ketika dikelilingi wanita-wanita cantik nan menarik. Bukan di sana letaknya kebahagiaan. Dan bukan ke sana kita mencarinya.

Di atas jalan ini, kita diajari, semakin kita mendekat kepada Allah سبحانه وتعلى, semakin ia begitu terasa kehadirannya. Demikianlah, ketetapan Allah سبحانه وتعلى yang berlaku bagi hamba-Nya.

Memang, tidak mudah meraihnya, sebab ia barang termahal kehidupan. Dan ia, sepenuhnya milik hamba yang dipenuhi dadanya dengan keimanan, yang selalu menghamba kepada Allah Rabbul ’Izzah. Karenanya, ia tidak berujung seiring berhentinya menghirup nafas kehidupan. Bahkan terus, hingga kaki menapak masuk ke dalam jannah-Nya.

Berbeda orang yang kufur kepada Rabbnya, atau yang menyia-nyiakan hidupnya di jalan panjang kemaksiatan. Mungkin juga sempat merasakan kebahagiaan itu. Tapi tidak berapa lama. Sedang di akhirat, siksaan dan azab yang keras, hanya itu yang diterima.
Padahal, akhirat itulah yang kekal. Dan perjalanan ke sana lebih membutuhkan perbekalan.

Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya,
"Dan berbekallah, sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa." ) QS. Al-Baqarah: 197(.
Karenanya, ketika Allah سبحانه وتعلى menunjukkan kita jalan untuk merasakan manisnya keimanan, jangan pernah menyia-nyiakannya. Meskipun berhadapan dulu dengan berlapis-lapis ujian.

Firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ’kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-’Ankabut: 2-4).

Ketika keimanan kita diuji, dengan bertebarannya aurat wanita yang bebas dinikmati kapan saja.

Ketika bara syahwat mendidih-didih, lalu peluang melampiaskannya terbentang luas di depan mata.

Ketika ukhti kita telah memahami akan wajibnya hijab syar’i, lalu larangan justru datang dari orang yang paling dicintainya; orang tua mereka.

Ketika istiqamah semakin terasa sulit di saat-saat sendirian, sedangkan keimanan bisa saja tergadaikan dengan kesenangan dunia yang menggiurkan.

Ingatkan hati kita akan indahnya kesabaran.

"Fashbir shabran jamîlan", maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang baik. Dan pahamilah, kita tak sendirian dalam ujian. Hanya saja tingkatan ujian itu tak sama untuk setiap hamba. Ia bergantung setinggi mana takwa dan keimanan kita kepada Allah سبحانه وتعلى. Karenanya, ucapkanlah apa yang diucapkan Nabiyyullah Ya’qub, "fashabrun jamîl", maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).

Memang, ujian itu berat bagi hati. Bahkan kadang terlampau berat, di sela-sela kita menapaki jalan kehidupan. Jika sudah begini, bisikkan ke hati dan telinga kita; beginilah cara Allah menunjukkan cinta-Nya kepada sang hamba.

Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45,46).
Di ayat yang lain Allah سبحانه وتعلى mengabarkan, artinya,

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar." (QS. Fushshilat: 35).

Rasululullah صلى الله عليه وسلم bersabda,yang artinya:

"Dan siapa yang menyabarkan dirinya, Allah pun akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih lapang, yang diberikan kepada seseorang, melebihi kesabaran." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita punya banyak teladan dalam sejarah. Petiklah hikmah dari mereka, yang kesabaran menjadi penolongnya dalam mempertahankan keimanan. Bacalah kisah-kisah para nabi, orang-orang shiddîq, para syuhadâ dan shalihîn, yang memiliki kesabaran berlipat-lipat. "Ridhwânullâh ’alaihim jamî’an". Ridha Allah atas semua mereka.

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah, pasti kamu beruntung." ( QS. Ali ’Imran : 200).

Yasir sekeluarga, رضي الله عنه , satu teladan tentang kesabaran yang hidup subur dalam dada sahabat Rasulullah. Tekanan mental dan siksaan raga, bahkan semakin menambah keyakinannya; kesabaran ternyata ’jalan pintas’ menuju surga. ”Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Balasan bagimu adalah surga,” begitu Rasulullah صلى الله عليه وسلم meyakinkan sahabat beliau yang mulia ini.

Karenanya, jika ujian semakin berat terasa, semoga kitalah pemilik keimanan yang tengah diuji oleh Rabb kita; Allah سبحانه وتعلى. Semoga juga, cerita kepemudaan kita, tidak lain ia tumbuh di atas jalan-jalan kebaikan, dengan hanya mengharap ridha, ampunan dan pahala di sisi Allah سبحانه وتعلى. Âmîn.
Wallâhu al-Muwaffiq.-Ali el-Makassary-

Generasi Muda, Aset Islam

Generasi harapan, merekalah generasi muda, karena merekalah yang mendominasi jumlah pasukan yang berjihad bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Sebagian besar penceramah dan singa podium di masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga generasi muda. Para utusan dan ajudan Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga generasi muda. Generasi muda yang seperti inilah yang menjadi orang-orang pilihan, menjadi pelita hidup dan menjadi panutan yang dapat dibanggakan.
Sementara keadaan generasi kita sekarang sangat bertolak belakang dengan generasi pertama tadi. Mereka larut dengan arus syahwat yang mendera dan arus syubhat yang mengalir. Sehingga cahaya dan pelita hidup yang dibawa oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم semakin redup dan hampir tak bersinar lagi.
Mereka adalah generasi muda yang tidak pernah menghadiri acara ceramah agama. Tidak pernah menghadiri kajian yang membahas tentang keistiqamahan (komitmen terhadap ajaran Islam) dan perbaikan diri. Generasi muda yang tidak menjaga shalat lima waktu secara berjamaah, padahal mereka mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya. Meskipun demikian, sebenarnya di dalam hati mereka, masih terdapat sisa-sisa pancaran iman. Iman itu sama sekali belum tercabut dari dalam hati mereka. Namun, biji dan pancaran iman masih terasa dan masih ada.
Meskipun sebagian di antara mereka lebih suka mendengarkan nyanyian-nyanyian cengeng dan murahan daripada mendengarkan ayat-ayat Allah. Meskipun sebagian besar dari mereka lebih gemar membuka dan membaca majalah-majalah mesum pengumbar dosa daripada membuka dan mengkaji hadits-hadits Nabi yang diwariskan oleh sang pendidik kebaikan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم.Akan tetapi, mereka masih memiliki fitrah. Di lubuk hati mereka yang paling dalam terukir kalimat “Lâ ilâha illallâh, Muhammadun Rasûlullâh”. Ketika kepala mereka keluar dari perut ibu mereka menuju permukaan bumi, masing-masing membawa prinsip tauhid (pengesaan Allah).
Allah سبحانه وتعلى berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (ke-Esaan Allah)”.” (QS. Al A’râf: 172).
Sesungguhya di dalam jiwa generasi muda masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم. Cinta mereka akan tampak ketika terjadi berbagai benturan. Contoh, kita mungkin pernah melihat seorang pemuda yang memegang rokok di tangan kanannya dan memegang majalah porno di tangan kirinya. Kita mendapatinya sering bermain dan lalai. Kita mendapatinya menyandang dan memainkan senar gitar dan alat-alat musik lainnya. Namun jangan coba-coba menghina dan mengejek Nabi Muhammad di hadapannya, karena dia akan mempertaruhkan jiwanya dengan harga murah, untuk menghajar penghina itu.Sebagian generasi ini ada yang tidak melaksanakan shalat—padahal orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Namun manakala dia dipanggil dengan “wahai orang kafir”, maka dia akan murka dan berkelahi, bahkan akan mempertaruhkan nyawanya. Karena baginya, kekafiran adalah dosa dan aib yang paling besar.
Seseorang dari mereka tidak akan rela bila kita memanggilnya dengan “Wahai orang fasik!”, “Wahai orang kafir!”. Dia juga tidak akan rela bila kita merobek-robek Al Qur’an.Sebenarnya, generasi seperti ini, masih jauh lebih baik dan lebih utama daripada generasi kesesatan—semoga Allah membinasakan mereka—yaitu mereka yang mengambil Al Qur’an, lalu merobek-robeknya di jalan-jalan raya dan menginjak-nginjaknya dengan sepatu-sepatu berlaras. Mereka jauh lebih terhormat daripada para penyeru kesesatan, yaitu orang-orang yang bergerombol di jalan-jalan, berteriak-teriak menolak hukum Allah dengan keangkuhan.
Akan tetapi, apabila generasi harapan kita ini terus-menerus dalam kelalaian, hal ini akan menjadi ancaman dan bahaya yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat dan umat Islam. Hendaknya generasi muda harapan umat itu memikirkan nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak dan agung baginya. Allah telah memberikan mata, pendengaran, penglihatan, hati dan berbagai karunia yang sangat banyak kepadanya. Allah juga telah memberikan usia muda, kekuatan, dan harta benda kepadanya.
Apakah semua itu hanya akan dibalas dengan pergi, bermain, dan menyia-nyiakan berbagai nikmat dan karunia yang besar ini?
Apakah balasan nikmat kesehatan, kesempatan, dan harta dengan pergi ke tempat-tempat hiburan? Beginikah kita membalas semua karunia ini?
Beginikah cara kita membalas semua kebaikan ini?
Seseorang di antara mereka ada yang seperti tiang kapal yang kokoh dan berbadan kekar! Akan tetapi, ketika waktu shalat tiba, dia sama sekali tidak bergeming, tidak beranjak pergi. Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya: “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al Munâfiqûn: 4).
Seseorang di antara mereka, ada pula yang begitu semangat menghajar saudaranya sesama pelajar lantaran hal sepele, namun ketika melihat saudarinya diganggu lelaki hidung belang, dia tak mampu menggerakkan tangannya untuk membelanya.Kita bertanya kepada para generasi muda harapan Islam: Apakah dirinya sendiri rela menerima keadaannya seperti ini? Apakah dia rela menerima kalau anaknya juga nanti seperti dirinya? Baik itu sebagai pelajar atau pun mahasiswa yang gemar tawuran? Sebagai pengedar atau pun konsumen narkotika? Meninggalkan shalat, atau bersama nyanyian-nyanyian cengeng dan murahan, atau terbelenggu nafsu syahwatnya?
Demi Allah, kalau orang itu masih berakal sehat, dia tidak akan rela dengan semua ini! Tetapi—Maha Suci Allah, hawa nafsu itu sungguh membutakan. Barangkali kalau kita mengingatkan pemuda ini dengan seseorang yang disiksa di dalam api neraka, mungkin dia akan menangis. Tetapi dirinya sendiri tidak merenungkannya dan tidak mengajaknya untuk menghayatinya.
Sesungguhnya pintu taubat senantiasa masih terbuka lebar untuk kita semua. Pintu itu tidak akan ditutup, sampai matahari terbit dari arah barat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya pada setiap malam, Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya, agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari bertaubat. Allah juga membentangkan tangan-Nya pada siang hari, agar orang yang berbuat kejelekan pada malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim).
Maka marilah kita semua segera bertaubat kepada Allah سبحانه وتعلى.
Generasi Muda, Mereka yang Istiqamah Mereka yang dihina, dikucilkan, hanya karena mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan dituduh dengan tuduhan bahwa mereka menganut agama baru, kader-kader teroris! Orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan, “Kalau Al Qur’an ini benar, tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah, seperti Bilâl, ‘Ammâr, Shuhaib, Khabbâb, dan sebagainya.”
Mereka berkata sebagaimana dikutip dalam Al Qur’an:“Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal orang-orang yang mengikuti kamu adalah orang-orang hina?” (QS. Asy-Syu’arâ: 111). Kebanyakan dari generasi muda yang komitmen terhadap agama ini telah mendapati berbagai fitnah, tuduhan, serta komentar pahit dari para durjana, hanya karena mereka mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka tidak mengomentari orang-orang yang mencukur jenggotnya, mengapa ia mencukurnya? Mereka juga tidak mengomentari orang-orang yang memanjangkan pakaiannya melewati mata kaki, mengapa ia memanjangkannya? Mana komentar mereka terhadap perempuan-perempuan berpakaian seronok dan tak bermoral, mengapa mereka mengenakannya? Tidak juga kepada orang yang minum arak, mengapa dia minum arak? Tidak pula kepada orang yang membawa majalah mesum dan porno, mengapa dia membawa majalah tersebut? Tetapi, Mereka justru memberikan komentar miring kepada para wali Allah, hanya karena mereka mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Wallâhul Musta’ân.Sumber: Fityatun Âmanû bi Rabbihim, karya Syaikh DR. ‘Âidh al Qarnî, dengan beberapa perubahan dari redaksi
Generasi harapan, merekalah generasi muda, karena merekalah yang mendominasi jumlah pasukan yang berjihad bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Sebagian besar penceramah dan singa podium di masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga generasi muda. Para utusan dan ajudan Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga generasi muda. Generasi muda yang seperti inilah yang menjadi orang-orang pilihan, menjadi pelita hidup dan menjadi panutan yang dapat dibanggakan.
Sementara keadaan generasi kita sekarang sangat bertolak belakang dengan generasi pertama tadi. Mereka larut dengan arus syahwat yang mendera dan arus syubhat yang mengalir. Sehingga cahaya dan pelita hidup yang dibawa oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم semakin redup dan hampir tak bersinar lagi.
Mereka adalah generasi muda yang tidak pernah menghadiri acara ceramah agama. Tidak pernah menghadiri kajian yang membahas tentang keistiqamahan (komitmen terhadap ajaran Islam) dan perbaikan diri. Generasi muda yang tidak menjaga shalat lima waktu secara berjamaah, padahal mereka mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya. Meskipun demikian, sebenarnya di dalam hati mereka, masih terdapat sisa-sisa pancaran iman. Iman itu sama sekali belum tercabut dari dalam hati mereka. Namun, biji dan pancaran iman masih terasa dan masih ada.
Meskipun sebagian di antara mereka lebih suka mendengarkan nyanyian-nyanyian cengeng dan murahan daripada mendengarkan ayat-ayat Allah. Meskipun sebagian besar dari mereka lebih gemar membuka dan membaca majalah-majalah mesum pengumbar dosa daripada membuka dan mengkaji hadits-hadits Nabi yang diwariskan oleh sang pendidik kebaikan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم.Akan tetapi, mereka masih memiliki fitrah. Di lubuk hati mereka yang paling dalam terukir kalimat “Lâ ilâha illallâh, Muhammadun Rasûlullâh”. Ketika kepala mereka keluar dari perut ibu mereka menuju permukaan bumi, masing-masing membawa prinsip tauhid (pengesaan Allah).
Allah سبحانه وتعلى berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (ke-Esaan Allah)”.” (QS. Al A’râf: 172).
Sesungguhya di dalam jiwa generasi muda masih terdapat rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم. Cinta mereka akan tampak ketika terjadi berbagai benturan. Contoh, kita mungkin pernah melihat seorang pemuda yang memegang rokok di tangan kanannya dan memegang majalah porno di tangan kirinya. Kita mendapatinya sering bermain dan lalai. Kita mendapatinya menyandang dan memainkan senar gitar dan alat-alat musik lainnya. Namun jangan coba-coba menghina dan mengejek Nabi Muhammad di hadapannya, karena dia akan mempertaruhkan jiwanya dengan harga murah, untuk menghajar penghina itu.Sebagian generasi ini ada yang tidak melaksanakan shalat—padahal orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Namun manakala dia dipanggil dengan “wahai orang kafir”, maka dia akan murka dan berkelahi, bahkan akan mempertaruhkan nyawanya. Karena baginya, kekafiran adalah dosa dan aib yang paling besar.
Seseorang dari mereka tidak akan rela bila kita memanggilnya dengan “Wahai orang fasik!”, “Wahai orang kafir!”. Dia juga tidak akan rela bila kita merobek-robek Al Qur’an.Sebenarnya, generasi seperti ini, masih jauh lebih baik dan lebih utama daripada generasi kesesatan—semoga Allah membinasakan mereka—yaitu mereka yang mengambil Al Qur’an, lalu merobek-robeknya di jalan-jalan raya dan menginjak-nginjaknya dengan sepatu-sepatu berlaras. Mereka jauh lebih terhormat daripada para penyeru kesesatan, yaitu orang-orang yang bergerombol di jalan-jalan, berteriak-teriak menolak hukum Allah dengan keangkuhan.
Akan tetapi, apabila generasi harapan kita ini terus-menerus dalam kelalaian, hal ini akan menjadi ancaman dan bahaya yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat dan umat Islam. Hendaknya generasi muda harapan umat itu memikirkan nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak dan agung baginya. Allah telah memberikan mata, pendengaran, penglihatan, hati dan berbagai karunia yang sangat banyak kepadanya. Allah juga telah memberikan usia muda, kekuatan, dan harta benda kepadanya.
Apakah semua itu hanya akan dibalas dengan pergi, bermain, dan menyia-nyiakan berbagai nikmat dan karunia yang besar ini?
Apakah balasan nikmat kesehatan, kesempatan, dan harta dengan pergi ke tempat-tempat hiburan? Beginikah kita membalas semua karunia ini?
Beginikah cara kita membalas semua kebaikan ini?
Seseorang di antara mereka ada yang seperti tiang kapal yang kokoh dan berbadan kekar! Akan tetapi, ketika waktu shalat tiba, dia sama sekali tidak bergeming, tidak beranjak pergi. Allah سبحانه وتعلى berfirman, artinya: “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar.” (QS. Al Munâfiqûn: 4).
Seseorang di antara mereka, ada pula yang begitu semangat menghajar saudaranya sesama pelajar lantaran hal sepele, namun ketika melihat saudarinya diganggu lelaki hidung belang, dia tak mampu menggerakkan tangannya untuk membelanya.Kita bertanya kepada para generasi muda harapan Islam: Apakah dirinya sendiri rela menerima keadaannya seperti ini? Apakah dia rela menerima kalau anaknya juga nanti seperti dirinya? Baik itu sebagai pelajar atau pun mahasiswa yang gemar tawuran? Sebagai pengedar atau pun konsumen narkotika? Meninggalkan shalat, atau bersama nyanyian-nyanyian cengeng dan murahan, atau terbelenggu nafsu syahwatnya?
Demi Allah, kalau orang itu masih berakal sehat, dia tidak akan rela dengan semua ini! Tetapi—Maha Suci Allah, hawa nafsu itu sungguh membutakan. Barangkali kalau kita mengingatkan pemuda ini dengan seseorang yang disiksa di dalam api neraka, mungkin dia akan menangis. Tetapi dirinya sendiri tidak merenungkannya dan tidak mengajaknya untuk menghayatinya.
Sesungguhnya pintu taubat senantiasa masih terbuka lebar untuk kita semua. Pintu itu tidak akan ditutup, sampai matahari terbit dari arah barat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya pada setiap malam, Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya, agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari bertaubat. Allah juga membentangkan tangan-Nya pada siang hari, agar orang yang berbuat kejelekan pada malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim).
Maka marilah kita semua segera bertaubat kepada Allah سبحانه وتعلى.
Generasi Muda, Mereka yang Istiqamah Mereka yang dihina, dikucilkan, hanya karena mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan dituduh dengan tuduhan bahwa mereka menganut agama baru, kader-kader teroris! Orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan, “Kalau Al Qur’an ini benar, tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah, seperti Bilâl, ‘Ammâr, Shuhaib, Khabbâb, dan sebagainya.”
Mereka berkata sebagaimana dikutip dalam Al Qur’an:“Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal orang-orang yang mengikuti kamu adalah orang-orang hina?” (QS. Asy-Syu’arâ: 111). Kebanyakan dari generasi muda yang komitmen terhadap agama ini telah mendapati berbagai fitnah, tuduhan, serta komentar pahit dari para durjana, hanya karena mereka mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka tidak mengomentari orang-orang yang mencukur jenggotnya, mengapa ia mencukurnya? Mereka juga tidak mengomentari orang-orang yang memanjangkan pakaiannya melewati mata kaki, mengapa ia memanjangkannya? Mana komentar mereka terhadap perempuan-perempuan berpakaian seronok dan tak bermoral, mengapa mereka mengenakannya? Tidak juga kepada orang yang minum arak, mengapa dia minum arak? Tidak pula kepada orang yang membawa majalah mesum dan porno, mengapa dia membawa majalah tersebut? Tetapi, Mereka justru memberikan komentar miring kepada para wali Allah, hanya karena mereka mengikuti sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Wallâhul Musta’ân.Sumber: Fityatun Âmanû bi Rabbihim, karya Syaikh DR. ‘Âidh al Qarnî, dengan beberapa perubahan dari redaksi