web 2.0
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2008

Buta Islam, Bagaimana Mengobatinya?


Islam adalah agama ilmu dan pengajaran, agama yang nyata dan jelas. Setiap Muslim memiliki ilmu yang pasti dan benar yang tidak dimiliki oleh pakar-pakar dan budayawan-budayawan non-Muslim.

Dia mengetahui bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dia juga mengetahui; bagaimana awal mula penciptaan manusia, untuk apa diciptakan, dan kemana akan kembali.

Seorang Muslim juga beriman (percaya dan membenarkan) adanya kebangkitan setelah kematian. Adanya surga dan neraka. Ini adalah sebagian ilmu yaqini (pasti kebenarannya) yang tidak seorang pun memilikinya selain Muslim.

Karenanya, bukan sesuatu keanehan jika ayat pertama dari Al-Quran yang diturunkan berkaitan dengan perintah untuk membaca, di mana ia merupakan alat untuk mendapatkan ilmu:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-Alaq: 1).

Dan juga bukan suatu yang mengherankan jika Allah Ta’ala mengokohkan manusia dengan mengajarinya tentang Al-Qur’an, sebelum dikuatkan penciptaan dan pengadaannya

"(Tuhan) Yang Mahapemurah. Yang mengajarkan Al-Quran. Dialah yang menciptakan manusia." (QS. Ar-Rahman: 1-3).

Dengan membaca nash-nash (baik ayat maupun hadits) yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan dorongan untuk memperolehnya, seorang Muslim akan sampai kepada arti pentingnya ilmu, bahwa ilmu yang sangat perlu untuk dicari adalah ilmu tentang Allah, ayat-ayat, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Dia merupakan santapan bagi jiwa, menggembirakan hati, dan sebab yang mengantarkan kepada keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nilai Sebuah Ilmu
Manakala ilmu menjadi landasan maka ukuran-ukuran pun tepat dan timbangan-timbangan pun lurus. Ilmu (ilmu agama) merupakan barometer dan pondasi di mana ilmu-ilmu yang lain dibangun di atasnya dari tempat keluarnya. Allah Ta’ala berfirman, artinya:

“Katakan, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar: 9).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, artinya:

"Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujaadalah: 11).

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui haditsnya bersabda, artinya,

“Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)

Dalam sabdanya yang lain beliau juga bersabda,

“Keutamaan orang berilmu dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan dengan bintang-bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sabda beliau yang lain,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Sebuah Ironi
Kita sama sekali tidak mengecilkan arti pentingnya ilmu-ilmu dunia. Ia tetap mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kaum Muslimin. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Seperti halnya keterbelakangan kaum Muslimin dalam ilmu-ilmu ini, mempunyai andil bagi lemahnya kaum Muslimin. Ini merupakan perkara yang sudah diketahui oleh umum. Akan tetapi kita tidak setuju dengan orang yang menjadikan ilmu dunia sebagai pondasi bagi kemajuan dan ukuran keutamaan dalam bidang ilmu dan pengetahuan, serta lebih mengedepankannya dari ilmu-ilmu syariah yang beraneka-ragam.

Mengapa kita tidak saling bertanya apa yang menyebabkan kaum Muslimin buta terhadap urusan-urusan agama mereka? Dan ketidaktahuan mereka terhadap kaedah-kaedah agama Islam yang paling sederhana sekalipun? Ini merupakan suatu keadaan aneh yang perlu segera dihentikan, serta disembuhkan dari pengaruhnya yang buruk.

Merupakan suatu hal yang menyakitkan, pada hari ini kita mendapati di kalangan umat Islam, orang yang mampu menulis dan berbicara tentang segala sesuatu secara mendalam serta bebas, dalam masalah ekonomi, politik, sastra, dan kebudayaan. Akan tetapi ia tidak mampu untuk menjabarkan (bukan sekadar hapal) pengertian Islam dan rukun-rukunnya, rukun iman dan dasar-dasarnya, tauhid dan macam-macamnya, pembatal-pembatal keislaman, demikian juga shalat beserta rukun-rukun, syarat-syarat dan kewajiban-kewajibannya.

Di antara kaum Muslimin sekarang ada orang yang mempunyai ijazah bertumpuk-tumpuk dan gelar berderet-deret, telah mencapai usia separuh baya akan tetapi hampir tidak mampu untuk mengucapkan satu huruf Al-Quran, apalagi untuk membaca satu surat dari Al-Quran dengan tartil (sesuai kaedah-kaedah tajwid). Suatu pemandangan yang menyedihkan memang.

Obat yang Tepat
Sesungguhnya berterus terang tentang penyakit yang diidap merupakan pintu pertama pengobatan. Dan mengakui kekurangan kita dalam mempelajari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya merupakan jalan pertama untuk memperbaiki dan meluruskannya.

Allah Ta’ala tidaklah membebani kita dengan beban yang berat. Kita tidak harus mengetahui semua permasalahan dalam agama Islam hingga masalah yang sekecil-kecilnya, tidak demikian. Cukuplah bagi kita seperti yang ditunjukkan firman Allah berikut ini, artinya:

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang ). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122).

Perlu ditekankan di sini, hal ini tidak berarti seorang Muslim itu berpaling dan membiarkan dirinya tidak mempelajari pokok-pokok dan akidah-akidah agama Islam.

Tanyakan kepada diri kita sendiri, berapa jam dalam satu pekan kita mengkhususkan untuk membaca Al-Quran serta mempelajarinya? Berapa waktu yang kita luangkan dalam satu pekan untuk mengkhususkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, atau ceramah-ceramah agama? Apakah kita mengambil manfaat dari perkembangan teknologi komunikasi untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat, melalui kaset, buku, dan situs-situs informasi dunia? Atau memfokuskan diri kita untuk belajar pada institusi pendidikan Islam yang mengkaji Islam secara komprehensif?

Kesibukan para as-salaf as-shaleh (pendahulu-pendahulu kita dari sahabat, tabi’in, dan yang mengikutinya—semoga Allah meridhai mereka semua—dengan pekerjaan-pekerjaan hariannya, tidak melalaikan mereka untuk menyisihkan sebagian dari waktunya untuk menuntut ilmu syar’i. Urusan itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Ia membutuhkan keikhlasan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman, artinya:

"Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu." (QS. Al-Baqarah: 282).


Perkara ini juga membutuhkan langkah awal untuk memulainya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan dengannya jalan menuju surga..” (HR. Muslim)

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, Dia akan membuat orang itu paham terhadap agama Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, semoga keselamatan dan kesejahteraan Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad salallahu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Oleh : DR. ‘Aadil ibn ‘Ali As-Syuddie(Pengajar Pada Fakultas Kebudayaan Islam Universitas Malik Su’ud Riyadh- Kerajaan Saudi Arabia)
Sumber : “Yayasan Al-Sofwa” (Al Fikrah)



Sabtu, Mei 24, 2008

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Saat ini, keberadaan maksiat dipandang sebagai sebuah tradisi yang wajar. Bahkan dianggap kebutuhan pokok oleh sekelompok orang. Walhasil, pancaindera kita pun akrab dengan pelbagai bentuk kemaksiatan. Mulai dari yang kecil hingga yang serius. Padahal Islam mengajarkan, maksiat betapa pun kecil dan remeh bentuknya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan pribadi pelakunya dan masyarakat. Tak hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia.


Mungkin seorang yang bermaksiat mendapatkan kesenangan saat melakukan kemaksiatan itu. Mungkin juga ia mendapatkan kenikmatan yang dirasakan ketika tengah berkubang dalam kemaksiatan tersebut. Namun, kesenangan yang dirasakannya itu hanyalah kesenangan yang menipu.

Kenikmatan yang dirasakan itu tak lain adalah kenikmatan palsu. Semua itu karena pelaku maksiat tersebut hanya akan membuat murka Allah, Dzat yang telah menciptakan dirinya. Sekaligus menantang permusuhan kepada-Nya. Pelaku maksiat juga telah menyerobot sesuatu yang bukan menjadi hak dia untuk dikerjakan. Sehingga, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan damai? Dan bagaimana jiwanya bisa tenang? Sedangkan Allah سبحانه وتعلى berfirman di dalam Al-Qur’an, artinya:

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa: 14).

PENYEBAB UTAMA KEMAKSIATAN
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang besar maupun yang kecil ada tiga, yaitu:

Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah. Kedua, menuruti dorongan amarah. Ketiga, menuruti dorongan syahwat. Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan keji.

Bentuk keterkaitan hati kepada selain Allah cabang-cabangnya begitu banyak dan tingkatan tertinggi di cabang tersebut ialah syirik serta mengakuai keberadaan ilah selain Allah. Sedangkan bentuk menuruti dorongan amarah juga memiliki cabang-cabang di ataranya membunuh jiwa yang diharamkan Allah, inilah cabang tertinggi. Dan bentuk menuruti dorongan syahwat yang tertinggi dalam cabang-cabangnya ialah melakukan perbuatan zina. Oleh karena itulah Allah mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,…" (QS. Al-Furqan: 68).

Ketiga perbuatan di atas saling tarik menarik. Syirk menarik seseorang kepada kezhaliman dan perbuatan keji, sebagaimana ikhlas dan tauhid akan menjauhkan seseorang dari kezhaliman dan kekejian itu. Demikian juga kezhaliman, ia menarik seseorang pada syirik dan pebuatan keji, sebab syirik adalah puncak dari segala kezhaliman seperti yang difirmankan oleh Allah:

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Dan perbuatan keji itu sendiri juga dapat menyeret pelakunya kepada perbuatan syirik dan kezhaliman. Ketiganya saling berkaitan, yang satu mengajak kepada yang lain. Jika perbuatan ketiga di atas ada di dalam diri seseorang maka itu adalah akar dari kemaksiatan yang akan menjadi besar ketika seseorang itu tidak mengetahuinya.

AKIBAT MAKSIAT
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberitahukan kepada kita, bahwa perbuatan dosa dan maksiat bisa membahayakan hati seseorang. Efek ini akan semakin parah jika pelaku kemaksiatan itu makin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, serta enggan beristighfar dan bertaubat. Sebaliknya, efek negatif ini akan semakin menyusut seiring dengan berkurangnya maksiat, disertai dengan istghfar dan taubatan nashuha.

Di hari kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dahsyatnya hari tersebut, kecuali orang yang menghadap Rabb-nya dengan hati yang bersih dari syubhat yang menyesatkan, dan syahwat yang mencelakakan. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,

"Di hari harta dan anak-anak laki-laki tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-syu’ra : 88-89).

Dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga menggambarkan hati seseorang ketika melakukan kemaksiatan dan seseorang yang sering beristghfar, beliau bersabbda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُه
ُ


"Sesungguhanya seorang mukmin jika melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya noktah hitam. Maka jika ia tidak mengulanginya lagi dan beristighfar dan bertaubat, hatinya akan kembali putih bersih." (HR. Ahmad).

Begitulah gambaran orang-orang yang melakukan kemaksiatan, apabila seorang pelaku maksiat terus-menerus mengerjakan dosa, maka perbuatannya itu akan menutup hatinya sehigga ia tidak dapat menerima kebenaran kecuali dengan izin-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ran (tutup) seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, artinya,

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Jadi orang-orang yang sering melakukan maksiat maka hatinya akan sulit menerima kebenaran, walaupun seluruh manusia dan jin dikumpulkan di permukaan bumi ini untuk memberikan ketenangan pada hatinya atau kebenaran maka mereka takkan sanggup. Karena hanya Allahlah yang dapat memberikan ketenangan hati kepada hamba-hamba-Nya.

Allah سبحانه وتعلى juga mengancam dengan neraka Jahannam-Nya bagi orang-orang yang tidak mempergunakan hatinya, matanya dan telinganya dengan baik. Seperti di dalam firman-Nya, artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan menusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raf: 179).

MAKSIAT BESELUBUNG TAKDIR
Pelaku maksiat ketika ditanyakan kepadanya, mengapa Anda terus-menerus melakukan kemaksiatan? Maka mereka pun berdalih, “Kalau memamang Allah telah menakdirkanku untuk berbuat maksiat sebelum aku diciptakan bahkan sebelum langit dan bumi diciptakan bagaimana mungkin aku menghindari sesuatu yang telah ditakdirkan-Nya terjadi padaku?" Maka apa jawaban kita kepada mereka yang berdalih seperti itu?

Dengan tegas kita katakan kepadanya bahwa Al Qur’an telah menjelaskan kebatilan dalih mereka. Juga telah mematahkan anggapan dan pemahaman keliru mereka, serta menerangkan bahwa semua itu tidak ada gunanya bagi mereka pada hari kiamat kelak. Masalah takdir adalah masalah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah. Masalah takdir baru akan diketahui oleh selain-Nya setelah takdir tersebut terjadi. Lalu dari mana seorang pelaku maksiat mengetahui kalau Allah telah menakdirkannya melakukan maksiat, sehingga ia dengan sesuka hati melakukan kemaksiatan?

Allah سبحانه وتعلى telah memuliakan manusia dengan memberikan mereka akal dan pemahaman. Dia juga telah menurunkan kitap suci dan mengutus para rasul untuk memberikan penjelasan kepada kaumnya agar mereka mudah memahami dengan benar antara yang haq dan yang batil. Tidak hanya sampai di situ, Allah سبحانه وتعلى juga menganugerahkan kepada hamba-Nya rasa iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan), di mana keduanya bisa ia pergunakan untuk menempuh salah satu jalan dari dua jalan yang ada.


Misalnya, ketika seseorang diperhadapkan dengan suatu masalah. Yaitu ketika seseorang ingin mengadakan suatu perjalanan ke suatu negeri, dan dia memiliki dua alternatif jalan yang bisa dilewatinya. Yang pertama, jalan yang sangat mudah lagi aman. Sedangkan jalan yang kedua, jalan yang sulit dan penuh bahaya, maka secara akal sehat pasti orang itu lebih memilih jalan yang pertama dan tidak memilih melewati jalan yang kedua. Bukankah seandainya jika dia memilih jalan yang kedua dan berdalih bahwa yang demikian sudah ditakdirkan oleh Allah terjadi padanya, tentulah orang-orang akan mengatakan kepadanya sebagai orang yang tidak memiliki “akal sehat”? Mengapa? Karena ia sudah tahu masalah tersebut sebelum ia mengerjakanya. Jadi ketika suatu kemaksiatan yang sudah diketahui dampak keburukannya bagi seseorang, mengapa masih dikerjakan?


Sebenarnya persoalan ini sudah jelas titik terangnya. Namun hawa nafsu pelaku maksiat itulah yang membutakan dan menulikan jiwanya. Dan dalih yang dipakai oleh si pelaku maksiat untuk membenarkan maksiatnya kepada Allah itu tidak bisa dibenarkan, karena ia melakukan kemaksiatan itu dengan sengaja. Ia sebenarnya tidak tahu apakah hal tersebut telah ditakdirkan oleh Allah terjadi pada dirinya. Sebab memang tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hal itu kecuali Allah, atau hal itu benar-benar telah terjadi. Sebagai mana firman-Nya,


"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok…" (QS. Luqman: 34).


Jika demikian halnya, maka bagaimana mungkin bisa dibenarkan seseorang yang berdalih dengan hal-hal yang tidak diketahuinya ketika ia telah melakukan maksiat, kemudian menginginkan dispensasi untuk maksiatnya tersebut?


TAUBAT SEBELUM AJAL

Iblis telah dilaknat dan diturunkan dari tempat kediamannya yang penuh kemulian hanya karena dia tidak mengerjakan satu sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam Alaihissalam telah dikeluarkan dari surga hanya disebabkan oleh sesuap makanan. Maka janganlah seseorang merasa aman bila kelak Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka hanya karena satu maksiat yang telah kita lakukannya. Sebagaimana firman-Nya, artinya,


"Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu." (QS. Asy-Syams: 15).


Kehidupan seseorang memang tergantung kepada amalan akhirnya yang diperbuatnya. Siapa saja yang shalat kemudian berhadats sesaat sebelum salam, maka shalatnya secara keseluruhan manjadi batal. Begitu juga orang yang di akhir kehidupannya dia melakukan dosa sesaat sebelum matinya, maka dia akan bertemu dengan Allah dengan keseluruhan usianya yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Maka adakah orang yang mengetahui akhir kehidupannya? Jika memang tidak ada, maka apalagi yang kita tunggu? Marilah kita segera bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada-Nya.Abdul Rasyid Yusuf .(Al Fikrah)


Minggu, Januari 27, 2008

Bangkitlah Ummatku

Tidak asing lagi fakta kehidupan yang sedang dijalani oleh umat islam sekarang ini, berbagai petaka, bencana, penindasan, pelecehan dan berbagai fakta pilu lainnya. Dari hari ke hari, pendengaran kita tiada hentinya mendengarkan berbagai berita yang menyayat-nyayat hati, mata kita membaca berbagai lembaran kelam dari sejarah umat Islam.

Musuh-musuh dari segala aliran dan bangsa dengan bengisnya menindas, menjajah, dan merampas hak umat Islam. Dengan segala kerakusan dan keserakahannya mereka merampas segala keindahan umat Islam. Semua itu berlangsung tanpa ada daya dan upaya yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk menangkal atau menyingkapnya.

Fakta ini benar-benar seperti yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits berikut:

"Tak lama lagi berbagai bangsa akan ramai-ramai bersekongkol atas kalian, bak persekongkolan para pemakan ramai-ramai menuju kepada piring hidangannya. Maka seorang sahabat bertanya: Apakah karena kami kala itu berjumlah sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih bak buih air bah, dan sungguh Allah akan menyirnakan rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Ia akan mencampakkan Al Wahanu di jantung-jantung kalian. Maka salah seorang sahabat berkata: Wahai Rasulullah, apakah Al Wahanu itu? Beliau menjawab: Cinta terhadap dunia dan benci akan kematian." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, serta dishahihkan oleh Al Albany)

Walau demikian, kita tidak boleh berkecil hati atau merasa putus asa, karena Allah ta'ala telah memberikan jaminan bahwa kemenangan, dan kejayaan pasti akan menghampiri hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa:


وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

"Dan sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam Zabur sesudah (Kami tuliskan dalam Laih Mahfuzh) bahwasannya bumi ini akan di warisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh." (QS. Al Anbiya': 105)

Ibnu Katsir berkata: "Allah ta'ala mengabarkan bahwa hal ini (kemenangan orang-orang soleh-pen) telah dituliskan dalam kitab syar'i (taqdir syar'iyah) dan kitab Qodari (taqdir kauniyah), dan hal itu pasti terwujud." (Tafsir Ibnu katsir, 3/201).

Pada ayat lain Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik." (QS. An Nur: 55)

Dan pada ayat lain Allah ta'ala berfirman:

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegaknya para saksi (hari Qiyamat)." (QS. Ghofir: 50)

Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan inilah sebagian dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.

Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya kita dapatkan dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan dengan tanpa syarat. Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai dengan dua syarat:

1. Syarat Pertama: Iman.
2. Syarat Kedua: Amal saleh.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Karena para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka- sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang paling banyak menegakkan perintah-perintah Allah, dan paling ta'at kepada Allah Azza wa Jalla, maka pertolongan yang mereka dapatkan sesuai dengan amalan mereka. Mereka menegakkan kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil menguasai umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka melakukan kekurangan dalam sebagian syari'at, maka kejayaan mereka berkurang selarang dengan amalan mereka." (Tafsir Ibnu katsir, 3/302)

Sebenarnya, lembaran sejarah yang sedang dijalani oleh umat Islam pada zaman sekarang, tidaklah lebih berat bila dibandingkan dengan lembaran sejarah yang dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama sahabatnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, dan dan disakiti serta diperangi. Ada dari sahabatnya yang dibunuh dengan cara-cara sadis nan bengis, sebagaimana yang dialami oleh sahabat Yasir & Sumayyah. Ada dari mereka yang disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan, sebagaimana yang dialami oleh Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arat, Bilal dll.

Menjalani tantangan yang sangat berat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap tegar meniti setiap tahapan dakwah, tanpa kenal lelah atau kecil hati. Beliau berjuang sekuat tenaga guna mewujudkan kedua persyaratan diatas pada sahabatnya.

Dan tatkala ada dari sebagian dari sahabatnya yang merasa bahwa jalan menuju kejayaan terlalu panjang, dengan tegar beliau kembali menegaskan bahwa bila kedua persyaratan di atas telah terealisasi, maka jalan menuju kejayaan sangatlah pendek. Mari kita simak beberapa bukti akan hal ini:

Abul 'Aliyah menyatakan bahwa ayat 55 surat An Nur di atas diturunkan pada awal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya diperintahkan untuk berperang, sehingga beliau dan para sahabatnya senantiasa dalam keadaan khawatir akan serangan musuh. Oleh karenanya, mereka senantiasa menenteng senjata, sampai-sampai salah seorang sahabat berkata kepada beliau: "Akankah selama-lamanya kita akan berada dalam ketakutan semacam ini?, mungkinkah akan datang suatu saat yang aman sehingga kami pun meletakkan senjata? Maka Nabipun menjawab: "Tidaklah kalian bersabar melainkan hanya dalam waktu yang singkat, sampai akan datang suatu masa, yang padanya salah seorang dari kamu akan duduk berongkang-ongkang di tengah keramaian manusia, sedangkan tidak sepotong besi pun (senjata) ada bersama mereka," kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir At Thobary, 18/159)

Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiyallahu 'anhu, bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sedang berbaring di bawah naungan Ka'bah berbantalkan selimutnya. Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau: "Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?" Maka beliau menjawab: "Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang ditimbun dalam tanah, kemudian didatangkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Siksa itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau ototnya, akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. Sungguh demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada penunggang kendaraan dari Shanaa' hingga ke Hadramaut, sedangkan ia tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya. Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang terburu-buru."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada kisah ini kembali menggugah keimanan Khabbab kepada janji Allah. Sebagaimana Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga menegur sahabat Khabbab agar meninggalkan sikap terburu-buru dalam perjuangan di jalan Allah.

Bila sahabat Khabbab radhiyallahu 'anhu yang hanya meminta agar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memohonkan pertolongan dan berdoa, dinyatakan terburu-buru, maka bagaimana halnya dengan sikap banyak dari umat Islam pada zaman ini. Dari mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi, pengeboman, pendirian partai politik, dan menggalang dukungan dari siapapun, serta berkoalisi dengan partai apapun, tanpa peduli dengan asas dan idiologinya. Semua ini mereka lakukan di bawah slogan: Menyegerakan kejayaan bagi umat Islam?!! Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?! Memperjuangkan nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang berkata: Bila umat islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan menjamin nasib mereka?!

Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar jaminan dan janji Allah di atas. Seusai perjanjian Hudaibiyyah ditandatangani, sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu yang tidak kuasa melihat sahabat Abu Jandal radhiyallahu 'anhu diserahkan kembali ke orang-orang Quraisy, berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Bukankah engkau adalah benar-benar Nabiyullah?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya." Umar pun kembali berkata: "Bukankah kita di atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas kebatilan?" Nabi pun menjawab: "Ya!" Umar pun berkata: "Lalu mengapa kita pasrah dengan kehinaan dalam urusan agama kita, bila demikian adanya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, dan aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku." Umar kembali berkata: Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Ka'bah, kemudian berthowaf di sekelilingnya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan bahwa kita akan mendatangai Ka'bah pada tahun ini?" Umar pun menjawab: "Tidak." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menimpalinya: "Sesungguhnya engkau akan mendatangainya, dan akan bertowaf mengelilinginya." (Muttafaqun 'alaih)

Pada kisah ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusaha meneguhkan kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji Allah agar tidak tergoyah. Dan mengungatkannya agar bersabar dalam menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap taat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikianlah seyogyanya pertolongan Allah ta'ala digapai. Yaitu dengan keimanan yang benar dan kokoh dan kesabaran yang teguh. Allah ta'ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As Sajdah: 24)

Ibnul Qayyim berkata: "Pada ayat ini Allah ta'ala mengabarkan bahwa Ia telah menjadikan mereka (pengikut nabi Musa-pen) sebagai pemimpin-pemimpin yang dijadikan panutan oleh generasi setelah mereka, berkat kesabaran dan keyakinan mereka. Sebab dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai. Karena seorang penyeru kepada jalan Allah ta'ala, tidaklah akan terealisasi cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan kebenaran misi yang ia serukan, ia menguasai ilmu tentangnya. Ia juga bersabar dalam menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah menahan beban dakwah dan menahan diri dari segala hal yang akan meluluhkan tekad dan cita-citanya. Barang siapa demikian ini halnya, maka ia termasuk para pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah ta'ala." (I'ilamul Muwaqi'in, 4/135)

Kisah antara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sahabat Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu di atas, tentu tidak selaras dengan doktrin sebagian orang bahwa: yang paling penting sekarang ini adalah kita bergerak, umat islam harus bertindak, sekarang ini bukan lagi saatnya untuk menyoal tentang asma' was sifat, sunnah, atau bid'ah, sedangkan saudara kita di sana dibantai, di sini ditindas, disana diserang dst. Sekarang ini bukan saatnya untuk bertanya sunnah atau bid'ah? Sekarang ini saatnya kita bersatu, menggalang dukungan, melupakan segala perbedaan, dan berusaha mencari titik temu, dst.

Doktrin ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang yang tidak mengenal keagungan Allah ta'ala:

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya kalian mengerjakan berbagai amalan, yang di mata kalian lebih lembut dibanding rambut, padahal kami dahulu semasa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapnya sebagai amalan yang membinasakan." (Riwayat Bukhari)

Tatkala Kholifah Umar bin Al Khotthab terluka akibat tusukan Abu Lu'lu'ah Al Majusi, ia dijenguk oleh seorang pemuda yang berkata: "Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah untukmu; engkau telah menjadi sahabat Rasulullah, dan banyak berjasa untuk Islam sebagaimana yang engkau ketahui sendiri, kemudian engkau dipilih menjadi pemimpin, dan engkau pun berlaku adil, kemudian engkau mati syahid. Umar pun menjawab: "Aku berandai-andai itu semua cukup, tidak atasku dan juga tidak untukku." Tatkala pemuda itu telah berpaling, ternyata sarungnya menyentuh tanah. Umar pun berkata: "Panggillah kembali pemuda itu," lalu ia berkata kepadanya: "Wahai anak saudaraku! Naikkanlah bajumu, karena dengan cara itu bajumu akan lebih awet, dan engkau lebih bertaqwa kepada Rabb-mu." (Riwayat Bukhari)

Pada akhir hayatnya, Kholifah Umar bin Khatthab masih juga perhatian dengan masalah isbal. Beliau atau sahabat lainnya yang hadir kala itu tidak ada yang berkata: "Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang isbal, sekarang saatnya berbicara tentang calon pengganti khalifah," atau ucapan yang semakna.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkirim surat kepada salah seorang panglimanya:

"Hendaknya engkau senantiasa bertakwa kepada Allah dalam setiap situasi yang engkau hadapi, karena ketakwaan kepada Allah adalah senjata paling ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling hebat. Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi musuh dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah. Karena perbuatan dosa lebih aku khawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh mereka. Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas mereka berkat tindak kemaksiatan mereka. Kalaulah bukan karena itu, niscaya kita tidak kuasa menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak seimbang dengan jumlah mereka, kekuatan kita tidak setara dengan kekuatan mereka. Bila kita tidak mendapat pertolongan atas mereka berkat kebencian kita terhadap kemaksiatan mereka, niscaya kita tidak dapat mengalahkan mereka hanya dengan kekuatan kita.

Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai permusuhan seseorang dibanding kewaspadaanmu terhadap dosa-dosamu sendiri. Janganlah kalian lebih serius menghadapi mereka dibanding menghadapi dosa-dosa kalian.

Ketahuilah bahwa kalian senantiasa diawasi oleh para malaikat pencatat amalan. Mereka mengetahui setiap perilaku kalian sepanjang perjalanan dan peristirahatan kalian. Hendaknya kalian merasa malu dari mereka, dan berlaku santun di hadapan mereka. Jangan sekali-kali menyakiti mereka dengan tindak kemaksiatan kepada Allah, padahal kalian mengaku sedang berjuang di jalan Allah.

Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa: "Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita, sehingga tidak mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun kita berbuat dosa. Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang lebih jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut."

Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi diri kalian, sebagaimana kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam menghadapi musuh kalian. Sebagaimana kami pun turut memohon hal tersebut untuk diri kita dan juga untuk kalian." (Hilyatul Auliya', 5/303)

Subhanallah, suatu pesan yang layak untuk dituliskan dengan tinta emas, dan dibacakan kepada setiap orang yang di hatinya sedang berkobar-kobar api perjuangan demi Islam. Sudah sepantasnya pesan ini diajarkan kepada setiap pemuda Islam yang ingin memperjuangkan nasib Islam dan umatnya.

Kisah peperangan uhud dan peperangan Hunain adalah contoh kecil bagi ucapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz: Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa: "Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita,..."

Pada perang Uhud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama sahabatnya menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang ke madinah guna membalas dendam atas kekalahan mereka pada perang Bader. Sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanggar perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak meninggalkan pos penjagaan mereka di atas gunung, walau terjadi kejadian apapun. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

كونوا مكانكم لا تبرحوا وإن رأيتم الطير تخطفنا

"Tetaplah kalian berada di pos kalian, dan janganlah kalian berhanjak pergi, walaupun kalian menyaksikan burung-burung telah menyambar-nyambar kami." (Al Baihaqy dll)

Akan tetapi perintah ini oleh sebagian sahabat yang bertugas menjaga pos di atas gunung dilanggar. Mereka berdalih, perang telah usai, dan musuh mulai lari tunggang-langgang, sehingga mereka merasa perlu untuk ikut mengumpulkan rampasan perang dan menawan musuh yang berhasil di tangkap. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian sahabat ini, terjadilah kekalahan dan petaka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terluka dan terjatuh hingga pingsan, lebih dari tujuh puluh sahabat terbunuh dll.

Pada kisah ini, sebagian sahabat melanggar perintah untuk ittiba' (meneladani dan mentaati) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan pada perang Hunain, sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalai akan Allah, sehingga mereka merasa percaya diri dan beranggapan tidak akan terkalahkan, karena jumlah mereka banyak. Sebagaimana Allah kisahkan hal ini dalam surat At Taubah 25:

(لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ)

"Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu terperdaya oleh banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai." (QS. At Taubah: 25)

Pada kisah ini sebagian sahabat yang merasa percaya diri dengan jumlah pasukan dan melalaikan tawakal kepada Allah, maka mereka ditimpa kekalahan, walaupun akhirnya para sahabatnya yang telah kokoh keimanannya, segera kembali dan berjihad melawan musuh. Dan akhirnya Allah ta'ala melimpahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabatnya kemenangan. Pada kisah ini, kaum muslimin terkalahkan pada awal peperangan, akibat rasa ujub dan lupa tawakal, sehingga terjadi kekeliruan dalam hal tauhid kepada Allah.

Bila kita sedikit menoleh kepada realita umat Islam pada zaman kita ini, maka kita dapatkan sangat jauh beda. Bukan sekedar dosa-dosa kecil yang diremehkan, akan tetapi berbagai dosa besar bahkan syirik pun tidak lagi diperdulikan. Berapa ribu kuburan yang dikeramatkan? Berapa juta ajimat dikantongi umat islam? Berapa ribu para normal dan para tidak normal bebas membuka praktek umum. Berapa ribu habib dan kiayi bebas mengajarkan bid'ah dan kesesatannya? Adakah orang yang merasa terusik, atau menggalang kekuatan dan dukungan untuk mengingkari itu semua?

Kebanyakan umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan jabatan dan perebutan jatah kursi. Mereka sewot bila ada pejabat yang korupsi, akan tetapi tidak pernah sewot sedikit pun bila ada kuburan yang dikultuskan, atau bid'ah yang diajarkan.

Sebenarnya fakta ini bukanlah hal baru, akan tetapi senantiasa terjadi di sepanjang masa, mari kita simak kisah berikut:

"Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu ia menuturkan: Datang kepadaku salah seorang dari anshar (penduduk Madinah) pada masa khilafah Utsman, kemudian ia berbicara kepadaku, ternyata ia memerintahkanku untuk mencela Utsman, dan ia adalah orang yang lisannya berat (susah berbicara) sehingga ia tidaklah dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas, dan ketika ia telah selesai berbicara, sayapun menjawab: "Dahulu kami (para sahabat), semasa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Orang paling utama dari umat ini ialah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan sungguh demi Allah, kami tidaklah mengetahui bahwa Utsman pernah membunuh seorang jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, tidak juga pernah melakukan dosa besar. Akan tetapi yang menjadi permasalahan ialah harta kekayaan ini (harta kekayaan khilafah/ negara), bila ia memberikannya kepada kalian, kalian ridha, dan bila ia berikannya kepada karib kerabatnya kalian menjadi murka. Sesungguhnya kalian ini ingin menjadi seperti orang-orang Persia dan Romawi, mereka tidaklah pernah memiliki seorang pemimpin, melainkan mereka bunuh sendiri." (Riwayat Ahmad, Al Khollah dan At Thobrani)

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya cukupkan dengan menyebutkan hadits berikut:

لئن أنتم اتبعتم أذناب البقر وتبايعتم بالعينة وتركتم الجهاد في سبيل الله ليلزمنكم الله مذلة في أعناقكم ثم لا تنزع منكم حتى ترجعون إلى ما كنتم عليه وتتوبون إلى الله. رواه أحمد وأبو داود والبيهقي وصححه الألباني

"Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi, berjual beli dengan cara 'inah (Jual beli 'Inah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu barang dengan pembayaran di hutang, kemudian seusai barang diserahkan, segera penjual tadi membeli kembali barang tersebut dengan harga yang lebih murah dan dengan pembayaran kontan.)dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk- tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Albany). Wallahu a'lam bisshowab.

***

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri
Update Terakhir ( Ahad, 27 Januari 2008 )
Sumber : www.muslim.or.id

Jumat, Januari 11, 2008

NASEHAT BAGI PARA DA’I SALAFI

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Diantara adab para da’i yang wajib untuk mereka jalankan, adalah tolong menolong diantara mereka. Dan tidak selayaknya mereka berkeinginan agar ucapannya saja yang diterima dan harus didahulukan dari pada orang lain. Tapi semestinya keinginan seorang da’i adalah agar dakwah (kebenaran), diterima baik lewat dirinya atau orang lain. Selama keinginan anda adalah tegaknya agama (di muka bumi) maka jangan anda perdulikan darimana kebenaran itu akan menyebar, apakah dari anda atau yang lain.

Memang benar bahwa seseorang berkeinginan agar kebaikan itu berada ditangannya, tapi tidak boleh dia membenci kalau seandainya kebaikan itu juga ada ditangan orang lain. Yang wajib baginya adalah agar agama Allah tegak darimana saja datangnya
. Jika seorang dai telah membangun pemikirannya diatas kaidah ini, maka dia akan membantu saudaranya dalam berdakwah di jalan Allah meskipun manusia lebih banyak condong kepada orang lain dari pada dirinya.

Yang wajib bagi para da’i adalah bergotong royong diantara mereka dan saling bermusyawarah, berpijak di atas satu pijakan dan berjuang karena Allah, baik berdua-dua, atau bertiga atau berempat [Saba : 46]

Jika kita telah melihat bahwa para da’i penyesat bisa bersatu dan bahu-membahu, maka mengapa da’i kebenaran tidak mengamalkan hal ini? Agar mereka bisa nasehat-menasehati kalau ada yang salah, baik dalam keilmuan maupun metode dakwah atau yang lainnya.

Seandainya kita mau memperhatikan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah maka kita akan menghadapi bahwasanya Allah Ta’ala telah mensifati orang-orang mukmin dengan saifat-sifat yang menunjukkan bahwa mereka itu saling bersatu dan tolong menolong. Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Raul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [At-Taubah : 71]

Dan Allah juga berfirman.

“Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka, mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” [Ali-Imran : 104-105]

Sesungguhnya setan merasukkan kedalam hati seorang da’i, kebencian terhadap da’i semisalnya jika sukses dalam berdakwah. Dia tidak senang jika ada yang berhasil sepertinya dalam berdakwah, bahkan dia amat benci jika orang lain lebih maju dan lebih diterima oleh manusia. Oleh karena inilah Syaikhul Islam rahimahullah berkata tentang definisi hasad : “Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat Allah yang dianugerahkan kepada orang lain. Meskipun yang masyhur dikalangan para ulama bahwa hasad adalah keinginan seseorang akan hilangnya nikmat dari orang lain. Kita katakan sekali lagi bahwa hasad adalah kebencian (seseorang) akan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada orang lain baik orang tersebut berkeinginan untuk menghilangkan nikmat tersebut atau tidak”.

Wahai da’i, wajib bagimu untuk menolong saudaramu sesama da’i dalam dakwah, meskipun dia lebih sukses dan berhasil darimu dalam dakwah, selama anda hanya menginginkan tegaknya agama Allah.

Kemudian ketahuilah wahai saudaraku, bahwa para da’i penyesat menginginkan agar para da’i kebenaran terpecah belah, karena mereka tahu bahwa bersatunya (para da’i kebenaran) adalah sebab keberhasilan, sedangkan perpecahan mereka adalah sebab kegagalan. Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” [Al-Anfal : 46]

Tidak diragukan lagi bahwa setiap kita pasti memiliki kesalahan, oleh karenanya kita wajib tolong menolong dalam menghilangkan kesalahan tersebut, dengan cara saling berkomunikasi dan menjelaskan kesalahan tersebut. Mungkin kita menyangka itu adalah kesalahan tapi sebenarnya tidak, maka dengan cara inilah (komunikasi) kita akan tahu mana yang salah.

Adapun menjadikan kesalahan sebagai senjata untuk mencaci-maki dan menjauhkan manusia dari orang tersebut, maka itu bukanlah termasuk ciri orang-orang beriman terlebih sebagai seorang da’i.

Pada akhir-akhir ini (sebagian) pemuda –alhamdulillah- mulai berjalan di atas garis yang lurus dalam berdakwah, akan tetapi ada kesalahan di dalamnya yaitu mereka berpegang teguh dengan pendapat mereka sendiri tanpa memperdulikan pendapat yang lain (dari kalangan ulama -pent), bahkan diantara mereka bersikap ujub dengan ilmu dan pemikiran yang mereka miliki meskipun kebodohan masih melekat dalam diri mereka.

Diantara kesalahannya juga, dia meremehkan orang lain dan tidak mau tunduk kepada kebenaran meskipun disebutkan kepadanya seorang imam kaum muslimin yang telah masyhur akan keilmuan, agama serta amanahnya. Dia mengatakan : “Siapa orang (alim) ini, bukankah dia lelaki dan aku juga laki-laki?!

Padahal pengakuannya sebagai laki-laki tersebut hanyalah berdasarkan kebodohannya belaka. Anda akan mendapatinya tidak bisa menggabungkan antara dalil-dalil. Dia mengambil satu dalil dan meninggalkan dalil yang lain. Dia tidak peduli jika dikatakan kepadanya : Pikirkanlah pendapatmu dan lihatlah semua dalil serta lihatlah pendapat jumhur ulama. Akan tetapi orang ini tidak mau berfikir dan menganggap yang tidak sesuai dengannya berada di atas kebatilan dan hanya dia yang berada kebenaran seolah-olah dia mendapat wahyu Ilahi.

Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah metode yang salah. Tidak boleh bagi seseorang untuk meyakini, bahwa orang lain itu pasti salah dan dialah yang benar dalam perkara yang pintu ijtihad masih terbuka. Kalau orang tersebut berkeyakinan seperti ini, maka seolah-olah dia mendudukkan dirinya di singgasana kenabian dan kesucian. Jika orang lain bisa salah maka engkau juga bisa salah, dan kebenaran yang engkau dakwahkan juga didakwahkan oleh selainmu. Dari sinilah sebagian pemuda (salafi –pent) menisbatkan dirinya kepada kelompok atau orang alim tertentu dan mengambil serta membelanya baik salah atau benar. Inilah yang menyebabkan perpecahan umat dan melemahkan kekuatan mereka. Dan hal ini menjadikan para pemuda yang berjalan di jalan agama ini sebagai bahan gunjingan dan cacian oleh kelompok sesat.

Wajib bagi kita untuk menjadi orang yang telah disifatkan oleh Allah.

“Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku” [Al-Mukminun : 52]

Dan yang wajib bagi kita adalah menyatukan barisan, tapi bukan berarti wajib untuk kita menyatukan pendapat atau harus tidak ada perselisihan (yang diperbolehkan) karena hal ini tidak mungkin terjadi. Namun saya katakan : Apabila terjadi perselisihan diantara kita dalam hal yang diperbolehkan berselisih, maka yang wajib adalah menjaga hati kita agar tidak berselisih dan hendaknya hati kita tetap bersatu serta tetap cinta-mencintai (karena Allah).

Saya contohkan misalnya dalam masalah yang ringan jika dibandingkan dengan masalah penting dalam Islam yaitu duduk (istirahat) dalam shalat ketika akan naik ke raka’at kedua atau keempat,disini para ulama sebagiannya menganggap sunnah dan sebagian lagi menganggap bukan sunnah dan sebagian lagi memperinci permasalahan.

Perselisihan ini sudah masyhur, akan tetapi jika temanku dalam berdakwah berpendapat disunnahkannya duduk (istirahat) tersebut dan saya tidak sependapat dengannya, maka apakah boleh bagi kita untuk menjadikan perselisihan ini sebagai sebab kebencian kita kepada sebagian yang lain, sebagai bahan untuk kita menyebarkan (kesalahan-kesalahannya)? Tidak, demi Allah ini tidaklah diperbolehkan. Apabila para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum berselisih dalam masalah yang lebih besar dari ini, sedang mereka tidak pernah mentahdzir sebagian yang lain serta tidak saling membenci, maka mengapa kita saling membenci hanya karena masalah yang sepele jika dibandingkan dengan masalah yang lebih penting lagi dalam agama ini?!

Tidaklah kebanyakan kita mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pulang dari perang Ahzab dan datang Jibril kepada beliau memerintahkan agar beliau pergi ke Bani Quraizhah karena mereka telah membatalkan perjanjian, maka beliau memerintahkan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum berangkat ke Bani Quraizhah seraya berkata : “Janganlah salah seorang dari kalian shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah” [HR. Bukhari]. Merekapun berangkat dari Madinah dan ketika waktu shalat Ashar tiba sebagian mereka mengatakan : “Kita tidak boleh shalat Ashar melainkan di Bani Quraizhah, hingga merekapun menunda shalat Ashar sampai diluar waktunya. Dan sebagian yang lain mengatakan : Kita shalat Ashar pada waktunya meskipun kita belum sampai di Bani Quraizhah. Hal ini pun terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi beliau tidak menyalahkan seorangpun dari mereka dan mereka tidak saling membenci satu sama lain meskipun perselisihan tersebut lebih berat dibandingkan perselisihan dalam masalah duduk (istirahat) ketika akan naik ke raka’at kedua atau keempat.

Yang saya harapkan dari saudara-saudaraku para da’i adalah agar mereka tidak menjadikan permasalahan yang pintu ijihad masih terbuka di dalamnya sebagai sebab perpecahan, hizbiyyah dan saling menuding sesat orang yang tidak sependapat dengannya, karena ini akan melemahkan kekuatan mereka dimata para musuh. Kalian sudah mengetahui, bahwa disana banyak musuh yang mengintai kita, akan tetapi baragsiapa yang Allah selalu bersamanya maka akan baik akibatnya dan dia akan ditolong di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)” [Ghofir : 51]

Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadikanku dan kalian semua sebagai penolong agama-Nya, dan sebagai da’i yang selalu berada di atas ilmu serta selalu merahmati kita semua, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pemberi.

[Majalah Al-Asholah, Edisi 51 oleh Abu Abdurrohman As-Salafi Lc]

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol. 5 No. 2 Edisi 26 Muharram 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]