web 2.0

Rabu, Juni 04, 2008

Membongkar Jaringan AKKBB

Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi wasallam. Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad ini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

  • Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

  • National Integration Movement (IIM)

  • The Wahid Institute

  • Kontras

  • LBH Jakarta

  • Jaingan Islam Kampus (JIK)

  • Jaringan Islam Liberal (JIL)

  • Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)


  • Generasi Muda Antar Iman (GMAI)

  • Institut Dian/Interfidei

  • Masyarakat Dialog Antar Agama

  • Komunitas Jatimulya

  • eLSAM

  • Lakpesdam NU

  • YLBHI

  • Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika

  • Lembaga Kajian Agama dan Jender

  • Pusaka Padang

  • Yayasan Tunas Muda Indonesia

  • Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

  • Crisis Center GKI

  • Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)

  • Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)

  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)

  • Gerakan Ahmadiyah Indonesia

  • Tim Pembela Kebebasan Beragama


  • El Ai Em Ambon

  • Fatayat NU

  • Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta

  • Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali

  • Koalisi Perempuan Indonesia

  • Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya

  • Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta

  • Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo

  • SHEEP Yogyakarta Indonesia


  • Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya

  • Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya

  • LSM Adriani Poso

  • PRKP Poso

  • Komunitas Gereja Damai

  • Komunitas Gereja Sukapura

  • GAKTANA

  • Wahana Kebangsaan

  • Yayasan Tifa


  • Komunitas Penghayat

  • Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB

  • Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok

  • Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo

  • Crisis Center SAG Manado

  • LK3 Banjarmasin

  • Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar

  • Jaringan Antar Iman se-Sulawesi

  • Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin


  • PERCIK Salatiga

  • Sumatera Cultural Institut Medan

  • Muslim Institut Medan

  • PUSHAM UII Yogyakarta

  • Swabine Yasmine Flores-Ende

  • Komunitas Peradaban Aceh

  • Yayasan Jurnal Perempuan

  • AJI Damai Yogyakarta

  • Ashram Gandhi Puri Bali


  • Gerakan Nurani Ibu

  • Rumah Indonesia



kunjungannya Gus Dur awal Mei 2008 lalu ke ISrael menerima penghargaan dari Simon Wiesenthal Center. Simon Wiesentel Center adalah sebuah LSM terkenal di Amerika Serikat yang melindungi kaum Yahudi internasional.


Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com , Islamlib.com dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari 'The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz/eramuslim)



Di saat umat Islam berjuang membebaskan tanah Palestina, para cendikiawan "liberal" justru "berjabat tangan" dengan Israel dan menemui Shimon Peres. Nampak Dr. Syafiq Mughni dan Abdul A'la [NU] menghadiri upacara keagamaan Yahudi



sumber : swaramuslim.com

Sabtu, Mei 24, 2008

Mengoreksi Para Penguasa Dari Atas Mimbar, Penggerebekan Dan Penghancuran Tempat Maksiat

HUKUM MENGOREKSI PARA PENGUASA DARI ATAS MIMBAR


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah mengoreksi para penguasa melalui mimbar termasuk manhaj para salaf (ulama terdahulu)? Bagaimana cara mereka menasehati para penguasa?

Jawaban.
Mengekspos aib para penguasa dan mengungkapkannya di atas mimbar tidak termasuk manhaj para ulama dahulu, karena hal ini bisa menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan tidak dipatuhi dan didengarnya nasehat untuk kebaikan, di samping dapat melahirkan kondisi berbahaya dan sama sekali tidak berguna. Cara yang dianut oleh para ulama dahulu adalah dengan memberikan nasehat secara khusus, yaitu antara mereka dengan para penguasa, atau dengan tulisan, atau melalui para ulama yang biasa berhubungan dengan mereka untuk mengarahkan kepada kebaikan.

Mengingkari kemungkaran tidak perlu dengan menyebutkan pelaku. Mengingkari perbuatan zina, riba dan sebagainya, tidak perlu dengan menyebutkan pelakunya, cukup dengan mengingkari kemaksiatan-kemaksiatan tersebut dan memperingatkannnya kepada masyarakat tanpa perlu menyebutkan bahwa si fulan telah melakukannya. Hakim pun tidak boleh menyebutkan begitu, Apalagi yang bukan hakim.

Ketika terjadi suatu fitnah di masa pemerintahan Utsman, ada orang yang bertanya kepada Usaman bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu :

"Tidakkah engkau memprotes Utsman?" la menjawab, "Aku tidak akan memprotesnya di hadapan masyarakat, tapi aku akan memprotesnya antara aku dengan dia, aku tidak akan membukakan pintu keburukan bagi masyarakat"

Tatkala orang-orang membeberkan keburukan di masa pemerintah Utsman Radhiyallahu ‘anhu, yang mana mereka memprotes Utsman dengan terang-terangan, sehingga merebaklah petaka, pembunuhan dan kerusakan, yang sampai kini masih membayang pada ingatan manusia, hingga terjadinya fitnah antara Ali dengan Mu'awiyah, lalu terbunuhnya Utsman dan Ali karena sebab-sebab tersebut dan terbunuhnya sekian banyak shahabat dan lainnya karena protes yang terang-terangan dan menyebutkan aib dengan terang-terangan, sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat terhadap pemimpin mereka, yang akhirnya membunuh sang pemimpin. Semoga Allah memberikan keselamatan kepada kita semua.

[Huququr Ra' i war Ra’iyah, hal. 27-28, Syaikh Ibnu Baz]

MENGINGKARI KEMUNGKARAN BAGI PENGUASA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada sebagian orang yang tidak takut kecuali dengan kekerasan. Apa yang harus dilakukan terhadapnya?

Jawaban.
Memang, ada sebagian orang yang tidak takut kecuali dengan kekerasan. Hanya saja, kekerasan yang tidak membuahkan kemaslahatan dan hanya melahirkan yang lebih buruk, tidak boleh digunakan, karena yang harus dilakukan adalah dengan hikmah. Kekerasan yang berupa pukulan dan penjara hanya boleh dilakukan oleh para penguasa. Adapun manusia biasa hanya bertugas menjelaskan kebenaran dan mengingkari kemungkaran. Sedangkan merubah kemungkaran, lebih-lebih dengan tangan, ini dibebankan kepada para penguasa, merekalah yang berkewajiban merubah kemungkaran sejauh kemampuan, karena mereka yang bertanggung jawab terhadap perkara ini.

Jika seseorang ingin merubah kemungkaran dengan tangannya setiap kali melihat kemungkaran, tentu hal ini akan melahirkan kerusakan. Karena itu, harus mengikuti hikmah dalam perkara ini. Anda bisa merubah kemungkaran di rumah yang di bawah kekuasaan anda, tapi merubah kemungkaran di pasar dengan tangan, bisa menimbulkan hal yang lebih buruk daripada kemungkaran tersebut. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya anda menyampaikan kepada yang mempunyai kemampuan untuk merubah kemungkaran di pasar itu.

[Kitabud Da'wah, 6, Syaikh Ibn Utsaimin (1/38-39)]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

PENGGEREBEKAN DAN PENGHANCURAN TEMPAT MAKSIAT


Oleh
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili



Pertanyaan
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili ditanya : Apakah kami diperbolehkan merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan, seperti menghancurkan lokasi-lokasi pelacuran dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia?

Jawaban
Ini tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak waliyul amr (umara). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya”

Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadits ini, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini?

Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syar’iyah. Yang berhak melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syar’iyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain. Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran

Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para da’i, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat.

[So’al-jawab Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 27 Jumadil Akhir 1427H]

almanhaj.or.id





Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Saat ini, keberadaan maksiat dipandang sebagai sebuah tradisi yang wajar. Bahkan dianggap kebutuhan pokok oleh sekelompok orang. Walhasil, pancaindera kita pun akrab dengan pelbagai bentuk kemaksiatan. Mulai dari yang kecil hingga yang serius. Padahal Islam mengajarkan, maksiat betapa pun kecil dan remeh bentuknya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan pribadi pelakunya dan masyarakat. Tak hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia.


Mungkin seorang yang bermaksiat mendapatkan kesenangan saat melakukan kemaksiatan itu. Mungkin juga ia mendapatkan kenikmatan yang dirasakan ketika tengah berkubang dalam kemaksiatan tersebut. Namun, kesenangan yang dirasakannya itu hanyalah kesenangan yang menipu.

Kenikmatan yang dirasakan itu tak lain adalah kenikmatan palsu. Semua itu karena pelaku maksiat tersebut hanya akan membuat murka Allah, Dzat yang telah menciptakan dirinya. Sekaligus menantang permusuhan kepada-Nya. Pelaku maksiat juga telah menyerobot sesuatu yang bukan menjadi hak dia untuk dikerjakan. Sehingga, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan damai? Dan bagaimana jiwanya bisa tenang? Sedangkan Allah سبحانه وتعلى berfirman di dalam Al-Qur’an, artinya:

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa: 14).

PENYEBAB UTAMA KEMAKSIATAN
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang besar maupun yang kecil ada tiga, yaitu:

Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah. Kedua, menuruti dorongan amarah. Ketiga, menuruti dorongan syahwat. Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan keji.

Bentuk keterkaitan hati kepada selain Allah cabang-cabangnya begitu banyak dan tingkatan tertinggi di cabang tersebut ialah syirik serta mengakuai keberadaan ilah selain Allah. Sedangkan bentuk menuruti dorongan amarah juga memiliki cabang-cabang di ataranya membunuh jiwa yang diharamkan Allah, inilah cabang tertinggi. Dan bentuk menuruti dorongan syahwat yang tertinggi dalam cabang-cabangnya ialah melakukan perbuatan zina. Oleh karena itulah Allah mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,…" (QS. Al-Furqan: 68).

Ketiga perbuatan di atas saling tarik menarik. Syirk menarik seseorang kepada kezhaliman dan perbuatan keji, sebagaimana ikhlas dan tauhid akan menjauhkan seseorang dari kezhaliman dan kekejian itu. Demikian juga kezhaliman, ia menarik seseorang pada syirik dan pebuatan keji, sebab syirik adalah puncak dari segala kezhaliman seperti yang difirmankan oleh Allah:

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Dan perbuatan keji itu sendiri juga dapat menyeret pelakunya kepada perbuatan syirik dan kezhaliman. Ketiganya saling berkaitan, yang satu mengajak kepada yang lain. Jika perbuatan ketiga di atas ada di dalam diri seseorang maka itu adalah akar dari kemaksiatan yang akan menjadi besar ketika seseorang itu tidak mengetahuinya.

AKIBAT MAKSIAT
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberitahukan kepada kita, bahwa perbuatan dosa dan maksiat bisa membahayakan hati seseorang. Efek ini akan semakin parah jika pelaku kemaksiatan itu makin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, serta enggan beristighfar dan bertaubat. Sebaliknya, efek negatif ini akan semakin menyusut seiring dengan berkurangnya maksiat, disertai dengan istghfar dan taubatan nashuha.

Di hari kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dahsyatnya hari tersebut, kecuali orang yang menghadap Rabb-nya dengan hati yang bersih dari syubhat yang menyesatkan, dan syahwat yang mencelakakan. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,

"Di hari harta dan anak-anak laki-laki tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-syu’ra : 88-89).

Dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga menggambarkan hati seseorang ketika melakukan kemaksiatan dan seseorang yang sering beristghfar, beliau bersabbda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُه
ُ


"Sesungguhanya seorang mukmin jika melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya noktah hitam. Maka jika ia tidak mengulanginya lagi dan beristighfar dan bertaubat, hatinya akan kembali putih bersih." (HR. Ahmad).

Begitulah gambaran orang-orang yang melakukan kemaksiatan, apabila seorang pelaku maksiat terus-menerus mengerjakan dosa, maka perbuatannya itu akan menutup hatinya sehigga ia tidak dapat menerima kebenaran kecuali dengan izin-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ran (tutup) seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, artinya,

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Jadi orang-orang yang sering melakukan maksiat maka hatinya akan sulit menerima kebenaran, walaupun seluruh manusia dan jin dikumpulkan di permukaan bumi ini untuk memberikan ketenangan pada hatinya atau kebenaran maka mereka takkan sanggup. Karena hanya Allahlah yang dapat memberikan ketenangan hati kepada hamba-hamba-Nya.

Allah سبحانه وتعلى juga mengancam dengan neraka Jahannam-Nya bagi orang-orang yang tidak mempergunakan hatinya, matanya dan telinganya dengan baik. Seperti di dalam firman-Nya, artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan menusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raf: 179).

MAKSIAT BESELUBUNG TAKDIR
Pelaku maksiat ketika ditanyakan kepadanya, mengapa Anda terus-menerus melakukan kemaksiatan? Maka mereka pun berdalih, “Kalau memamang Allah telah menakdirkanku untuk berbuat maksiat sebelum aku diciptakan bahkan sebelum langit dan bumi diciptakan bagaimana mungkin aku menghindari sesuatu yang telah ditakdirkan-Nya terjadi padaku?" Maka apa jawaban kita kepada mereka yang berdalih seperti itu?

Dengan tegas kita katakan kepadanya bahwa Al Qur’an telah menjelaskan kebatilan dalih mereka. Juga telah mematahkan anggapan dan pemahaman keliru mereka, serta menerangkan bahwa semua itu tidak ada gunanya bagi mereka pada hari kiamat kelak. Masalah takdir adalah masalah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah. Masalah takdir baru akan diketahui oleh selain-Nya setelah takdir tersebut terjadi. Lalu dari mana seorang pelaku maksiat mengetahui kalau Allah telah menakdirkannya melakukan maksiat, sehingga ia dengan sesuka hati melakukan kemaksiatan?

Allah سبحانه وتعلى telah memuliakan manusia dengan memberikan mereka akal dan pemahaman. Dia juga telah menurunkan kitap suci dan mengutus para rasul untuk memberikan penjelasan kepada kaumnya agar mereka mudah memahami dengan benar antara yang haq dan yang batil. Tidak hanya sampai di situ, Allah سبحانه وتعلى juga menganugerahkan kepada hamba-Nya rasa iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan), di mana keduanya bisa ia pergunakan untuk menempuh salah satu jalan dari dua jalan yang ada.


Misalnya, ketika seseorang diperhadapkan dengan suatu masalah. Yaitu ketika seseorang ingin mengadakan suatu perjalanan ke suatu negeri, dan dia memiliki dua alternatif jalan yang bisa dilewatinya. Yang pertama, jalan yang sangat mudah lagi aman. Sedangkan jalan yang kedua, jalan yang sulit dan penuh bahaya, maka secara akal sehat pasti orang itu lebih memilih jalan yang pertama dan tidak memilih melewati jalan yang kedua. Bukankah seandainya jika dia memilih jalan yang kedua dan berdalih bahwa yang demikian sudah ditakdirkan oleh Allah terjadi padanya, tentulah orang-orang akan mengatakan kepadanya sebagai orang yang tidak memiliki “akal sehat”? Mengapa? Karena ia sudah tahu masalah tersebut sebelum ia mengerjakanya. Jadi ketika suatu kemaksiatan yang sudah diketahui dampak keburukannya bagi seseorang, mengapa masih dikerjakan?


Sebenarnya persoalan ini sudah jelas titik terangnya. Namun hawa nafsu pelaku maksiat itulah yang membutakan dan menulikan jiwanya. Dan dalih yang dipakai oleh si pelaku maksiat untuk membenarkan maksiatnya kepada Allah itu tidak bisa dibenarkan, karena ia melakukan kemaksiatan itu dengan sengaja. Ia sebenarnya tidak tahu apakah hal tersebut telah ditakdirkan oleh Allah terjadi pada dirinya. Sebab memang tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hal itu kecuali Allah, atau hal itu benar-benar telah terjadi. Sebagai mana firman-Nya,


"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok…" (QS. Luqman: 34).


Jika demikian halnya, maka bagaimana mungkin bisa dibenarkan seseorang yang berdalih dengan hal-hal yang tidak diketahuinya ketika ia telah melakukan maksiat, kemudian menginginkan dispensasi untuk maksiatnya tersebut?


TAUBAT SEBELUM AJAL

Iblis telah dilaknat dan diturunkan dari tempat kediamannya yang penuh kemulian hanya karena dia tidak mengerjakan satu sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam Alaihissalam telah dikeluarkan dari surga hanya disebabkan oleh sesuap makanan. Maka janganlah seseorang merasa aman bila kelak Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka hanya karena satu maksiat yang telah kita lakukannya. Sebagaimana firman-Nya, artinya,


"Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu." (QS. Asy-Syams: 15).


Kehidupan seseorang memang tergantung kepada amalan akhirnya yang diperbuatnya. Siapa saja yang shalat kemudian berhadats sesaat sebelum salam, maka shalatnya secara keseluruhan manjadi batal. Begitu juga orang yang di akhir kehidupannya dia melakukan dosa sesaat sebelum matinya, maka dia akan bertemu dengan Allah dengan keseluruhan usianya yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Maka adakah orang yang mengetahui akhir kehidupannya? Jika memang tidak ada, maka apalagi yang kita tunggu? Marilah kita segera bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada-Nya.Abdul Rasyid Yusuf .(Al Fikrah)